Oza melihat kembali penampilannya di cermin yang menempel pada lemari pakaian yang ada di kamarnya. Setelah memastikan semuanya rapi, Oza langsung menyambar ranselnya dan keluar dari kamar.
Di liriknya sang Ibu yang berbaring miring di atas sopa, menatap televisi yang tengah menayangkan iklan komersial. Tatapan Rosita kosong. Membuat Oza menghembuskan napasnya pelan.
Bau asap rokok yang menempel di setiap sudut ruangan ini semakin membuat Oza tak semangat untuk berangkat kerja. Rasanya ia ingin tinggal sehari bersama ibunya dan membereskan kekacauan yang selalu ibunya itu perbuat. Abu bekas pembakaran rokok dalam asbak semula masih di dalam tempatnya, sekarang sudah tercecer di lantai beralaskan karpet maroon tersebut.
Selalu seperti ini. Setiap Oza sibuk membenahi ibunya, ibunya sibuk pula mengacaukan apa yang sudah ia perbaiki. Waktu Oza bukan untuk ibunya saja 'kan? Nafkah untuk mereka berdua harus Oza sendiri yang memenuhi. Oza hanya ingin di mengerti.
"Bu, kenapa di tumpahin asbaknya?" suara Oza masih terdengar lembut untuk di dengar.
"Ga sengaja ketendang"
Oza menghela napasnya kasar, ia kembali ke dapur dan mulai mengambil sapu beserta serok s****h.
Oza kembali membersihkan tumpahan abu rokok yang ada di atas karpet. Ia menggulung karpetnya dan membawanya keluar untuk di jemur di bawah sinar matahari. Namun ketika kembali masuk ke dalam rumah, alangkah terkejutnya Oza melihat genangan air yang berasal dari atas meja yang ada di depan ibunya berbaring juga tumpah.
"Bu, ini kenapa lagi?"
"Ibu tadi mau minum, tapi ga sampe tangannya"
"Ya Allah, Bu. Oza bisa telat kalo ibu kayak gini terus"
Dengan tergesa Oza mengambil alat pel dan mengelap lantai yang tadi tertumpah air. Ia sudah lelah seharian kemarin bekerja, dan ibunya setiap hari pula membuat kekacauan.
"Oza mau pergi, udah telat. Assalamualaikum" Oza meraih tangan ibunya yang menggantung bebas lantas menciumnya.
***
"Za!" Seruan perempuan paruh baya di depan sana membuat Oza mengerutkan dahi. Namun saat tahu siapa yang memanggilnya membuat Oza buru-buru mendekatinya.
"Iya Bu Eva, ada apa?"
"Saya mau minta utang ibu kamu segera di lunasi."
"Oza belum ada kalau sekarang, Bu. Oza gajian tiga hari lagi, nanti pasti Oza bayar kok" Oza meremas kedua tali ranselnya menatap Eva yang menunjukkan raut tak suka secara terang-terangan.
"Kemarin juga dia buat kacau toko saya. Ibu kamu ngacak-ngacak toko saya karena ga saya kasih rokok"
Oza membelalakkan mata mendengar ucapan Eva, kali ini ibunya berulah terlalu jauh.
"Saya juga mau minta ganti rugi ya" Eva berucap kembali, membuyarkan lamunan Oza akan tagihan yang akan menumpuk.
"Iya Bu, nanti Oza bayar"
"Oza pamit ya Bu Eva, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Oza hanya bisa tersenyum tak enak mendengar jawaban bernada ketus tersebut, ia melenggang pergi dan kembali berjalan menuju persimpangan jalan mencari angkutan kota.
Oza menghembuskan napasnya pelan, ia menyandarkan punggungnya pada tiang lampu jalan seraya menunggu angkutan kota. Tak ada lagi semangat, bayangan high heels impiannya kembali tak bisa terwujud untuk di beli bulan ini. Oza ingin sekali ada orang yang mau mendengarkan keluhannya, ia ingin menangis menceritakan bebannya agar terasa lega.
"Haha, lagian mau kemana sih gue niat banget beli itu" Oza tertawa kecil di awal ucapan lirihnya.
Saat bunyi klakson dari salah satu angkutan kota yang mendekati, Oza langsung tersadar. Ia mengusap wajahnya kasar kemudian berdiri dan berjalan menuju angkutan kota tersebut.
***
Sesampainya Oza di ruko, Oza di kagetkan akan sosok Lingga yang sudah berdiri di depan rolling door ruko yang masih tertutup tersebut. Oza mengernyitkan dahinya seolah secara tak langsung mengungkapkan 'ada apa?'
"Tempat ini buka jam berapa sih?" Lingga memandang langit-langit teras ruko seolah tak berbicara dengan Oza.
"Maaf agak telat. Kalau mau copy sesuatu di tinggal aja, nanti bisa saya antar ke kantor Bapak"
Lingga yang tengah melihat-lihat setiap sudut teras ruko menghentikan kegiatan tak bergunanya. Ia melirik Oza dengan kepala yang masih menangadah ke atas.
Berdeham sebentar, Lingga mulai memfokuskan diri melihat Oza yang sedang melepas ranselnya guna mencari kunci rolling door.
"Saya titip ini" Saat sedang sibuk membuka gembok, Oza menolehkan kepalanya sekilas kala suara Lingga terdengar di belakang punggungnya.
"Iya bentar,"
"Lama banget, tangan saya pegal." Suara Lingga kembali terdengar ditengah-tengah kesulitan Oza membuka kunci. Biasanya tak begini, apa Oza salah bawa kunci?
"Taruh aja di bawah" Oza berucap santai.
"Jangan bodoh. Ini berkas penting" Lingga memelototkan matanya tak percaya mendengar ucapan Oza.
"Iya tunggu bentar sih" sungguh Oza tidak sedang dalam suasana hati yang baik sekarang.
"Kamu lama"
Tak!
Oza menghampaskan gembok yang masih belum terbuka tersebut ke pintu rolling door di depannya. Ia berbalik dan menatap Lingga jengkel. Namun alangkah terkejutnya Oza ketika berbalik dan mendapati jarak ia dan Lingga hanya setengah lengan orang dewasa. Hal itu membuat Oza buru-buru memundurkan langkahnya hingga membentur rolling door yang ada di belakangnya. Oza berdebar- karena kaget? Ya tidak untuk alasan lain.
"Jadi orang yang sabar, bisa?" Oza kembali membalikkan badannya membelakangi Lingga. Tak ia hiraukan u*****n lirih yang terdengar dari mulut Lingga. Oza hanya ingin fokus membuka ruko ini terlebih dahulu.
"Minggir" Lingga mendekat kearah Oza kemudian mengambil alih kunci tersebut dan membantu membukanya.
Dalam hitungan detik, pintu tersebut sudah terdengar bunyi 'klik' tanda ia terbuka.
"Makasih" ucap Oza kemudian.
"Ini," Lingga mengulurkan tumpukan kertas beserta uang pecahan seratus ribu rupiah yang ia pegang di tangan kanannya kearah Oza.
"Butuh jam berapa?" tanya Oza seraya menerima tumpukan kertas dan uang tersebut.
"Jam sepuluh pagi, antar langsung ke ruangan saya"
"Saya titip satpam aja nanti"
"Jangan, langsung ke ruangan saya"
Oza memutar bola matanya jengkel. Tingkah Lingga ini semakin membuat suasana hatinya semakin buruk.
"Saya ga bisa nutup ruko lama-lama."
"Jam sepuluh, antar ke ruangan saya."
"Bapak perlu ini apa saya sih?" Oza mengangkat berkas di tangannya ke depan wajah Lingga.
"Tentu saja itu" Lingga menunjuk berkas yang ada di tangan Oza menggunakan dagunya.
"Urusan sama orang kaya ribet banget sih" desis Oza tajam.
Tanpa menanggapi ucapan Oza, Lingga membalikkan badan berlalu dari hadapan Oza dengan seringai tipis yang berusaha ia tahan.
***
"Titip ini sama Bapak Lingga ya, Pak"
Satpam ber-name tag Aryo tersebut mengerutkan dahi menatap tumpukan berkas yang di ulurkan Oza kepada dirinya. Sejenak ia berpikir lantas menjawab.
"Jasa photocopy depan ya Mbak?"
"Iya Pak. Tolong nitip ini ya?" Oza tersenyum sejenak.
"Oh tadi pesan langsung sama si Bapak, katanya kalo ada yang anterin berkas gitu dari ruko depan suruh anterin sendiri ke ruangan dia."
"Saya ga bisa lama nih Pak, saya ke sini aja harus nutup ruko bentar." Perasaan Oza mulai merasa tak enak sekarang.
"Wah ga bisa Mbak. Kata Pak Lingga berkasnya penting, kalau udah tangan kedua terus ada apa-apa saya bisa kena masalah."
Oza mulai jengkel. Ia benci dengan prosedur.
"Tapi kalau Mbaknya mau minta anterin ke ruangan Pak Lingga, mari saya anterin."
***
Lingga menatap grafik batang yang berwarna-warni di layar laptopnya dengan serius. Sesekali ia tersenyum, lantas buru-buru menggeleng di detik berikutnya.
Di samping laptop, jari tangannya tak henti mengetuk-ngetuk meja kerja berplitur cokelat gelap tersebut. Sesekali matanya juga melirik pada arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Bunyi pintu di ketuk, Lingga buru-buru mendongak. Setelah pintu di buka, di dapatinya Aldo berdiri di depan pintu yang setengah terbuka tersebut. Mata Lingga berusaha melirik lebih lagi ke belakang karena pintu yang belum terbuka sepenuhnya.
"Ya?" Linggga menatap Aldo datar.
"Ada yang ingin mengantar berkas penting, Pak." Jawab Aldo.
"Suruh masuk"
Aldo mengangguk, ia membuka daun pintu lebih lebar agar seseorang yang ada di belakangnya dapat masuk. Setelah orang tersebut masuk, Aldo mulai menutup pintu dan kembali duduk di mejanya yang berada tepat di samping pintu ruangan Lingga.
Begitu pintu di tutup oleh Aldo, Oza mulai berjalan mendekati meja Lingga dengan raut wajah datar. Tanpa basa-basi ia meletakkan berkas yang ia pegang ke atas meja Lingga, lengkap dengan uang kembalian.
"Done." Ucap Oza.
"Sebentar," Oza yang akan berbalik pergi, mengurungkan niatnya dan kembali menatap Lingga bosan.
"Apa lagi? Itu enggak ada dari tangan kedua atau tangan ketiga. Saya bawa langsung setelah di copy, enggak di titip pegang sama orang lain. Aman." Oza berujar jengkel.
Oh please. Suasana hati Oza sekarang sedang tidak baik.
"saya cek dulu halamannya, kalau hilang satu kamu harus tanggung jawab" ucap Lingga enteng.
Kekanakan!
"Saya bela-belain nutup ruko demi anterin ini loh, Pak. Bisa di percepat ga?"
Lingga hanya mendengarkan gerutuan Oza, matanya sudah terfokus pada berkas yang tadi di antar Oza. Mengabaikan Oza yang sudah mencak-mencak gemas karena gerakan lamban Lingga membolak-balikan kertas tersebut.
"Meriksa halaman aja lama banget sih!"
"Berantakkan. Kok ga kamu steples? Jadi acak lagi kan susah"
Oza memandang datar berkas yang tadi sudah ia susun rapih sesuai urutan halaman sebelum di bawa kesini, berhamburan di atas meja kerja Lingga dengan random. Oza marah.