Lingga berbaring, menatap langit-langit kamar tidurnya dengan pandangan menerawang. Pikirannya kembali pada kilas kejadian hari ini.
Jika biasanya yang selalu terbayang di benak Lingga kala sedang melamun adalah pekerjaan, tapi berbeda untuk kali ini. Bayangan pekerjaan yang belum rampung sempurna mendadak tak berkeliaran di pikirannya. Namun sebaliknya, bayangan hal yang membuatnya gelisah lah sedari tadi simpang siur di pikirannya.
Lingga memejamkan matanya sejenak, pria itu bangun dari berbaringnya lantas langsung menyambar laptop yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia mencoba mengalihkan pikiran anehnya dengan cara bekerja.
Tak sampai lima belas menit kemudian, Lingga kembali bergerak gelisah.
Bayangan ketika Oza tersenyum lebar kala memberikan berkas yang ia bawa untuk di photo copy tadi mendadak muncul. Gadis itu tampak begitu berbeda di matanya.
"Ini berkas copy-annya, dan ini yang asli. Terimakasih"
Brak!
Lingga menutup laptopnya kasar, kemudian berbaring kembali.
Ini benar-benar menjengkelkan untuk orang semacam Lingga. Kepikiran orang asing hampir setiap menitnya, membuat Lingga kesal akan dirinya sendiri.
***
"Kenapa mata kamu?"
Lingga menatap Airin sekilas, lantas kembali menyantap sarapannya.
"Ga bisa tidur" jawab Lingga singkat.
"Kebiasaan kerja mulu sih kamu. Jadi orang kok gini banget. Aset kamu buat lamar anak gadis orang tuh udah cukup, mau cari apa lagi kamu?"
Lingga menghela napas kesal. Selalu saja pembicaraan mereka bermuara soal pernikahan.
"Lingga emang ga bisa tidur, Ma. Makanya sekalian nyelesain kerjaan"
"Makanya nikah dong! Jadi bisa ada yang nidurin kalo kamu susah tidur"
Astagfirullah mulut Mamanya. Ini kenapa Airin yang nyinyir, Lingga yang malu?
"Lingga berangkat, Ma"
Memilih mengalah, Lingga beranjak dari kursinya dan mengambil tas kerjanya yang ada di samping kursi yang tadi ia duduki
"Tuh kalo di bilangin, bisanya menghindar mulu"
"Assalamualaikum" Lingga melenggang pergi seraya mengucap salam kala Airin kembali mengeluarkan kalimat bernada ketusnya.
Bukan apa-apa, sebagai seorang ibu tentu ada rasa khawatir kala melihat anak lelakinya yang masih membujang di umur yang sebentar lagi menginjak kepala tiga. Berbagai gosip dari teman-teman Airin semakin membuat ibu dua anak itu pusing.
Lingga di olok sebagai pria tidak normal oleh teman-teman Airin, karena beberapa kali menolak di kenalkan dengan anak gadis mereka. Tentu saja gosip semacam itu walaupun tidak terbukti kebenarannya ya buat malu juga.
***
Lingga berdiri di pinggir jalan depan kantornya, menatap ke seberang jalan dengan bola mata yang bergerak seolah mencari sesuatu.
Ini masih terlalu pagi dari jam biasa ia datang. Tapi entah apa yang pria tinggi ini lakukan di pinggir jalan seperti ini. Memandang ke arah ruko jasa photo copy yang masih tutup di depan sana dengan pandangan tak terbaca.
Beberapa menit kemudian, mata Lingga semakin menajam kala melihat sebuah motor yang di naiki dua orang beda kelamin tersebut berhenti di depan ruko.
Sang wanita turun, membuka helm yang ia kenakan dan kembali memberikannya pada lelaki yang mengendarai motor matic berwarna hijau tersebut.
Lingga tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Selain karena jarak yang lumayan jauh, lalu lalang kendaraan juga membuat ia tak puas menangkap gerak-gerik dua orang tersebut.
Namun untuk di detik berikutnya, mata Lingga terbelalak secara otomatis. Gerakan mengusap puncak kepala itu sontak terlihat jelas di mata Lingga.
Rasa gelisah yang ia rasakan seperti semalam mendadak muncul. Lingga bingung menghadapi dirinya sendiri. Pria itu memutuskan berbalik dan masuk ke dalam kantornya.
Kenapa setiap hal yang berhubungan dengan Oza membuat dirinya jadi aneh begini? Sebenarnya apa yang terjadi? Begitu batinnya bertanya.
***
Oza mendongak, memandang pria berkulit sawo matang di depannya sekarang dengan pandangan bertanya.
Kali ini ia di kejutkan kembali oleh kedatangan Lingga. Pria berwajah datar itu kembali menginjakkan kaki di tempat kerjanya. Di tangan kanannya terdapat tumpukan berkas dengan jenis kertas A4 yang tidak terlalu banyak.
"Kenapa?"
"Salin" jawab Lingga santai.
Oza mengangguk, lantas berdiri dan mengambil tumpukan kertas yang ada di tangan Lingga. Namun saat Oza mengambil kertas tersebut, tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Lingga pula. Hal tersebut menimbulkan dua efek berbeda yang mereka rasakan.
Oza ya biasa saja, hanya saja reaksi Lingga yang sedikit berlebihan. Sehingga menyebabkan kertas yang ia pegang tercecer saat memberikannya pada Oza.
Demi apapun, Lingga ini adalah orang yang tenang. Tapi beberapa hari belakangan ini karakter tenang yang selalu melekat saat situasi apapun mendadak tak terkontrol oleh dirinya.
Oza berdecak kesal, ini kalau susunannya berantakan gara-gara tercecer, sedikit menyulitkan Oza 'kan.
"Ini gimana susunannya?"
Oza berdiri setelah memungut kertas yang terjatuh gara-gara Lingga tadi. Ia menaruh kertas-kertas tersebut di atas meja guna menyusun ulang urutan halaman.
Lingga berdeham, pita suaranya mendadak serak.
"Acak saja tidak masalah"
Oza mengangguk, ia berbalik menuju mesin photocopy yang terletak di sudut ruangan dan mulai mensetting mesin photocopy nya.
"Berapa rangkap, Pak?" tanya Oza
"Lima" jawab Lingga singkat.
Setelah melihat Oza mengangguk, Lingga menarik kursi plastik yang ada di sudut ruangan lantas mendudukinya.
Selama Oza melakukan pekerjaannya, mata Lingga tak sedikitpun luput mengawasi gerak-gerik Oza. Ia memandang objek di depannya ini sambil terus memikirkan rasa gelisah yang akhir-akhir ini hinggap sejak objek yang di pandangi muncul di sekitar kehidupannya.
Ini terasa aneh dan begitu tak masuk akal bagi Lingga. Terasa cepat dan begitu tiba-tiba.
"Semuanya delapan puluh lima ribu, Pak"
Lingga kembali tersadar, ia berdiri kemudian merogoh saku belakang celana bahan yang ia kenakan guna mengambil dompet.
"Kembaliannya ambil saja" ucap Lingga kemudian.
"Ga usah," buru-buru Oza menuju meja kasir dan mengambil uang kembalian dari pecahan seratus ribu rupiah yang Lingga beri padanya.
"Gapapa" Lingga kembali berucap setelah berkas yang ia butuhkan berada di tangannya. Pria itu berbalik dan bergegas kembali ke kantornya.
Melihat Lingga yang akan segera pergi, buru-buru Oza berlari menuju pria itu dan menahannya.
"Bentar"
Deg!
Sentuhan tangan Oza di tangan kiri Lingga membuat waktu di sekitar Lingga terasa berhenti.
Refleks pria itu menolehkan kepalanya kearah Oza kala sentuhan pertama wanita itu di tangannya.
"Cuma mau ngasih kembalian kok,"
buru-buru Oza melepaskan tangannya saat sudah berhasil menahan Lingga untuk berhenti berjalan, ia mengulurkan kembalian uang yang Lingga beri tadi kearah pria itu.
"Sudah saya bilang ga usah!"
Oza terkejut kala nada suara Lingga terdengar naik satu oktaf di telinganya. Tanpa sadar Oza melangkahkan kakinya mundur selangkah dengan mata yang refleks terpejam.
"Ya- ya udah gapapa"
Lingga menghela napasnya kasar, mendadak rasa gelisah tak beralasan itu kembali muncul di tengah-tengah rasa kagetnya. Ia yang kaget akan sentuhan tangan Oza, sedangkan Oza yang tampak kaget akan bentakan spontannya. Fix, mereka sama-sama kaget.
Dan sumber masalah momen awkward selanjutnya tak mampu mengatasinya pula.
***