10. Failed

1273 Words
Lingga duduk mengamati Oza yang ada di depannya, gerak-gerik gadis itu tak luput dari matanya sekalipun ia berkedip. Dan hal itu membuat Oza merasa risih di buatnya. Ucapan Aziz tempo hari kembali berputar di kepalanya, membuat Lingga beberapa kali menggelengkan kepalanya guna menepis pikiran sesat tersebut. 'Tidak Mungkin' Merupakan mantra yang selalu Lingga rapalkan kala ia mengingat perkataan Aziz yang mengatakan kalau dirinya jatuh cinta pada sosok Oza. "Om Lingga kenapa lihatin Kak Oza terus?" Pertanyaan polos yang keluar dari mulut Arka yang sedang mengunyah camilannya pun mampu membuat semua orang yang ada di sana menghentikan aktivitasnya sejenak. Seperti Oza yang tengah memotong kuku Arka, Lingga yang tengah menggelengkan kepalanya, sampai dengan Airin yang tengah berjalan melintasi ruangan tersebut juga menghentikan kegiatannya. Semua mata tertuju pada Arka, Namun tak lama kemudian tatapan mereka perlahan-lahan tertuju pada Lingga yang sedang duduk setengah berbaring di sopa. Ekspresi pria itu menyiratkan keterkejutan yang luar biasa kala mendengar ucapan keponakannya itu. Arka bocah berbahaya. "Om lihat TV kok," elak Lingga seraya menyambar remote yang ada di atas meja kaca di depannya. "Bohong. Om Lingga nontonin kak Oza!" "Ga, Arka!" Suara Lingga mulai terdengar tegas, membuat Arka bungkam dan pura-pura melihat kearah lain. "Tontonan bagus ya, Ga" Airin terkekeh lepas dan berlalu menuju dapur sesuai tujuan awal wanita itu. Mendengar tawa Airin, Lingga lantas beranjak dan mulai berjalan menuju kamarnya. Sesekali ia melirik kearah Oza yang juga tengah meliriknya. Ketika mata mereka bertemu karena saling lirik, Lingga sontak mengalihkan tatapannya. Ia mengacak rambutnya dan mempercepat langkahnya. *** "Bukannya ga mau bu, Oza aja yang kemarin belum bayar utang ibu. Saya ga bisa kasih." Sudah lebih dari lima belas menit adu mulut antara dua orang wanita paruh baya itu terjadi. Dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mereka untuk mengakhiri dan saling mengalah. "Anak saya pasti bayar. Cepet kasih saya rokoknya" Rosita sedikit menaikan nada bicaranya. "Modal rokok itu gede bu, untungnya aja ga seberapa. Kalau ibu ngutang terus di sini bisa bangkrut toko saya. Enak kalau anak ibu bayarnya tepat waktu, kadang lama banget bisa sampai berminggu-minggu" "Ga usah jelekin anak saya. Kalau ga mau ngasih ya udah" Brak! Rosita melempar barang dagangan toko tersebut yang ada di dekatnya dengan raut wajah murka. Ia berteriak mengeluarkan u*****n kasar pada sang lawan bicara seraya mengacak-acak isi toko tersebut. Sang pemilik toko berteriak meminta pertolongan dengan orang yang ada di sekitar sana guna mengamankan Rosita. Seketika toko tersebut menjadi ramai karena ulah wanita paruh baya itu. Mereka sibuk memegangi Rosita dan menarik wanita itu menjauh dari toko. *** "Oza pulang ya Mbak Ambar" Oza meraih ransel kecil di ujung sopa yang ia duduki. Ia berdiri lantas langsung memakai ranselnya. "itu jangan lupa di bawa, Za" Ambar menunjuk dua kotak martabak di atas meja yang ada di ruang tengah. Tadi sebelum pulang ia menyempatkan membawakan pesanan Arka, tak lupa babysitter kesayangan anaknya pun turut ia sertakan. "Makasih ya Mbak, Oza pulang dulu." Oza tersenyum singkat kemudian berbalik menatap Arka, "Dah Arka," Oza melambaikan tangannya kearah bocah itu seraya tersenyum hangat. "Dah kak Oza," Arka balik tersenyum dan melambaikan tangannya yang sudah kotor oleh cokelat toping martabak yang ada ditangannya. Namun baru beberapa langkah Oza melangkahkan kakinya, tiba-tiba pintu kamar di sebelah selatan ia berdiri di buka secara tiba-tiba, menampakkan sosok Lingga yang keluar dengan tergesa. Rambut setengah basah yang di tutupi peci, serta sarung yang menggantung di pinggangnya sedikit berantakkan. "Kenapa, Ga?" suara Ambar membuyarkan lamunan Lingga. "Oh- enggak Mbak, Lingga haus" sangkal Lingga. Pria itu menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan menuju dapur. Sekali lagi ia sempatkan melirik Oza yang tiba-tiba diam mematung. "Kamu ga Isya' di masjid?" Airin yang sedang membawa nampan berisi minuman dari dapur pun menoleh kearah Lingga. "Aku Isya' di kamar. Tadi niatnya mau di masjid, tapi telat" Lingga urung melanjutkan tujuannya menuju dapur, ia lantas mengambil minuman di atas nampan yang Airin bawa. Mendengarnya Airin mengangguk pelan. Tak sengaja mata Airin menangkap punggung Oza yang baru saja menghilang di balik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Setelah menyaksikan pemandangan yang cukup tak biasa tadi, Oza baru tersadar akan posisinya yang sedari tadi mengikuti pergerakan Lingga. Buru-buru gadis itu melangkah pergi setelah tak sengaja kembali melakukan kontak mata dengan Lingga. "Oza pulang malem gini ga takut apa ya?" Ambar kembali membuka obrolan, ia menarik tisu yang ada di atas meja di depannya kemudian mengelap tangan Arka yang kotor akibat makan sendiri. "Dia ga di jemput?" tanya Airin. Dua ibu dan anak ini kembali akur setelah sempat bertengkar karena mempermasalahkan status bujangan Lingga. Waktu terlama masa perang dingin mereka paling hanya bertahan lima jam. Setelahnya kembali normal, seperti tak terjadi apa-apa. "Setahu Ambar sih enggak" "Oza punya kakak ga sih?" "Ga tahu juga, Ma" "Iya juga ya, jaman sekarang itu rawan kejahatan, ap- Mau kemana, Ga?" perkataan Airin terhenti kala melihat Lingga beranjak dengan tergesa. "Mau keluar bentar cari soto" Lingga masuk ke kamarnya dan langsung menyambar kunci mobil serta dompetnya, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Airin dan Ambar menatap punggung Lingga yang sudah menghilang di balik dinding pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah tempat mereka duduk. Hingga di detik berikutnya Airin baru tersadar akan satu hal. "Lingga 'kan ga suka soto?" *** Oza berdiri di dekat pos satpam komplek perumahan rumah Airin. Ia harus berjalan ke gerbang depan komplek jika ingin bertemu transportasi sejenis taksi ataupun ojek. Ojek online yang sebelumnya ia pesan tak sengaja ia cancel, dan hal itu baru Oza sadari ketika sudah keluar dari rumah Airin. Poor Oza. Saat sedang sibuk mencari keberadaan taksi dan sejenisnya, suara klakson mobil membuat Oza menoleh sekilas. Ia minggir sedikit menjauh dari jangkauan mobil tersebut, ia pikir ia menghalangi jalan sang pengemudi. Tapi suara klakson tersebut kembali terdengar, dan mobil tersebut belum juga berjalan. "Pak, itu kenapa?" Oza bertanya pada satpam yang sekarang keluar dari posnya, juga menatap heran kearah mobil tersebut. "Ga tau, Mbak. Entar saya cek dulu" Satpam itu berjalan menghampiri mobil tersebut, ia mengetuk kaca jendela mobil dan menunggu kaca tersebut di turunkan. "Loh? Pak Lingga. Ada apa Pak?" "Maaf buat keributan ya Pak. Cuma mau nyuruh cewek itu masuk kok" Saat melihat kearah Oza kembali sedetik kemudian Lingga terdiam, ia mengamati interaksi yang ada di depannya dengan perasaan tak suka. Disana di tempat Oza berdiri itu, seorang pria yang mengendarai motor matic berwarna hijau itu sudah berdiri di hadapan Oza. Pria tempo hari yang ia lihat di ruko jasa photocopy depan kantornya. Pria yang mengusap puncak kepala Oza tempo hari, kini kembali melakukan hal yang sama. Tersenyum sok lembut dengan tatapan yang begitu teduh menatap Oza. Oke. Lingga putar balik. Tidak mungkin 'kan ia sok-sok membuat adegan seret menyeret di depan sini. Itu bukan gaya seorang pengusaha muda macam Lingga yang di kenal tenang. Walaupun tak menutup kemungkinan hatinya sudah ketar-ketir, tapi sikap tenang tersebut masih tetap ia pertahankan. "Oh Mbak yang itu? Bentar saya panggilin Pak" "Ga usah. Saya pulang duluan, maaf untuk keributannya Pak" "Oh siap Pak" satpam tersebut melangkah mundur memberi jalan untuk mobil Lingga bergerak lebih leluasa. Lingga langsung putar balik menuju rumahnya. Apalagi saat melihat Oza sudah duduk manis di jok motor pria itu. Membuat perasaan complicated yang belum pernah ia rasakan tiba-tiba muncul. Lingga kesal, Lingga marah, dan Lingga tak berdaya. Ia kesal dan marah karena tak bisa berbuat apa-apa kala melihat pemandangan di depannya. Setibanya di rumah, Lingga baru menyadari bahwa ia masih mengenakan perlengkapan sholatnya. Lingga berjalan memasuki rumah seraya membuka peci yang ada di kepalanya. Tujuan utamanya saat ini adalah kamar. Namun hampir saja ia sampai mendekati handle pintu, suara Airin melempar pertanyaan padanya membuat Lingga menoleh sekilas pada wanita itu. "Kok cepet banget makan sotonya, Ga?" "Lingga lupa ga suka soto" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD