Ketegangan merangkul tubuh Gisel. Apa yang harus ia katakan lagi? Mengapa Luke bertanya seperti itu dengan nada memelas? “A-aku—“ “Katakan padaku, Gisel?” pinta Luke mendesak. Semakin mengeratkan pelukannya pada wanita asia tersebut. “I-iya,” jawab Gisel selagi menundukkan kepalanya. Ingin menatap wajah Gisel yang pasti sedang merah merona itu, Luke dengan cepat membalikkan badan Gisel menghadapnya. Menatap bola mata cokelat tua yang ada dalam pandangannya. Melihat bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di iris mata wanita itu. “Kalau begitu … jangan menyerah mendapatkanku,” tegas Luke. Menatap dalam kedua mata Gisel dengan seksama. Kemudian dalam sekejap dia melepaskan kedua tangannya yang menggantung di lengan Gisel. Dan dia segera berlalu menuju kamarnya. Entah

