Airin menatap heran kearah anak bungsunya itu. Pasalnya kemarin malam sudah mati-matian ia menahan Lingga agar tetap bersamanya disini untuk beberapa hari kedepan. Tapi seolah berbicara dengan sebuah perekam suara, alasan yang selalu di lontarkan tetap sama. Pekerjaan.
Tapi sekarang lihatlah, Anak bungsunya ini dengan sukarela sudah ada di rumah dari sore hari seperti sekarang. Demi apapun, ini kali pertama Lingga bersantai pada jam seperti ini di rumah. Biasanya juga pria gila kerja ini lebih suka menghabiskan waktunya dikantor dari pada di rumah.
"Ga, kamu enggak jadi pulang ke Bandung?"
Lingga mengangkat wajahnya dari tablet yang ada di tangannya, menatap wajah Airin sekilas.
"Minggu depan aja Ma. Masih kangen sama Mama"
Airin senang bukan main saat kata-kata yang ia nantikan keluar juga dari mulut Lingga. Apakah ini waktunya Quality Time antara ibu dan anak? Pikir Airin.
"Uhhh anak Mama akhirnya betah juga di rumah" Airin melompat keatas sofa yang di duduki Lingga kemudian memeluk anaknya itu dari samping dengan erat.
"Astagfirullahaladzim, Ma" Lingga berusaha menyeimbangkan pegangan antara tablet dan Airin agar dua hal ini tidak jatuh begitu saja.
"Mama seneng banget tau"
Satu kecupan dari bibir Airin mampir di pipi Lingga, membuat Lingga menghembuskan napasnya jengkel karena lipstik yang dikenakan Airin akan menempel.
Lagi pula Lingga heran. Di dalam rumah saja Airin masih mengenakan lipstik hanya untuk menyambut kepulangan Jonatan, ayah Lingga.
Padahal wanita paruh baya ini tetap cantik walaupun terlihat tanpa make up.
"Lagian Mama seneng tau-"
"Assalamualaikum"
Lingga dan Airin spontan mengalihkan pandangan keduanya kearah pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang santai yang mereka tempati sekarang. Terlihat sosok Oza dengan wajah lelahnya memasuki ruangan tersebut tanpa mengetahui situasi yang terjadi.
Merasa rumah ini terasa sunyi, Oza mengangkat kepalanya guna menelusuri ruangan di mana ia berada sekarang.
Mata Oza terbelalak melihat pemandangan di depannya. Seorang ibu dan anak lelakinya yang saling berpelukan? Tidak, itu biasa. Tapi jika di tambah ada bekas kecupan di pipi anaknya? Ya itu juga biasa. Yang tidak mengenakan adalah tatapan Airin yang menatap Oza seolah tak rela gadis itu masuk dan menggangu keseruannya bersama sang anak bungsu.
"Maaf bu, Oza ga lihat. Itu- hngg.. Oza langsung lihat Arka dulu ya bu"
Dua tatapan berbeda dari ibu dan anak itu membuat Oza mendadak kikuk. Ia memutuskan untuk segera ke ruangan bermain Arka, bocah lucu yang selalu di tinggal orang tuanya itu bekerja.
Tawa nyaring dari Airin membuat Lingga mengalihkan tatapannya dari punggung Oza yang sudah memasuki kamar bermain Arka.
"Kenapa?" tanya Lingga bingung
"Ga, Lucu aja si Oza"
"Sejak kapan dia jadi baby sitter Arka, Ma?" Tawa Airin mendadak lenyap, ia memandang Lingga menyelidik.
"Kenapa?" Lingga menatap Airin bingung karena sang ibu yang tak kunjung bicara.
"Kenapa tanya-tanya? Ga biasanya kepo"
"Memang kenapa?" Lingga mendongak menatap Airin yang sudah berdiri di depannya.
"Ga kok. Udah ah Mama besok mau minta di temenin belanja sama kamu"
"Ma, Lingga ga janji"
"Ga usah pulang lagi kesini" Sahut Airin santai, lantas menghilang di balik pintu dapur.
Loh? Kok jadi Mamanya yang sukarela ngusir Lingga? Padahal dulu berbagai hal bisa Lingga dapat dengan mudah dari Airin, hanya untuk sekedar menginap semalam di sini.
***
Oza tersenyum melihat Arka sedang memainkan game puzzle dari tablet yang ada di pangkuannya. Raut serius bocah berpipi gembul itu membuat Oza selalu ingin menciuminya terus menerus karena gemas.
"Ka, udah makan siang belum?"
Arka mendongak menatap Oza seraya melempar senyum manis untuk pengasuh kesayangannya itu. Ia meletakkan tabletnya lantas berlari kecil menuju Oza seraya mengulurkan kedua tangannya, isyarat minta di gendong.
"Udah Kak. Tapi Arka lagi pengen makan sup buah buatan Kakak"
Oza tertawa kemudian mencium pipi Arka sekilas yang membuat tawa geli Oza juga menular pada Arka.
Arka ini sebenarnya bukan tipe anak yang suka di cium sembarang orang. Teman-teman Ambar yang gemas padanya saja jika ingin menciuminya, Arka menolak. Bocah lucu itu hanya mengizinkan orang terdekatnya saja, ya walaupun Airin sebenarnya pengecualian.
Bukan apa-apa, bekas dan bau lipstik yang menempel di pipi Arka membuat Arka mual. Di cium Neneknya saja Arka bisa jadi badmood, kecuali jika Airin sedang tidak memakai lipstik.
Berbeda dengan Oza, pengasuhnya ini natural tanpa lipstik berwarna mencolok yang membuat orang sakit mata kala melihatnya.
"Yaudah Kak Oza buatin dulu buat Arka ya, Arka tunggu di depan aja sambil nonton,"
"Jangan lama-lama ya Kak"
"Iya"
Tubuh Oza mendadak kaku kala sampai di ruang tengah keluarga Jonatan. Ia mengeratkan gendongannya pada Arka agar tidak lepas.
Tatapan tak terbaca Lingga sudah menyambutnya kala ia tiba di sana. Pria itu belum juga beranjak dari duduknya.
Buru-buru Oza menurunkan Arka di sofa single yang tak jauh dari Lingga duduk.
"Kak Oza, melonnya yang banyak ya"
"Iya, tunggu bentar ya"
Setelah melihat anggukan kepala Arka, Oza buru-buru berjalan ke dapur guna menghindari tatapan Lingga. Oza tak terbiasa di tatap selekat itu oleh orang lain, apa lagi lawan jenis. Dan Lingga ini sejenis CCTV hidup lah jika di perhatikan.
"Masak apa Bu?" Oza mengambil mangkuk plastik besar yang berada tak jauh dari Airin berdiri mengiris bumbu dapur.
"Masak ayam kecap kesukaan Lingga, anak itu lagi tumben-tumbenan betah di rumah" Oza tak menanggapi, ia hanya diam setelahnya.
"Alpukat habis ya, Bu?" Setelah hening sebentar Oza kembali membuka suara guna bertanya.
"Ga tau, iya mungkin. Ambar belum ngecek tadi"
"Oh yaudah Bu, gapapa"
Oza mencampur bahan seadanya, toh jika melon bercampur s**u saja Arka suka. Jadi Oza tak perlu kebingungan. Mudah bukan mengurus anak lucu semacam Arka?
"Oza nyusulin Arka dulu ya, Bu. Nanti perlu bantuan ga?"
"Ga usah Za, kamu bantu Arka makan aja. Suka tumpahin s**u dia kalo makan ginian"
"Yaudah Oza ke depan ya Bu"
"Iya" Airin mengangguk kemudian tersenyum menatap punggung Oza yang semakin menghilang di balik pintu pembatas dapur.
***
Oza mendesah malas. Tidak mungkin ia harus terjebak bersama Lingga dan tatapan abstrak pria itu lagi 'kan?
Apalagi melihat Arka yang duduk di pangkuan Lingga seraya bermain game dari tablet Lingga. Masa iya harus duduk di dekat pria itu juga?
"Ka, ini sup buahnya" Arka menoleh sekilas, kemudian fokusnya kembali pada tablet yang ada ditangan Lingga.
"Suapin ya Kak Oza" ucap Arka.
"Ga mau makan sendiri?"
"Ga mau,"
Oza mengernyitkan dahinya, tak biasanya Arka bersikap manja begini. Namun tak urung Oza turuti juga maunya Arka.
"Om Lingga, mobilnya tambah ngebut" Arka berteriak heboh diatas pangkuan Lingga, membuat Lingga tersenyum kecil menanggapi tingkah keponakannya tersebut.
"Ka, ini jadi makan ga?"
"Bentar ya Kak"
Hampir sepuluh menit lamanya Oza menunggu Arka bermain game dengan kedua tangan memegang mangkuk berisi sup buah pesanan anak itu. Tanpa sadar mata Oza juga ikut terfokus pada game yang tengah Arka dan Lingga mainkan. Hingga lama-kelamaan kepala Oza semakin lama semakin mendekat guna melihat game yang tengah di mainkan.
Oza mengerjabkan matanya pelan, gadis itu tersentak kaget kala hembusan napas hangat menerpa pipi nya. Sontak saja Oza menoleh ke sumber udara hangat yang menerpa pipi kirinya. Dan Voilaa! Ujung hidung Oza langsung bersentuhan dengan dagu sang sumber udara hangat.
Buru-buru Oza memundurkan kepalanya dan kembali mengatur jarak duduk di ujung sofa.
Sedangkan Lingga, pria itu masih mematung, merasakan dirinya yang tiba-tiba bergeming untuk beberapa detik lamanya.
Itu tadi apa?
***