HARI ini adalah hari pernikahan Evelyn. Well, dia sama sekali tak menyangka kalau ia akan menikah secepat ini, apa lagi mengingat kalau ia belum pernah berpacaran sebelumnya.
Evelyn memasuki ruang tunggu pengantin dan terbelak ketika melihat sebuah gaun putih tengah dipajang dengan cantiknya di bawah sinar lampu terang.
Ia berjalan pelan mendekati gaun itu dan memegangnya dengan hati-hati. Ini adalah gaun terindah yang pernah Evelyn lihat selama 26 tahun hidupnya. Ia bahkan tak pernah bermimpi untuk menikah dengan gaun semewah ini.
Evelyn selalu membayangkan pernikahan sederhana dengan gaun yang biasa. Dan hari ini, Louis kembali membuatnya terpana dengan semua hal yang ia lakukan. Lelaki itu bahkan tak mau meminta persetujuan dari Evelyn karena ia tahu Evelyn pasti akan menolaknya.
Evelyn tersenyum senang dan menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Ia menemukan seorang make up artis yang tengah tersenyum lebar padanya.
"Mari kita mulai saja," ucap make up artis yang bernama Bobby itu cepat sambil membuka kotak makeupnya.
Evelyn terpana melihat kotak make up milik Bobby yang sangat lengkap dan tersusun rapi. Ia yang wanita bahkan kalah dengan Bobby yang pria tulen. Evelyn tak pernah memiliki make up sebanyak itu.
Bobby mulai mendandani Evelyn dengan tangan lincahnya. Dan Evelyn memejamkan matanya, berharap kalau ia tak akan mengecewakan Louis dengan penampilannya hari ini.
Bobby melakukan pekerjaannya dengan baik selama beberapa saat, dan setelah satu jam berlalu, Bobby mempersilakan Evelyn untuk membuka matanya karena ia sudah selesai.
Evelyn membuka kelopak matanya dengan perlahan dan mengernyit melihat pantulan cermin di depannya.
Itu dia? Sungguh? Ia sangat cantik!
Bobby terkekeh melihat Evelyn yang tampak seperti orang bodoh karena terpesona pada dirinya sendiri.
"Wajahmu itu sudah cantik meski tak pakai makeup. Dan aku sudah berhasil membuatnya lebih cantik lagi berkali-kali lipat dari sebelumnya," ucap Bobby membanggakan diri.
Evelyn mengangguk setuju. Memang benar, Evelyn tak pernah di makeup sebegini banyak sebelumnya. Dan ia tak tahu kalau makeup benar-benar bisa merubah dirinya menjadi orang lain.
"Gantilah bajumu, pesta akan segera dimulai," ucap Bobby mengingatkan sebelum ia keluar dari ruang tunggu untuk mempersilakan Evelyn ganti baju.
Evelyn mengangguk, ia mulai menganti bajunya sambil berharap cemas. Ia tak tahu apa pendapat Louis tentang penampilannya hari ini? Bagaimana kalau lelaki itu tak puas?
Evelyn menggelengkan kepalanya pelan, ia berusaha menghapus pikiran buruk yang terus menerus menyerangnya.
Semoga saja. Louis tidak kecewa padanya.
*****
Pintu altar terbuka, menampilkan Evelyn yang berjalan sendirian tanpa wali karena memang pernikahan ini di langsungkan dengan sangat tertutup.
Louis bisa melihat gadis itu tengah berjalan sambil memegang buket bunga yang sangat cantik, secantik dirinya.
Evelyn berjalan pelan dan berusaha seanggun mungkin. Meskipun pernikahan ini tertutup dan hanya menghadirkan Erick sebagai saksi serta pendeta yang akan membantu mereka, entah kenapa Evelyn merasa gugup. Ia gugup sekali seakan-akan banyak pasang mata tengah menatapinya saat ini.
Napas Louis tercekat saat Evelyn berjalan sambil memandangi dirinya, gadis itu tersenyum manis sampai matanya tak terlihat, ia terlihat sangat cantik hari ini, dan dengan gaun putih itu ia tampak seperti putri di cerita dongeng.
Louis mengigit bibir bawahnya, menahan perasaan bahagia yang membuncah begitu saja. Air mata Louis berkumpul menjadi satu saat melihat Evelyn semakin berjalan dekat dengannya. Dalam hidupnya, untuk pertama kalinya Louis menangis. Dan ia menangis bahagia karena menikahi orang yang ia cintai.
Saat Evelyn sudah berada di depan Louis, ia turun dari tangga dan memegang tangan wanita itu sambil membantunya naik.
Louis menggengam tangan itu dengan erat dan mereka berdua akhirnya sampai di hadapan pendeta.
"Saudara Louis Green, bersediakah anda mengambil saudari Evelyn Clarista sebagai istri anda, berjanji untuk saling mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di saat susah maupun senang, menempatkan ia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung baginya, selama-lamanya hingga akhir hayat anda?"
Louis meremas tangan Evelyn, entah kenapa ia merasa terharu. Terharu karena gadis yang ia impikan akhirnya menjadi miliknya.
"Ya. Saya bersedia," ucap Louis dengan suara parau.
"Saudari Evelyn Clarista, bersediakah anda mengambil saudara Louis Green sebagai suami anda, berjanji untuk saling mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di saat susah maupun senang, menempatkan ia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung baginya, selama-lamanya hingga akhir hayat anda?"
"Saya bersedia," ucap Evelyn lagi sambil tersenyum.
Louis mengeluarkan cincin dari saku jasnya dan menyematkan cincin berlian itu ke tangan Evelyn.
Evelyn ikut mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari Louis.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri."
Louis tersenyum dan menarik pinggang Evelyn, ia mencium wanita itu lembut di hadapan pendeta dan Erick.
Evelyn bisa merasakan kupu-kupu yang tengah berterbangan di perutnya. Ia membalas ciuman Louis dengan pelan dan akhirnya ia melepaskannya karena malu.
Louis memegang kedua tangan Evelyn sambil menatapinya lekat sebelum berkata.
"Aku memang lelaki biasa yang punya banyak harta. Sebelum kau hadir di hidupku, aku selalu merasa kosong dan kesepian. Hidupku begitu hampa dan terasa monoton. Aku akui, aku bukan lelaki lembut yang bisa memasang senyum pada semua orang. Aku hanya lelaki dingin yang ketus dan tidak suka di atur-atur. Tapi aku sangat bersyukur. Aku bersyukur di hadapan Tuhan hari ini karena sudah menemukanmu. Menemukan tulang rusukku yang hilang dan sekarang telah kembali di temukan. Kau tak tahu betapa senangnya aku ketika kau mau menikah denganku. Mungkin kau bosan mendengar semua kata-kataku yang terdengar gombal selama ini. Tapi aku hanya ingin kau tahu, kalau aku sangat serius dengan ucapanku. Dan aku juga ingin kau tahu, kalau aku sangat mencintaimu, istriku."
Evelyn meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya. Hatinya selalu luluh setiap kali Louis mengungkapkan perasaannya. Lelaki dingin itu sudah berubah menjadi hangat setiap kali berada di dekat Evelyn. Dan ia sangat bersyukur di pertemukan dengan Louis, meski takdir mereka tidak terlalu bagus.
Evelyn tersenyum hangat sambil menatapi Louis.
"Aku tidak tahu bagaimana jadinya hidupku kalau tak ada engkau. Aku tahu kita menikah karena ada unsur paksaan. Tapi kau harus tahu sesuatu. Kau harus tahu kalau aku juga mencintaimu, Louis. Aku selalu mencintaimu. Bahkan sejak kali pertama kita bertemu. Kau sudah merebut hatiku sejak awal dan aku benar-benar tak bisa mengambilnya lagi. Aku harap kedepannya kita bisa saling membantu dan saling melengkapi. Aku harap pernikahan ini berjalan dengan baik meski sebenarnya semua ini sudah salah sejak awal," jelas Evelyn lagi.
Louis mengangguk dan mengecup dahi Evelyn lama, dan hari itu mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang akan saling melengkapi dan saling menghargai, selamanya.
*****