5. Difficult Situations

712 Words
KEPALA Evelyn puyeng dengan kenyataan yang menghantamnya bertubi-tubi. Mama nya yang ia sayangi ternyata mengidap leukimia? Kenyataan itu bagai bom yang menghancurkan hati Evelyn. Mamanya mengidap leukimia stadium dua. Pengobatan sudah mulai dilakukan, dan Evelyn sendiri sadar, bahwa pengobatan kanker butuh biaya banyak. Gajinya di perusahaan K saat ini sama sekali tak mencukupi. "Apa mamamu baik-baik saja? Apa kata dokter?" tanya Bimo yang langsung menghampiri Evelyn. Gadis itu terlihat sangat pucat dan lemas. Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi, Bimo tak ikut masuk keruangan dokter karena memang dokternya ingin bicara secara pribadi dengan Evelyn. Evelyn menggeleng lemah, "Gue ga bisa ngasih tahu lo, Bim. Gue ga mau lo terbebani. Maaf," ucap Evelyn seraya berjalan lemas meninggalkan Bimo yang kebingungan. Bimo sama sekali tak keberatan apabila Evelyn ingin membagi bebannya setidaknya sedikit. Namun, tampaknya gadis itu ingin menanggungnya sendirian. Bimo tidak mengejar Evelyn. Ia pikir Evelyn butuh waktu sendirian. Ia akan menunggu hingga Evelyn siap membagi bebannya.   *****   "Sial!" umpat Louis ketika sadar ia tertidur di club. Semalam ia minum terlalu banyak. Kepalanya pening. Ia mencari handphonenya dan menemukan banyak panggilan tak terjawab dari Hilary. "Ahh, pasti aku akan di omeli lagi," gumam Louis. Ia mengambil jasnya yang dilempar sembarangan lalu memperbaiki penampilannya sebelum keluar dari ruangan pribadi miliknya. Club sangat sepi di pagi hari. Well, tentu saja itu karena mereka belum buka. Beberapa pelayan membungkuk hormat ketika Louis lewat. Louis tidak menggubris mereka dan langsung menuju parkiran. Ia akan meminta Toni membelikannya setelan jas baru hari ini karena jasnya yang ia pakai tampak kacau.   *****   Evelyn saat ini tengah terisak di samping sahabatnya, Rani. Rani langsung menghampiri Evelyn ke rumahnya saat mengetahui kabar buruk mengenai Mama Evelyn. "Sudah jangan nangis terus, makan dulu Ev," bujuk Rani pada Evelyn yang sama sekali belum makan seharian. Evelyn menggeleng, "Gue mana bisa makan saat keadaan mama gue gitu, Ran." Rani menghela napas, "Gue tahu ini berat untuk lo. Tapi lo juga harus kuat. Kalo lo sakit juga, yang biayain pengobatan Mama lo siapa dong?" Evelyn tertegun mendengar perkataan Rani. Ia mengambil piring yang berisi nasi serta lauk lainnya yang dibelikan Rani tadi lalu memakannya dengan lahap. Benar, ia harus bertahan. Ia tak boleh kalah dengan keadaan. Tapi ... soal biaya pengobatan … ia harus bagaimana? Bagaimana Evelyn bisa menutupinya? "Ran," panggil Evelyn tiba-tiba. Rani yang sedang menonton TV pun menoleh, "Kenapa?" "Emm, itu. Lo ada tau lowongan pekerjaan gak? yang pas malem tapi soalnya siang kan kita kerja," ucap Evelyn ragu. Ia sudah memikirkan hal ini seharian, dan ia memutuskan untuk mencari pekerjaan lain sehingga pengobatan mamanya bisa berjalan lancar. Setidaknya untuk sekarang. "Uhm .…" Rani terlihat berpikir sebentar, "ada sih tapi ... gue ga yakin," ucap Rani menggantung. Evelyn mengernyit, "Emang kerjaan apa?" Rani tampak mengusap lehernya sambil menatap Evelyn, "Di club," tukas Rani yang sukses membuat Evelyn membulatkan matanya. "C-club?" tanya Evelyn tergagap. Rani mengangguk, "Sebenernya Ev, gue kalau malem kerja di club," timpal Rani yang membuat Evelyn memandangnya tidak percaya. "A-apa?!" teriak Evelyn refleks. "Santai aja dong," ucap Rani sambil membekap mulut Evelyn. Lalu setelah Evelyn tenang, Rani melepas bekapan itu, "pacar gue, Ferdy, lo tau kan? Dia lagi kesusahan, katanya bisnis nya bangkrut dan dia mau bangun bisnis baru. Jadinya dia pinjem uang sama gue. Gue sayang banget sama dia sampe gue kerja di club malem buat bantuin keuangan dia." "T-tapi Ferdy sama lo kan baru pacaran 3 bulan Ran? Lo yakin dia gak nipu lo?" tanya Evelyn ragu. Rani terlihat tak senang dengan ucapan Evelyn, "Tidak. Gue percaya sama dia Ev. Tolong jangan raguin dia," tukas Rani. "Maaf," ujar Evelyn. Rani mengangguk, "Sebenarnya kerjaannya simpel sih, lo cuma harus nganterin minuman ke tamu-tamu VIP gitu," ucap Rani santai. Evelyn tampak berpikir. Kerja di club pastilah membuat ia di cap jelek oleh masyarakat. Namun Evelyn sama sekali tak memikirkan hal itu lagi. Emangnya opini masyarakat bisa menyembuhkan Mamanya? "Apa masih ada lowongan?" tanya Evelyn pada akhirnya. Rani mengangguk, "Tentu saja ada. Nanti lo pergi sama gue besok. Ntar gue bilangin sama manajer disana." "O-oke." Evelyn mengangguk. Ia sudah menjual dirinya sendiri hari ini. Meski Evelyn tak melakukan sesatu yang buruk, tapi tetap saja ia akan bekerja di club. Tapi semuanya setimpal jika dibandingkan dengan kesembuhan mamanya. Asal mamanya bisa sehat, Evelyn rela melakukan apa saja. Termasuk menjual dirinya sendiri.   *****                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD