"Makasih ya Kak Randi, Oza udah bilang ga usah di jemput padahal"
Oza mengulurkan helm yang tadi ia kenakan selama perjalanan menuju tempat kerjanya kearah Randi seraya tersenyum kaku. Tak enak juga 'kan hampir setiap hari di jemput terus. Ya walaupun terkadang di lain hari Randi juga tidak menjemput, itu pun atas paksaan Oza.
"Gapapa. Kok jadi kayak orang lain aja sih, Za" Randi tersenyum mengambil helm yang Oza ulurkan kearahnya.
"Ga enak lah Kak. Ngerepotin mulu jadi nya. Kapan-kapan Kak Rendi repotin Oza lah" Oza tertawa diakhir ucapannya, membuat tawa cerah di pagi ini mendadak menular pada Rendi.
"Entar kapan-kapan Kakak bakal 'repotin' kamu. Tapi awas aja ga di sambut dengan baik ya. Siapin dirinya biar ga kaget pas kakak repotin"
Oza tersenyum, mengangguk tanpa tahu maksud di balik kalimat misterius yang di lontarkan Rendi.
'Repot' dalam tanda kutip di sini jelas bagi yang memahami. Rendi menyukai Oza, tapi sang objek tidak sadar sepenuhnya akan perhatian yang pria itu berikan.
"Yaudah Oza masuk dulu ya Kak. Hati-hati kerjanya"
Rendi tersenyum mendengar kalimat bernada perhatian tersebut keluar dari bibir Oza. Pria itu buru-buru menutup kaca helmnya lantas mengangguk kalem.
***
Baru lewat tiga puluh menit Oza membuka rukonya, ia sudah di kaget kan oleh kedatangan Rina.
Gadis berkulit pucat itu tersenyum semringah kala berjalan mendekati Oza.
"Mbak Oza, coba tebak siapa yang dapet kerjaannya lagi?"
"Udah dapet kerjaan baru nih?" Rina menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Kemarin dapet telpon dari kantor kalau Rina dipanggil lagi. Kata Mbak Raya sih kemarin itu cuti doang"
Oza ingin tertawa rasanya. Alasan itu hanyalah tameng Lingga dalam menutupi kesepakatan bodoh mereka. kalau saja Oza tidak memohon dengan cara mempertaruhkan kenyamanan dirinya, mungkin Rina ini sudah cuti selamanya.
"Selamat ya, yang rajin kerjanya. Jangan kebanyakan main kesini, entar bos kamu salah paham lagi"
"Iya Mbak. Mana denger-denger kantor sentral bakal pindah ke Jakarta. Jadi secara ga langsung Rina ga bakal sering-sering ketemu Mbak lagi dong" Rina memasang raut sedih yang membuat Oza tertawa lepas melihatnya
"Dulu aja bawel banget ga mau bolak-balik di suruh senior. Takut ketabrak mobil kata kamu"
"Hehe. Ga kok Mbak, Rina bakalan kangen banget sama teh kotak di kulkasnya Mbak"
***
Oza menempelkan pipi kirinya di meja kasir tempat biasa ia duduk menjaga ruko. Kepalanya menghadap kearah rolling door yang terbuka lebar di depan sana. Pagi ini terasa sepi, biasanya para karyawan di depan sana sudah hilir mudik menyerahkan tumpukan berkas untuk ia salin dalam bentuk hard copy.
Bosan, Oza membalikkan pipi kirinya yang menatap rolling door menjadi ke kanan, tepat pada arah mesin photo copy yang terletak disudut kiri ruko.
Sudah beberapa hari ini mesin tersebut tak melakukan tugas berat. Paling hanya beberapa siswa SMP yang meng-copy tugas makalah. Hal tersebut biasa Oza temui begitu, yang mengerjakan satu dan yang meng-copy satu kelas.
Terdengar langkah kaki sepatu pantofel yang semakin mendekat, Oza yang tadi kepalanya bersandar di atas meja segera menolehkan kepalanya kearah kiri menghadap rolling door kembali. Namun dengan pipi yang masih menempel pada meja.
Ekspresi kaget Oza nampak kentara di mata Lingga, membuat pria itu jadi ikut kaget melihat ekspresi Oza. Buru-buru Oza menegakkan kepalanya saat Lingga berjalan semakin mendekat kearahnya.
"Ada apa?" Oza berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar jengkel.
"Salin ini" raut wajah Lingga kembali datar.
Oza menatap horor tumpukan berkas tipis yang di ulurkan Lingga padanya.
"Saya ga mau"
Oza berpikir cepat, ia tak mau gegabah lagi untuk kali ini. Apa pria ini sedang bermain-main dengannya?
"Saya pelanggan" balas Lingga santai
"Saya udah mau tutup" Oza lagi-lagi mencari alasan.
"Ini masih pagi"
"Ruko ini bukan lagi penyedia jasa photo copy"
"Banner di depan belum berubah"
"Saya kehabisan HVS"
"Di sudut sana kertas karton?" tunjuk Lingga santai pada tumpukan kertas berbagai ukuran di sudut kanan ruko.
Oza menggeram pelan, ia kehabisan alasan.
"Bapak ini maunya apa?!"
"Mesin di kantor saya belum diperbaiki" Lingga menarik kursi plastik yang ada di pinggir dinding depan meja kasir yang Oza duduki, lantas duduk di sana dengan tanpa bebannya.
Bohong besar apa yang di katakan Lingga. Pusat perusahaan pria itu sudah akan berpindah di seberang sana. Bodoh jika peralatan kantor sentral tidak lebih lengkap dari anak perusahaan.
"Saya ga mau. Bapak kemarin berbicara tentang kode etik. Jadi secara tidak langsung, Bapak ini melanggar aturan"
"Saya tidak peduli"
Bagus sekali! Jawaban laki-laki ini membuat Oza semakin tercengang.
"Mohon maaf, Bapak bisa mencari jasa photo copy yang lain saja" Oza kembali menolak.
"Permintaan pertama"
"Ha?" Oza mendadak bingung akan ucapan tiba-tiba Lingga yang tidak masuk akal.
"Kesepakatan kita. Saya masih punya tiga permintaan"
Oza mengangguk paham saat Lingga kembali menjelaskan.
"Permintaan pertama, saya ingin kamu photo copy ini"
"Cuma ini saja" Pertanyaan Oza membuat Lingga menggeleng.
"Tidak, lain waktu saya akan kembali menggunakan jasa photo copy di sini"
"Saya ga bakal di salahin lagi 'kan?"
"Tidak,"
"Bos Bapak yang lain juga ga akan marah-marah sama saya 'kan?"
"Tidak"
"Pemilik tempat Bapak kerja juga ga akan marah 'kan?"
Lingga terdiam sejenak mendengar pertanyaan Oza untuk yang satu ini. Pria itu menatap mata Oza untuk beberapa detik.
"Tidak juga"
"Oke! Saya sepakat" teriak Oza girang.
Jadi Lingga ini membuang satu permintaannya dengan sia-sia?
Ini mudah untuk Oza. Gadis manis berambut sebahu ini tak kuasa untuk menahan senyumnya.
Tidak ada yang perlu di takutkan, benar?
Lingga ini orangnya aneh. Wajar saja permintaannya aneh pula.
Hal ini sama sekali tidak membuat Oza merasa di rugikan tentu saja.
***