Jantung Oza mendadak berdetak cepat kala melihat rolling door ruko yang tadi ia tinggal terbuka lebar. Pasalnya saat ia tinggal untuk mengantar berkas s****n Lingga pintu besi itu tertutup rapat.
Ada dua kemungkinan orang yang bisa masuk.
Maling atau Bu Mira.
Tapi, maling di siang hari?
"Dari mana aja?"
Benar saja. Kala sampai di sana Bu Mira lah yang menyambut kedatangan Oza dengan raut tak suka.
"Tadi habis nganter berkas karyawan kantor depan Bu,"
"Saya udah berdiri hampir setengah jam nungguin kamu, untung saya bawa kunci cadangan. Keluyuran kemana aja?"
"Beneran habis dari kantor depan saya langsung kesini. Soalnya tadi karyawannya komplain dulu makanya lama, Bu"
Tak sepenuhnya benar. Lingga tidak komplain hasil copy-annya yang buruk, hanya saja Lingga marah-marah karena tulisan yang ada di kertas tersebut typo.
See? Siapa yang patut di salahkan? Memang dasar cari perhatian, apa saja di permasalahkan.
"Yaudah gapapa. Aneh banget sih karyawan depan kok sensi banget. Terakhir saya kesini kamu juga lama banget di kantor depan."
"Enggak tau Bu, namanya aja pelanggan ya di turuti aja apa maunya" Oza tersenyum kecil, merasa tak enak akan kebohongan kecil yang ia buat.
"Tapi kamu enggak di omelin yang kasar-kasar kan?" tanya Mira dengan pandangan menyelidik. Bagaimana pun juga jauh di dasar hatinya ia menyayangi anak temannya ini. Ia tak akan mau Oza di perlakukan semena-mena.
"Enggak kok, Bu"
Mira mengangguk mendengar ucapan Oza. Ia lantas berdiri dan langsung pamit pulang.
"Oh iya, ibu cuma mau nganter Toner. Ibu mau langsung pulang ini,"
"Oh tapi Toner yang kemarin masih ada satu kilo, Bu"
"Enggak apa-apa, ibu males dateng minggu besok"
"Oh iya udah gapapa, Bu"
Oza ikut berjalan mengikuti Mira ke pinggir jalan, menunggu taksi yang akan membawa wanita itu pulang.
Setelah mendapat taksi dan Mira masuk ke dalam mobil, Oza berjalan masuk kembali ke ruko. Ia menghempaskan bokongnya di kursi plastik yang biasa ia duduki, lantas menyandarkan bahunya ke sandaran kursi. Oza lelah.
***
Sepulang pelanggan terakhir. Oza merapihkan tumpukan kertas yang tercecer di dekat mesin photocopy, akibat ulah anak SD yang tadi tak sengaja menjatuhkannya kala menunggu Oza mengcopy lembaran cerpen miliknya.
Membuat waktu Oza sedikit terhambat karenanya.
Dering ponsel dari atas meja membuat Oza mengalihkan fokusnya. Buru-buru Oza merapihkan tumpukan kertas tersebut sebelum mengangkat ponselnya.
Id caller 'Mbak Ambar' tertera di layar, membuat Oza mengerutkan kening bingung. Apa ia terlambat? Namun kala melirik jam dinding yang ada di sana, masih lima menit lagi sebelum ruko tutup. Itu artinya masih lama.
"Assalamualaikum, Za"
"Waalaikumsalam. Halo, iya Mbak?"
"Za, tadi Mbak transfer uang ke rekening kamu. Nah tolong sebelum kamu nanti ke rumah Mama nya Mbak, mampir dulu ke supermarket beliin bahan-bahan buat bikin sup buah untuk Arka. Mbak ga sempet, ada wawancara buat majalah gitu soalnya"
"Oh iya Mbak nanti Oza beliin"
"Yaudah, Mbak tutup ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Mbak"
Ketika sambungan terputus, Oza langsung membuka aplikasi E-Banking yang ada di ponselnya. Ia mengecek saldo yang baru masuk atas nama Ambar Airlangga. Mata Oza membelalak kala melihat nominal yang Amber kirimkan. Harga buah-buahan tidak sampai berjuta-juta rupiah kan? Walaupun buah organik Oza juga menjamin harganya tidak sampai semahal itu.
Oza kembali menutup aplikasi E-Bankingnya, lantas kembali mendial nomor Ambar sekedar menanyakan hal tersebut.
"Ya, Za? Kenapa? kurang?"
"Bukan, Mbak. Itu- buahnya Mbak minta yang organik ya?"
"Terserah kamu sih, mau milih yang mana. Organik lebih baik tapi"
"Itu buat persediaan sampai bulan depan ya Mbak?"
"Oh enggak, semingguan aja. Nanti Mbak beli lagi. Takutnya ga segar kelamaan di simpan"
"Tapi banyak banget yang Mbak Ambar transfer. Atau nanti sisanya Oza tarik tunai aja, balikin sama Mbak"
"Kalau uangnya lebih ya gapapa ambil aja buat kamu. Udah ya, Mbak buru-buru banget ini. Assalamualaikum"
"Mbak-" Oza berdecak kala Ambar memutuskan sambungan secara sepihak.
Oza meletakkan ponselnya ke atas meja, ia menggaruk kepalanya bingung seraya menatap ponselnya yang sudah berlayar gelap.
Ketika mengangkat pandangannya dari ponsel, mata Oza membelalak kala melihat Mannequin- ralat, manusia berlaku patung yang berdiri di depannya. Menatapnya datar dengan tatapan tak terbaca.
"Kalau mau copy berkas enggak bisa, udah mau tutup"
"Mbak Ambar nyuruh nganterin"
Big Lie, Lingga.
"Hah?" Oza menatap Lingga bingung.
"Saya di suruh anterin kamu,"
"Saya mau beli buah aja, ga perlu"
Lingga mengangkat bahunya acuh. Lantas berbalik seraya berucap,
"Saya tunggu di depan"
Pendengaran yang bagus serta kemampuan menerjemahkan situasi menghasilkan keuntungan tersendiri untuk Lingga.
***
"Yang merah aja"
"Arka sukanya yang putih,"
"Saya sukanya yang merah,"
"Kan yang mau makan Arka bukan Bapak" Oza mendelik malas.
"Dua-duanya apa susahnya sih" Lingga melepaskan troli yang ia dorong, kemudian melangkah mengambil buah naga yang ia mau.
"Terserah" Oza berjalan ke depan terlebih dahulu. Lima belas menit berada di supermarket ini, lima belas menit pula mereka bertengkar karena hal sepele.
Seperti warna buah, ukuran buah, bahkan rasa s**u untuk campuran buah.
"Cari apa lagi?" Oza tersentak kaget kala mendapati Lingga sudah berada di sampingnya seraya mendorong troli yang sudah penuh akan buah-buahan.
"Udah semua kayaknya, udah yuk pulang"
Ajakan sederhana yang terdengar sepele itu membuat Lingga tersentak. Itu artinya gadis di depannya ini tidak menolak lagi satu mobil dengannya?
Tadi saja saat akan pergi ke sini harus ada adegan paksa-paksaan. Namun saat sadar waktunya terbuang percuma karena ribut dengan Lingga, Oza memilih mengalah.
"Pak! Cepet"
Lingga tersadar, ia melihat di depan sana Oza sudah menampilkan raut jengkel kembali.
"Antriannya panjang gitu kan jadinya" Oza bergumam jengkel kala Lingga sudah mendekat ke arahnya.
Di depan troli yang di dorong Lingga, mereka mengantri berdua. Antrian semakin panjang membuat Oza memainkan kakinya karena pegal.
Lingga yang berada di samping Oza hanya berdiri bak patung, bahkan tak menekuk kakinya sama sekali. Ia mengamati gerak-gerik Oza yang selalu menarik di matanya.
Sampai saat Lingga tak sengaja menoleh ke belakang, sorot mata yang tadinya datar mendadak menajam.
Di belakang antrian mereka, berdiri seorang pria berambut blonde menatap Oza dari belakang dengan senyum yang amat menjijikan di mata Lingga.
Jangan bilang, pria berkulit gelap itu sedang menjadikan Oza sebagai bahan fantasi kurang ajarnya! Hei, Lingga saja tidak berani!
Padahal pakaian yang Oza kenakan sudah sangat sopan dan tertutup. Hanya kaos lengan panjang berwarna biru, serta celana jeans hitam.
Lingga mundur selangkah, ia menarik Oza untuk berdiri di depannya. Mengabaikan tatapan tak suka dari pria di belakangnya.
"Ini kenapa sih, Pak?" tanya Oza bingung. Ia tak nyaman dengan posisi ini sekarang.
"Kamu lebih aman di sini."
***