09. Psikolog

1211 Words
Dua minggu pertama di Jakarta Lingga lewati dengan perasaan yang berusaha di buat tenang. Padahal karakter tenang dari dulu memang sudah melekat dalam diri lelaki itu. Tapi tidak untuk dua minggu terakhir. Perasaan aneh tersebut semakin menjadi-jadi dan sedikit menggangu aktivitas rutinnya, Seperti bekerja dan tidur. Hari ini pria itu sudah siap dengan kemeja kerjanya. Pagi-pagi sekali ia sudah rapi dan bersiap turun untuk sarapan. Kali ini ia akan bertemu seseorang yang di rasa dapat membantunya dalam mengatasi perasaan aneh dalam dirinya beberapa hari belakangan. Besar harapan Lingga pada orang tersebut. "Pagi banget, dek" Lingga mendongak dari piring nasi goreng yang ada di hadapannya, kakaknya Ambar duduk di depannya dengan tangan yang sibuk menyuapi Arka. "Mau ketemu orang yang udah buat janji dulu di luar kantor, baru nanti habis itu langsung ke kantor" Ambar mengangguk mendengar ucapan Lingga, ia kembali menghadap Arka dan mengelap dagu Arka yang terkena tumpahan kuah sayur kala bocah itu menerima suapannya. "Mbak sama Arka semalam menginap di sini?" Ambar melirik adiknya itu sekilas sebelum memasukkan suapan terakhir nasi ke mulut Arka. "Iya, Mas kamu ke Padang tadi malam, ada urusan urgent katanya" Lingga mengangguk menanggapi, pria itu kembali menikmati sarapannya dengan khidmat. "Pagi banget, Ga" Airin duduk di samping Lingga dengan anggun, nada suaranya menyiratkan sindiran yang begitu kentara bagi yang mendengarnya. Dan hal itu tiba-tiba sedikit menggangu nafsu makan Lingga untuk sekarang. "Arka, kalau kamu udah besar, kamu harus punya target hidup ya sayang." Lingga tiba-tiba menghentikan suapannya kala mendengar ucapan Airin, ia tau kemana ucapan Mamanya ini akan bermuara. "Selain kalau kamu sudah mapan, kamu harus buru-buru cari pasangan. Kan kasihan anak kamu nanti masih kecil-kecil tapi bapaknya sudah tua" Airin seolah berbicara pada Arka, tapi wejangan yang di tujukan sama sekali bukan untuk bocah itu. Sehingga membuat mata anak itu mengerjap lucu mencoba memahami ucapan sang nenek. "Pasangan itu apa, nek?" tanya Arka polos. "Ma, udah lah. Masih pagi ini" Sela Ambar sebelum Airin kembali berbicara yang tidak-tidak di depan Arka. "Ya kan Mama ini bener toh ngomong. Yang salah itu mengabaikan nasehat. Iya kan Lingga?" Airin berbalik menatap Lingga yang ada di sampingnya. "Lingga berangkat sekarang" Lingga meletakkan sendok yang ada di tangan kanannya, lantas berdiri dan meraih tangan Airin, mencium tangan tua terawat itu pamit. Semarahnya atau sejengkelnya Lingga, ia tak pernah absen mencium tangan Airin kala akan pamit pergi. Kegiatan ini sudah ia lakukan dari awal pria ini duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Alasannya cukup ringkas. Lingga melihat anak tetangganya yang sedang marah besar kala sang ibu tak mau menuruti kemauannya, tapi kala anak itu pulang, rumahnya sudah ramai akan pelayat yang tengah mendoakan ibunya yang tengah terbujur kaku. Airin dan Ambar menatap kepergian Lingga dengan dua tatapan yang berbeda. Dua wanita beda generasi itu masih bergeming untuk beberapa saat selepas Lingga pergi. "Mama jangan terus-terusan mendesak Lingga, Biarkan dia menjalani kehidupannya sendiri. Lingga itu sudah besar!" Ambar tiba-tiba berujar. "Mama desak dia supaya sadar umur dia itu sudah ga muda lagi. Di dalam garis keturunan keluarga besar kita tidak ada laki-laki yang tidak mempunyai pasangan. Mama ga mau Lingga jadi aib keluarga!" "Lingga itu butuh di bimbing bukan di sindir,Ma" "Sampai kapan Lingga peka akan nasehat sama bimbingan Mama? Sesekali anak itu harus di sindir. Kamu ga malu adik kamu jadi bahan gosip orang lain?" "Tapi ga seharusnya Mama bahas pernikahan setiap detik kala bertemu Lingga. Ini juga salah satu alasan Lingga ga betah tinggal di rumah ini sama Mama." Ambar mengangkat Arka yang sedang menikmati potongan buah melon di hadapannya, meninggalkan Airin yang tertegun lama. *** Lingga berjalan tenang di lorong sebuah Yayasan Jasa Konsultasi, melangkah pasti menuju ruangan seseorang yang sudah membuat janji dengan dirinya kemarin. Begitu sampai di depan ruangan orang tersebut, kedatangan Lingga sudah di sambut oleh seorang wanita cantik yang berdiri di samping ruangan yang ia tuju. "Bapak Lingga Prabuyasa, Anda sudah di tunggu oleh Bapak Aziz" Lingga mengangguk menanggapi, tanpa senyum dan tanpa suara. Sekali lagi, Lingga menghela napas sebelum memasuki ruangan berpintu cokelat muda yang ada di hadapannya. Setelah yakin, barulah Lingga memantapkan langkahnya untuk masuk ke ruangan tersebut. Aziz tersenyum kala melihat Lingga berdiri tegap di hadapannya. Rasa bangga sempat terselip di hati konsultan paruh baya itu karena memiliki kesempatan untuk bertemu secara langsung dengan pria muda berkharisma ini. Nama Lingga memang terdengar tidak asing bagi penikmat majalah bisnis mingguan. Prestasi keberhasilan pria ini banyak membuat orang terkagum-kagum kala di bicarakan satu persatu. "Selamat datang Bapak Lingga Prabuyasa, senang bisa menjadi konsultan yang anda percayai" Aziz mengulurkan tangannya mengajak Lingga bersalaman. "Sebelumnya panggil saya Lingga saja Pak Aziz," Lingga tersenyum kecil mendengarnya, ia ikut mengulurkan tangannya membalas jabat tangan Aziz. Aziz tersenyum seraya mengangguk singkat, mengajak Lingga duduk dan bersiap mendengar keluhan pria itu. "Oke relax saja, Lingga. Anggap saja saya ini teman curhat kamu tanpa embel-embel konsultan dan klien yang membuat hubungan kita sekarang terasa formal" Lingga mengangguk, ia menarik napasnya kemudian menghembuskannya perlahan. "Saya punya sedikit masalah yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini, jadi saya harap anda dapat membantu" "Coba ceritakan sedetail mungkin, dari awal anda mulai merasakan perasaan 'mengganggu' yang anda maksud" "Dua minggu yang lalu saat saya melakukan kunjungan kerja mendadak saya bertemu seorang gadis di kantor saya. Awalnya dia hanya ingin mengantar berkas karyawan saya yang memakai jasa photocopy-nya. Saya sempat membuat perjanjian konyol untuk terus bisa berbicara banyak dengan dia, walaupun saya tahu hal itu tidak masuk akal sama sekali tapi tetap saya lakukan," "Contohnya hal seperti apa?" pancing Aziz "Saya membawa-bawa kode etik perusahaan yang menjunjung tinggi kerahasiaan, jika salah satu ide besar perusahaan saya sampai di tiru perusahaan lain maka ia sebagai orang di luar instansi saya yang bertanggung jawab atas hal tersebut" Bak kerbau di cucuk hidung, Lingga bercerita tanpa beban. "Reaksi gadis itu bagaimana?" "Ia bersikeras mengatakan bahwa ia hanya seorang tukang photocopy yang tak tahu apa-apa, jadi saya memaklumi karena kesalahan dari karyawan saya juga sangat tidak bisa di tolerir. Jadi saya meminta ia mengingat karyawan yang pernah menggunakan jasa photocopy-nya. Karena frustasi tidak mengingat siapa saja, ia mencentang random pada foto karyawan yang saya tunjukkan." Jeda sebentar yang di ambil Lingga "Disanalah awal perasaan aneh muncul, saya menikmati setiap ekspresi yang keluar dari wajahnya. Dan di dua minggu terakhir perasaan mengganggu tersebut benar-benar mengganggu dalam arti yang sebenarnya. Saat insomnia saya menyerang hampir setiap malamnya, biasanya ingatan saya langsung tertuju pada pekerjaan. Tapi di dua minggu terakhir sejak kemunculan gadis itu bukan pekerjaan saya lagi yang terpikir jadi prioritas," "Dan itu benar-benar mengganggu" lanjut Lingga "Anda terus menerus mencari alasan untuk bertemu dengan gadis itu?" Aziz memulai rentetan pertanyaannya. "Ya," "Menyukai setiap ekspresi yang ada di wajahnya?" "Ya," "Perasaan 'mengganggu' kerap muncul kala pikiran anda sedang tertuju pada gadis itu?" "Ya," "Apa perasaan 'mengganggu' itu muncul di sertai debaran?" "Ya," Lingga menjawab sederet pertanyaan dari Aziz lugas dan singkat Aziz tersenyum menyimpulkan hasil analisisnya, coretan di kertasnya tak begitu banyak di kertasnya kala mendengar cerita Lingga di awal ia bertanya. "Tidak usah khawatir nak Lingga, ini gejala wajar yang di rasakan pria saat sedang jatuh cinta" Lingga terdiam di tempatnya kala mendengar kalimat terakhir Aziz. "Seharusnya tidak perlu sampai ke psikolog seperti saya toh nak Lingga. Mana mungkin begitu saja tidak peka dengan perasaan sendiri" Aziz tak mampu menahan senyum gelinya ketika melihat wajah linglung Lingga.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD