EVELYN menghela napas gusar melihat keadaan mamanya yang tampak semakin lemas. Bahkan sekarang, wanita tua itu sedang demam dan badannya sangat panas. Evelyn pusing berdebat dengannya mengenai uang karena mamanya tidak mau ke rumah sakit hanya karena ia takut biaya pengobatannya akan membengkak.
Gadis itu memijat pelipisnya pelan lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Matanya membulat ketika mendapati mamanya tengah berdiri disana dengan celemek yang terikat dipinggangnya. Ia sedang memasak.
"Mama apa-apaan sih? kan Ev sudah bilang istirahat saja," ujar Evelyn kesal.
Christina memandang Evelyn dengan tatapan merasa bersalah, "Mama tak bisa diam saja. Biaya pengeluaran akan meningkat kalau Mama tidak memasak."
Evelyn menghela napas frustrasi, "Astaga mama. Keuangan kita sudah membaik dibanding dulu, gaji Ev juga cukup jika sekedar untuk makan. Jangan khawatir gitu Ma," ucap Evelyn sambil tersenyum miris, "mama istirahat ya?" pinta Evelyn yang di balas anggukan oleh Christina. Evelyn menuntun Christina ke dalam kamarnya dan keluar setelah memastikan Mamanya itu tertidur.
Gadis itu kembali ke dalam kamar dan membaringkan diri. Hidupnya memang sangat berat. Sebelum bekerja di perusahaan K, ia bekerja serabutan. Dalam sehari, Evelyn bisa bekerja 3 kali di tempat yang berbeda demi memenuhi kebutuhan hidup.
Evelyn bukanlah lulusan S1. Dia hanya lulus dari SMA ternama dengan nilai yang bagus. Papanya meninggal karena serangan jantung saat tahu bahwa bisnisnya telah bangkrut. Hal itu membuat Evelyn dan Mamanya sangat terpukul. Dari sana, Mama nya jadi sering sakit meskipun tak menunjukan penyakit yang membahayakan.
Handphone Evelyn bergetar menandakan ada pesan masuk. Tangan Evelyn meraba-raba kasurnya untuk menemukan ponsel yang ia taruh di sembarang tempat itu. Akhirnya ia menemukan ponselnya dan membuka pesan itu.
From: Bimo
Ev, besok mau pergi ke toko B bareng gak? Bu Susan nyuruh kita ke sana.
Evelyn menghela napas membaca pesan Bimo. Bu Susan itu atasan mereka berdua. Tampaknya ia sangat menyukai Bimo karena Bimo ganteng dan ramah. Tapi entah kenapa dia sangat membenci Evelyn seakan ia sudah membuat dosa besar kepada wanita tua itu. Bu Susan selalu memberikan semua tugas pada Evelyn. Untung saja Evelyn memiliki teman seperti Bimo yang sangat perhatian padanya.
To: Bimo
Oke Bim.
Pesan itu terkirim dan tak berapa lama kemudian balasan kembali muncul.
From: Bimo
Gue jemput ya, apartment baru lo dimana?
Evelyn tersenyum, Bimo terlalu baik padanya. Kebaikan Bimo mengingatkannya pada Claudio. Lelaki itu sama sekali tak menghubungi Evelyn belakangan ini lantaran sibuk mempelajari bisnis keluarganya.
To:Bimo
Di pinggiran jalan x, apartment xx.
Evelyn mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Bimo lagi. Ia memejamkan matanya, berharap besok akan menjadi hari yang lebih baik dari sebelumnya.
*****
Louis tak bisa tidur. Sedari tadi yang ia lakukan hanya mondar-mandir di ruang kerjanya. Otaknya tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Gadis yang menabraknya tadi siang. Gadis itu begitu cantik dan polos, sangat berbeda dari wanita yang selama ini ia temui.
Louis menghela napas gusar. Ia tak bisa mencari gadis itu jika tak ada foto maupun namanya. Itu terlalu sulit. Jakarta juga cukup luas untuk mencari seorang wanita.
"Sialan!" umpat Louis kesal. Seumur-umur, baru hari ini ia memikirkan orang lain, apa lagi itu adalah seorang wanita.
Selama ini, Louis selalu bertahan dengan bentengnya. Tak ada yang berhasil menembus benteng itu selama 30 tahun Louis hidup, bahkan istrinya sendiri sekali pun.
Lalu sekarang, benteng itu telah di hancurkan oleh seorang wanita yang bahkan Louis tak tahu namanya? Dia pasti sudah gila.
Louis menyambar kunci mobilnya, ia berniat untuk ke club saat ini. Hanya disana ia bisa menenangkan pikirannya dan menghapus wajah gadis itu dari otaknya.
*****
Pagi telah tiba. Hari yang baru dimulai lagi. Evelyn meregangkan otot-ototnya dan mulai bergerak untuk membersihkan diri. Setelah bersiap-siap, ia pergi ke arah dapur untuk sarapan. Tangan kecilnya membuka tudung saji yang berada di atas meja, tapi ia tidak menemukan makanan apapun. Lalu, ia mengedarkan pandangannya, tapi ia tidak menemukan mamanya disana. Apa ia masih sakit?
Akhirnya, Evelyn memutuskan untuk pergi ke kamar mamanya. Disana wanita paru baya itu masih tertidur dengan tenang. Evelyn tersenyum melihatnya. Ia memegang pipi mamanya itu dan tersentak ketika merasakan suhu tubuh mamanya yang sangat panas.
Panik, Evelyn mencari ponselnya dan menghubungi Bimo. Entah kenapa ia menghubungi Bimo. Mungkin hanya lelaki itu yang bisa membantunya saat ini.
"Halo?" ucap Bimo dari sebrang sana.
"Halo Bim, lo bisa ke apart gue sekarang? Tolong ... Mama gue sakit dan gue gak bisa bawa dia sendirian," ucap Evelyn panik.
Bimo pun langsung menyetujuinya dan pergi menuju apartment Evelyn setelah sambungan telepon terputus.
Setelah menunggu lama, akhirnya Bimo pun datang. Ia membantu Evelyn membopong Mamanya ke dalam mobil. Mereka segera kerumah sakit dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai dirumah sakit, Evelyn menunggu diruang tunggu bersama Bimo. Disana Evelyn sangat cemas ketika mamanya di periksa dokter untuk waktu yang cukup lama.
"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Bimo menenangkan Evelyn. Lelaki itu mengenggam tangan Evelyn, membuat gadis itu terkesiap karenanya.
Evelyn mengangguk, "Makasih ya Bim, gue beruntung punya temen kayak lo," ucap Evelyn sambil berusaha untuk tersenyum
*****