6 - Gagal Romantis

1163 Words
“You have caught my eyes.” — Luke Anderson.   ***   Criit! Criit!   “Hyaa!” teriak Gisel mengerjapkan matanya ketika ada sepercik air mengenai wajahnya. Dia masih meringkuk di dalam selimut. Mengerang sebal sebab tidurnya terganggu.   “Bangun!” suruh Luke.    Jadi, Luke yang menciprati wajah Gisel? Iseng sekali.   “Ini masih jam setengah enam! Kenapa menggangguku?!” protes Gisel. Menarik kembali selimutnya hingga ke leher.   “Ayo jogging! Jangan malas. Berolahragalah,” ajak Luke. Kembali menyingkapkan selimut Gisel. Memaksanya bangun.   “Lagi?! Aku nggak suka jogging ishhh. Enakan tidur. Lagi pula kemarin kan sudah?!”   Tak mau tau tahu alasan wanita pemalas itu, dia menarik Gisel untuk duduk di tepi ranjang.    Ingin segera berlarian ke sekeliling kompleks villa, Luke mengambil sepasang sepatu kets yang terpampang di balik pintu kamar. Kemudian dia memasangkan ke kedua kaki Gisel. Satu persatu dimulai dari kaki kanannya.    “Pelan-pelan, ih!” pinta Gisel. Luke memasangkan sepatu itu secara gesit. Tak nyaman baginya.   Niat ingin romantis tetapi malah gagal. Duh!   “Sana cuci muka dulu. Temui aku di depan,” pesan Luke setelah selesai memakaikan sepatu itu. Dia berlalu keluar kamar ini.   Tak lama, Gisel menyusul Luke di halaman depan. Saat melihat wanita berponi depan itu sudah selesai, Luke langsung berlarian kecil keluar dari villa ini. Gisel dengan muka kerutnya mengikuti Luke dari belakang.   20 menit berlalu dan Luke melihat ke arah belakang. “Lama sekali kamu. Cepat menyusul,” ejek Luke. Dia berdiri sambil mendetakkan kaki kanannya. Seolah tak sabar menunggu.    Melihat Gisel yang ngos-ngosan menyusulnya, tanpa sadar dia menyeringai. “Perlu kugendong? Supaya seperti di film-film?!” godanya lagi.   “Nggak!” sorak Gisel yang menyalip Luke. Tepat di depan matanya.   Luke memerhatikan gerakan Gisel yang kini mendahuluinya.   “Wah cepat sekali si siput ini sekarang.” Luke terus meledek wanita yang memakai celana olahraga pendek dan jaket poliester berwarna biru muda dan pink pastel itu.   Gisel dengan geram menoleh ke belakang. Serta mengulurkan jari telunjuknya ke pria bule itu dari agak jauh. “Stalker! Stalker!” pekiknya menggoda balik. Dia dongkol dengan ledekan Luke. Biarpun kesal, hatinya sedikit terkilik olehnya.   ***   Siangpun tiba. Gisel dan Luke sudah saling membersihkan diri setelah berolahraga tadi. Sudah berleha-leha juga.   “Kamu mau ke mana?!”    Suara Gisel menghentikan derap langkah pria bule itu yang sedang membawa kunci mobil di tangan kirinya.    “Mau makan. Lalu ke kedai. Ramai katanya.”   “Mmm. Ikut!” Gisel segera melompat dari sofa di depan TV layar lebar itu. Mengikuti Luke.   Dia sudah berpakaian rapi sedari tadi untuk mencari makan di luar. Namun setelah mengetahui Luke akan mencari makan di luar juga, dia ingin mengikutinya.   Saat sudah berada di garasi, Vania bertanya. “Luke, tidak makan di rumah? Putri sudah masak tadi.”   “Buat kalian saja. Aku akan makan di luar dengan Gisel,” ucap Luke sembari masuk ke dalam mobil SUV pribadinya. Bukan mobil ala seleb yang Rosetta sewakan untuknya. “Baiklah,” sahut Vania.   ***   Dua manusia itu sedang menunggu hidangan mereka datang. Mereka duduk berdua menatap pantai yang sesak penuh wisatawan. Ya, restoran yang mereka kunjungi tepat di pinggir sebuah pantai.   Makan siang mereka pun akhirnya datang. Tidak perlu menunggu lama.    Sluuurp! Gisel menyedot minumannya. Kelapa muda hijau tanpa es.   “Coconut girl,” sebut Luke ketika melihat Gisel yang dengan asyiknya menyedot dan mengkerok isi kelapa itu.   Mendengar Luke berucap, Gisel menoleh dan membalas dengan senyum giginya.    “Kamu tidak suka jeruk nipisnya?” tanya Luke. Melirik ke arak piring plastik yang menjadi alas kelapa itu. Ada sebuah irisan jeruk nipis yang disediakan di piring itu.   Gisel menggeleng. “Aku nggak suka kelapa dikasih jeruk. Aneh. Biasanya di Jawa nggak dikasih jeruk.”    Kemudian Luke mengambil jeruk itu. Sangka Gisel, Luke akan menggunakannya entah untuk apa. Namun dia dikagetkan sesuatu.   “HA?! Kamu memakannya?!” Gisel kemudian membulatkan mulutnya memandangi Luke penuh heran. “Sama kulitnya?!”   Luke masih mengunyah jeruk itu dan menatap Gisel balik. “Iya. Ini enak.”    Dia benar-benar suka jeruk nipis berkulit itu atau salting dan mencoba membuat Gisel terkesan, sih?!   “Ckck. Aneh. Nggak pait?!”   Luke mengolah kata yang diucapkan Gisel. “Oh, pahit maksud kamu? Tidak. Ini enak. Sungguh.” Setelah itu mereka berdua hening. Memakan pizza jumbo yang mereka pesan.    Gisel mendekatkan satu irisan pizza ke mulutnya. “Mmm Luke?”   “Ya?!”   “Ini kamu pesan rasa apa yah?! Daging apaan ini?”   “Bacon.”   “Ya … sapi atau babi?”   “Babi lah. Di Australia sering sekali makan ini.”   Gisel tidak jadi menggigit pizza tersebut. “Aku nggak suka babi.”   “Apa?! Tidak suka? Bagaimana bisa seenak itu dan kamu tidak suka?”   “Nggak suka. Tiap kali aku makan babi jadi keinget sama mukanya.”   Luke menarik pizza tersebut dari genggaman Gisel. “Ya sudah aku makan saja.”   Gisel mengkerutkan dahi karena kesal.    Dia berteriak dan mencubit paha Luke yang hanya mengenakan celana pendek selutunya. “Yha! Ya jangan semuanya dong! Dagingnya aja!”   Sedetik kemudian Luke terkekeh. Aneh-aneh saja wanita ini, tidak menyukai daging babi hanya karena teringat wajah si babi. Babi emang.   “Oke. Aku dagingnya, kamu rotinya,” ucap Luke.   “Fair enough,” balas Gisel menyetujui. Pembagian yang adil baginya.   Pizza demi pizza mereka habiskan. Gisel memberikan dagingnya pada Luke setiap kali sebelum dia menggigit pizza tersebut.    Mata Luke kemudian terpaku saat menatap wajah Gisel dari samping. Ditatapnya wajah wanita asia dengan kulit kuning langsat. Dengan hidung yang tak setegas yang dimilikinya. Poni wanita itu sekarang tersibak tengah hingga terlihat dahinya.    Gisel sedang menggigit pizza sambil sedikit mengangkat dagunya. Wanita itu memiliki gingsul yang seperti sebuah taring. Tanpa sadar, Luke mulai terpesona lagi dan pemandangan ini mampu membuatnya bergetar. Wanita yang sedang memakai baju putih polos lengan panjang berbahan satin menyita waktu Luke selama beberapa detik.   “Kenapa liatin aku?” Gisel bertanya sambil tersenyum malu. Sepertinya dia tahu bahwa Luke sedang memandanginya.   Suara Gisel meloloskan lamunan Luke. Kini ia tersadar kembali.   “Tidak apa-apa. A-aku hanya melihat layangan di seberang sana,” balas Luke. Mengangkat dagunya ke arah pantai. Menunjukkan pada Gisel ada layangan yang sedang diterbangkan. Meskipun aslinya Luke salah tingkah ketika Gisel memergokinya.   Gisel menatap layangan besar berbentuk kupu-kupu hitam dengan corak merah. “Oh. Kirain apa.”   Luke kembali memfokuskan matanya pada Gisel. “You have caught my eyes now.”   Dia segera meneguk minuman alkohol bening yang ia pesan. Vodka. Untuk menepis hal-hal yang sedang bersliweran di benaknya. Degup jantungnya pun juga belum bisa kembali tenang. Merepotkan saja perasaan ini.    ***   Ketika di dalam mobil, badan Gisel seketika tersentak. Sebuah tangan mengitari depan dadanya.    “Luke? Aku bisa sendiri,” cetus Gisel. Mencoba menahan tangan Luke yang sedang memakaikan sabuk pengaman. Segeralah Gisel menggenggam sabuk tersebut dan mengencangkannya sendiri. Tak lama, mata mereka malah saling bertemu. Gisel dengan jelas bisa melihat refleksi wajahnya di kerling mata pria bule tersebut.    Keduanya tidak berkedip.   Gemetaran, Gisel memanggil. “Luke?” lirihnya. Bersambung ya teman-teman onlineku! Semoga kalian suka. Kalau suka jangan lupa bantu share ya dan tag fesbuk author. Berteman di sana juga boleh, lho! Cari aja namaku ;)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD