Oza menatap ragu pada pintu masuk yang terbuka lebar di depan sana. Di sisi kanan pintu tersebut ada seorang security dengan seragam lengkapnya tengah berdiri tegak mengawasi sekitar sana.
Oza berpikir keras akan keputusan yang harus ia ambil. Akan kah ia harus melangkah sejauh ini? Ikut campur bukan lah hal yang Oza sukai, tapi menurut Oza menyelamatkan banyak orang lebih baik dari pada menyelamatkan dirinya sendiri.
Stupid Statement.
Oza kadang merasa sebal juga akan rasa empatinya yang teramat besar. Bahkan Oza sudah di tipu pengemis sehat ratusan kali hanya karena wajahnya yang memelas dan cerita kosong yang di lontarkan oleh pengemis tersebut.
Sedang asik berpikir Oza dikagetkan oleh kedatangan security yang yang tadi sempat ia amati. Security itu meneliti wajah Oza sekali lagi untuk memastikan sebelum menarik tangan Oza untuk ikut dengannya.
"Pak, saya mau dibawa kemana?" Oza menarik tangannya agar lepas dari pria berbadan besar di depannya ini. Jalan saja tanpa adegan tarik menarik bisa 'kan? Apalagi sekarang Oza jadi pusat perhatian banyak orang. Hey ingatlah, Oza benci menjadi pusat perhatian!
"Tadi saya lihat-lihat Mbak ini mau masuk tapi ragu. Jadi sekalian aja saya antar"
Memangnya terlihat jelas? Oza tidak kelihatan bak orang yang kebingungan cari kerjaan 'kan?
Eh tapi?-
"Emang Bapak tau saya mau ketemu siapa?" Oza merasakan kejanggalan akan ucapan security tersebut, bak cerita riddle saja.
"Tadi Pak Aldo nyuruh Mbaknya langsung masuk aja kalo dateng. Langsung ke ruangannya Pak Lingga"
***
"Jadi? Apa yang membuat kamu kembali?"
Oza menundukkan kepalanya, tangannya sedari tadi hanya memelintir kecil ujung kaos yang dikenakannya. Padahal tadi ia telah mengumpulkan keberaniannya untuk bertemu Lingga, tapi setelah melihat sorot mata itu membuat nyali Oza kembali mendadak hilang.
"Saya- saya cuma mau bilang kalau yang saya lakukan kemarin ga bener" suara Oza terdengar lirih kala mengucapkannya.
"Jadi?" alih-alih menjawab, Lingga justru melontarkan pertanyaan singkat tak berisi macam itu pada Oza.
"Saya minta tolong Bapak jangan ngelakuin itu. Soalnya kan kasihan karyawan Bapak. Ini masalahnya klise loh Pak, kok dibesar-besarin"
"Klise?" Ulang Lingga dengan dahi berkerut menatap Oza.
Iya sebenarnya ini sepele. Pria ini saja yang terlalu berlebihan. Bukan tanpa maksud tentu saja, Lingga jika sudah tertarik akan satu hal suka berlama-lama. Tepat seperti sekarang.
"Hngg- iya" Oza buru-buru mengalihkan tatapannya kesembarang arah saat tak sengaja melakukan kontak mata dengan Lingga
"Dari sudut mananya?" Lingga bertanya santai seraya menatap wajah Oza lekat, Membuat Oza menghembuskan napasnya berat sebelum menjawab.
"Harusnya Bapak jangan gitu, kan bisa di konfirmasi dulu sama karyawannya atau karyawan Bapak yang lain. Saya kan udah bilang saya itu kemarin centangnya random. Saya harap Bapak jangan bertindak sesuka Bapak. Ada banyak orang sulit kehidupannya di luar sana kalau Bapak masih punya hati. Jadi saya mohon untuk Bapak mengembalikan pekerjaan mereka"
Lingga menyimak setiap ucapan sarat akan rasa jengkel yang Oza lontarkan. Bahkan lebih gilanya lagi, Lingga menikmati setiap kata yang terlontar dari bibir Oza.
Padahal hampir dua puluh sembilan tahun Pria gila kerja ini hidup ia paling anti dengan wanita yang suka mengoceh. Tapi entah apa yang membuat Lingga untuk kali ini begitu menikmati kata demi kata yang Oza lontarkan. Apa Lingga mulai mengalami perkembangan tidak sempurna pada otaknya?
"Makanya jangan ajak saya main-main. Saya ini orangnya serius, tidak suka candaan"
Bodo! Oza hanya ingin rasa bersalahnya ini terobati. Done. Just it.
"Intinya saya tidak ingin dihantui rasa bersalah dihidup saya yang masih muda ini. Tolonglah agar Bapak jangan bertingkah seenaknya seperti ini"
"Kalau saya menolak?" Lingga menatap Oza remeh seraya melipat kedua tangannya bersidekap di depan d**a, lantas menyandarkan punggungnya di kursi ternyaman favorite pria itu.
"Bapak harus mau," jawab Oza cepat.
"Apa jaminan kamu?" tanya Lingga lagi
"Jaminan?" Ulang Oza lagi
"Ya. Selalu begitu jika melakukan negoisasi dengan saya"
"Saya- ga punya" Wajah Oza nampak jelas berubah menjadi bingung di mata Lingga.
"Saya sulit untuk mempertimbangkan,"
"Hngg- begini saja, saya siap melakukan apapun yang Bapak mau. Asal jangan yang aneh-aneh atau yang berhubungan dengan finansial, saya mau."
Poor Oza! Harusnya perkataan itu jangan pernah terlontar! Kamu bisa saja terikat 'kontrak' seumur hidup dengan pria jenius sekelas Lingga ini!
"Tiga permintaan" jawab Lingga cepat
"Ha?" Oza membeo bingung menanggapi ucapan Lingga.
"Saya pertimbangkan, tapi beri saya tiga permintaan" Fix! sekarang Lingga berusaha menahan senyuman tipis yang tak sengaja terbit di sudut bibirnya
"O-Oke.."
No Oza! No!
"Bapak mau apa?"
Sadarkah Oza? Ini awal kesialan beruntunmu!
"Saya belum terpikir. Tapi kapan pun saya mau nanti, siap-siap saja saya minta."
"Saya harap bukan hal yang menjurus pada pelecehan" Oza berdiri kemudian menatap Lingga lekat. Ada sorot takut berpadu tak rela di mata Oza.
"Saya tidak serendah itu" Lingga lantas ikut berdiri kala di lihatnya Oza yang lebih dulu berdiri.
"Saya terima. Tapi saya harap Bapak menepati janji Bapak secepatnya."
Kesepakatan Bodoh? Tepat.
Karena hal ini lah yang akan membuat cerita ini semakin menarik.
***