7 - Kecupan Demi Kecupan

1179 Words
Tak menghiraukan panggilan Gisel, Luke malah semakin mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu.    Deg! Deg! Deg! Hati Gisel berdegup kencang dan matanya seolah membengkak.   Cup! Bibir Luke akhirnya mendarat di kening Gisel selama dua detik. Yang semula hampir saja mengenai bibir Gisel.   Langsung dia berbalik untuk fokus menyalakan mobil setelahnya.   Gisel bergumam dalam hati. “L-Luke kenapa tiba-tiba mencium keningku?!”   Aktivitas spontan tadi cukup membuat suasana di dalam mobil menjadi hening dan kaku. Mungkin di awal saat Luke menciumnya di hari pertama mereka bertemu itu adalah karena Luke memang bernafsu. Sebab mereka memang berduaan. Tapi kali ini? Mengapa kening?   ***   “Kok kita berhenti di sini?!”    Luke membalas, “kemarin kamu tidak jadi ke sini kan. Sekarang ayo aku temani.”   “Aku nggak mau perawatan. Facial atau apalah itu. Sakit tau!” tolak Gisel.   Luke berjalan keluar dan membukakan pintu Gisel. Dia memaksa Gisel untuk turun dari mobil. Langkah bisu membawa mereka ke depan meja reservasi. Meski Gisel merengek tidak ingin.   “Kak, aku sudah pesan kemarin. Atas nama Luke …,” ujar pria dengan pakaian santainya berwarna biru muda.    “Oh, iya. Mr. Anderson. Mari silakan,” sahut pegawai perempuan. Rambutnya digelung bak pramugari. Dia menunjukkan jalan pada Luke dan Gisel.   Genggaman tangan Luke sangat erat pada Gisel hingga membekas merah setiap kali Gisel mencoba melepaskannya.   “Kamu tidak perlu cerewet. Nanti malam nenekku mau video call,” ucap Luke ketika sudah sampai di ruangan VIP khusus paket berdua. Akhirnya Gisel tidak bisa mengelak lagi. Keduanya sudah tidur di ranjang perawatan masing-masing.    Para terapis sudah piawai memainkan tangannya pada wajah mereka berdua.   “Yha! Sakit!” pekik Gisel ketika hidungnya mulai dipencet-pencet untuk mengeluarkan komedonya.   “Hei diam kamu. Aku ikut ke sini demi kamu. Kamu dari kemarin menolak kan?!” balas Luke mendengar kicauan Gisel yang menganggu konsentrasinya menahan sakit di hidungnya juga.   Ah Luke modus saja nih supaya bisa berduaan dengan Gisel. Apabila memang benar menginginkan Gisel perawatan atas permintaan ibunya, pasti ada cara lain membuatnya berangkat ke tempat ini. Ya, kan?   Waktu berjalan cepat setelah tahapan ekstraksi itu selesai. Kini Gisel bisa tersenyum ria saat berjalan kembali ke dalam mobil.   Saat mobil sudah merangkak, Gisel memegang-megang wajahnya di depan cermin mobil yang menggantung di atas dasbor.    “Wah, halus juga ya,” paparnya terperangah. Wajahnya terasa lebih bersih dan lembut.    Sedikit demi sedikit Luke melirik ke arah Gisel yang sedang bercermin. “Apa aku bilang. Ujung-ujungnya pasti suka.”   Sigap, Gisel menoleh pada bule yang sedang menyetir itu. “Ya … suka, sih. Tapi kalau disuruh lagi … aku nggak mau pakai yang pencet-pencet itu! Aku mau yang IPL aja! Kan cuma hangat-hangat gitu.”   “Okay, Gorgeous.”   Gorgeous? Luke memanggilku seperti itu? Astaga. Tambah melting aja akunya. Atau aku yang kepedean?   Segeralah Gisel menghidupkan musik selama perjalanan agar dia bisa mengontrol perasaannya yang semakin menjadi. Gisel merasa tertarik pada Luke jika setiap hari dia harus melihat Luke dalam satu rumah.   “You know that I want to be with you all the time ….” Lagu yang sama diputar saat hari pertama mereka bertemu. Saat Gisel berpura-pura ketiduran karena alkohol yang ia minum.    Gisel sangat terlihat gelisah saat ini. Sedangkan Luke, dia hanya terlihat biasa saja dan fokus menyetir. Tidak ada yang salah dalam dirinya.   ***   Hujan rintik-rintik menghiasi malam ini. Hawanya mendukung untuk berpelukan. Tapi bukan itu yang akan dilakukan oleh Gisel dan Luke.   Mereka memang sedang berdua di dalam kamar. Duduk di depan meja rias di kamar Gisel. Menunggu panggilan video dari Rosetta.   Drrrt!   “Nenek!” pekik Luke saat ponselnya yang sudah siap di atas meja, berdering. Kemudian dia segera mengangkatnya. Ponsel masih berdiri di meja.   Luke dan Gisel duduk berdampingan dengan sofa yang diangkatnya ke dekat meja rias. Menggantikan kursi rias di situ.    “Ne-nek. Apa kabar?” ucap Gisel gemetaran. Sesuai perintah Luke, dia harus menyapa Rose terlebih dahulu.   Rose melepas ringisannya. Terlihat bahagia mendengar dan melihat wajah Gisel yang kinclong. Tentu saja, dia perawatan glass skin tadi.    “Gisel? Ahh! Nenek senang sekali kamu bersama Luke. Kamu ternyata sangat cantik. Memang dasar fotografer kemarin yang kurang piawai saja mengambil gambarmu.”   “Fotografer?” Gisel mencoba mengingat perkataan Luke sebelumnya.   “Iya. Maafkan nenek. Nenek menyewa fotografer untuk mengikuti kalian.”   Gisel seketika menoleh pada Luke. “Oh, iya, Nek. Tidak apa,” imbuhnya menatap layar ponsel lagi.   Tanpa permisi, Luke segera mengambil alih pembicaraan. “Nenek sekarang percaya kan kalau aku tidak homo?!”   “Hmm. Belum. Coba tunjukkan pada nenek kemesraan kalian,” pinta Rose aneh-aneh. Hingga dia percaya.   “Apa?!” teriak Gisel kaget. Bagaimana caranya menunjukkan kemesraan pada Rosetta kalau mereka saja bukan benar-benar pasangan?   “Seperti ini, Nek?” sebut Luke sembari merangkulkan tangan kanannya ke pundak Gisel.   Itu hanya gerakan biasa antar teman bagi Rose. Setelah mendengar desakan neneknya, Luke mengecup pipi Gisel perlahan. Meski rasanya agak terpaksa. Namun ternyata hal itu tidak cukup untuk Rose.   “Ayo kalian berciuman di depan kami berdua,” paksa Rose. Kini sudah ada Victoria disampingnya. “Kalau kalian tidak bisa … maka nenek tidak percaya kalian dan akan mencarikan Luke wanita baru saja.”   “Nenek bercanda?” Luke menyela.   “Baiklah. Nenek akan—“   Seketika Luke menyambar bibir polos Gisel. Tanpa ada lipstik di situ.   Mata Luke sudah terpejam. Namun kelopak mata Gisel masih terbuka lebar.    Ketika Luke mulai membuka paksa bibir Gisel dengan lembut menggunakan bibirnya, akhirnya Gisel menyerah. Rasanya sangat berbeda saat ciuman pertama mereka beberapa minggu lalu. Ada kenyamanan yang ia rasakan sekarang. Dia bisa membalas ciuman itu.   Semakin intens, Gisel merangkulkan tangannya ke tengkuk Luke. “Rasanya beda. Aku bisa menikmati ini sekarang. Apa karena aku sudah mulai menyukainya?!” Hatinya berbisik saat kedua bibir mereka bertautan.   “Baiklah. Sudah cukup bagiku,” ucap Rose ketika melihat mereka berbalas kecupan. Lamun ucapannya malah sama sekali tak digubris oleh pasangan palsu tersebut.    “Mmh,” lirih Gisel. Merasakan libidonya malah semakin naik. Dan, dia tidak bisa menahannya.   Peka, Luke kontan menggendong Gisel ke atas ranjang. Melupakan bahwa panggilan video itu masih berjalan.   Kecupan demi kecupan diberikannya pada Gisel. Dari celah lehernya hingga membuka babydoll merah muda bergambar bunga emas yang dipakai Gisel.    Tanpa berlama-lama, Gisel mendesah halus ketika Luke dengan lembut memijat dan memainkan dua buahnya yang semakin mengeras itu. “L-Luke, I like you,” desahnya dengan suasanya yang semakin memanas.   “Mmm. Baiklah. Kita tinggalkan mereka berdua sekarang,” bisik Rose sambil cekikikan. Meski Victoria agak risih. Kemudian dia menutup panggilan itu.    Memalukan. Mereka berdua kelewat lupa bahwa mereka sedang ada panggilan video dengan Rose dan Victoria.   Rangsangan demi rangsangan Luke berikan pada Gisel. Hingga wanita itu seolah tersiksa dengan kenikmatan, merasakan lidah pria itu di salah satu gunung kembarnya. Tampak lihai memainkannya. Gisel menyukai ketegangan ini.   Belum pernah ia rasakan sensasi ini sebelumnya. Napasnya tersengal dan memburu. Ada apa ini? Mengapa tubuhnya menggeliat kenikmatan? Mengapa rasanya begitu nagih juga?   Lamun Luke belum berniat memindahkan permainannya ke daerah intim milik Gisel. Dia masih ingin membuat wanita yang sudah memerah wajahnya mendesah hebat dan meminta lebih. Hayo hayo, jangan omes yah kalian! Haha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD