Setelah perkenalan awkward antara Oza dan Lingga beberapa menit yang lalu, Oza langsung bergegas pamit pulang karena memang sudah waktunya gadis itu untuk pulang.
Berada di suatu regional dengan orang asing yang membuat rasa bersalah Oza akan orang asing lainnya, semakin membuat gadis cantik itu tak betah berlama-lama disana.
Oza tidak memusingkan akan pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan pria semacam Lingga, Toh katanya pria itu hanya sehari di Jakarta.
Terserah dengan rasa bersalah yang akan menghantui dirinya. Ia ingin menjadi orang yang masa bodo sesekali.
Pukul delapan malam, Oza bergegas keluar menuju gerbang untuk menemui ojek online yang telah ia pesan lima belas menit lalu.
Apa yang kalian harapkan dari adegan 'Mau Pulang' tersebut? Lingga menawarkan diri mengantar Oza? It's nice plot, right? Tapi alur yang kalian harapkan tidak akan ada dalam cerita ini.
Apalagi Oza ini hanya orang asing yang 'sedikit' mengganggu pikiran Lingga. Bukan keluarga, bukan teman, apa lagi teman hidup. Untuk apa seorang robot pekerja ini repot-repot mengantarnya pulang.
Tapi bukan masalah besar. Toh Oza selama ini selalu pulang dengan selamat 'kan?
Bahkan setelah dua puluh menit ia berada di perjalanan tadi, sekarang ia sudah sampai di pekarangan rumah sederhana peninggalan satu-satunya dari sang ayah sebelum beliau meregang nyawa.
Walau sederhana tapi rumah ini mampu melindungi ia dan ibunya dari panas dan hujan. Tidak perlu pusing memikirkan biaya sewa rumah jika ia harus mengontrak di sebuah rumah kontrakan.
Intinya walaupun hidup serba kekurangan, Oza masih dapat bersyukur dengan apa yang pencipta berikan pada nya. Sekecil apapun nikmat harus disyukuri bukan di dustakan.
Oza nyaman dengan hidupnya yang sekarang. Ia tak ingin kekacauan sekecil apapun merusak hidupnya. Itu lah mengapa Oza selalu menghindari sebisa mungkin masalah dengan orang lain. Baik berhutang materi ataupun budi. Apalagi mencari masalah dengan keluarga kaya yang kastanya jauh lebih tinggi darinya.
Misalnya saja masalah yang tak sengaja terjadi di tempat umum, Oza bahkan lebih memilih mengalah dari pada melanjutkan perkara. Walaupun jelas-jelas orang lain yang salah. Namun itulah cara bertahan yang aman menurut Oza.
Oza melepas sebelah tali ransel kecilnya, mencari kunci rumahnya lantas mengeluarkan kunci tersebut dan menutup ranselnya kembali. Ia membuka pintu kayu dengan cat dasar biru yang sedikit mengelupas itu teramat pelan. Takut jika ibunya sudah tidur dan terbangun jika ia grasak-grusuk rusuh masuk kedalam rumah.
Namun dugaan Oza salah. Ibunya masih duduk menghadap televisi yang menampilkan acara komedi kesukaannya.
Asap tembakau memenuhi ruangan sesak itu menyambut kedatangan Oza hampir setiap harinya. Ibunya benar-benar tak bisa di nasehati. Sudah berbuih rasanya mulut Oza melarang ibu dengan mengatas namakan kesehatan wanita paruh baya itu. Namun seolah pengang, batang rokok semakin bertambah semakin dilarang.
"Ibu udah minum obat?"
Rosita menoleh dengan asap yang sengaja ia hembuskan kearah Oza, bermaksud membuat anak gadisnya itu untuk menjauh.
"Bu.." Oza mengipas-ngipas tangannya di depan wajah, menghalau asap penuh racun itu memasuki paru-parunya.
"Kamu pasti capek, sana tidur"
Jawaban yang sama yang Rosita berikan membuat Oza sedikit banyak geram. Ia menyayangi kesehatan ibunya, tapi ibunya seolah mengabaikan perhatian yang ia berikan.
Oza paham selama ini ia pontang-panting mencari uang untuk pengobatan ibunya sia-sia belaka. Tapi apa salahnya ia berharap Rosita sembuh? Walaupun kecil kemungkinan penyakit Emfisema yang diderita wanita itu bisa sembuh semudah yang Oza impikan, hal tersebut kadang kala membuat Oza pesimis.
Dulu Rosita bukan perokok aktif, tingkah gilanya ini terjadi semenjak Arif, Suaminya meninggal. Kesedihan yang terlalu di ratapi membuat Rosita mengabaikan kesehatannya, bahkan mengabaikan Oza anak kandungnya.
"Oza capek Bu, Oza kangen ibu yang dulu. Terakhir kali ibu perlakuan Oza kayak anak beneran Oza bahkan lupa"
Tidak ada air mata yang jatuh, Oza mengucapkan kalimat tersebut dengan tatapan kosong kearah Rosita
Namun bukannya membalas ucapan Oza, Rosita memilih mengambil sebatang rokok lagi dari atas meja yang menumpu kakinya.
Oza tau Rosita mendapat rokok-rokok itu dari mana. Namun Oza memilih untuk tidak membesarkan perkara dengan berpura-pura tidak tahu.
Rosita mendapatkan rokok tersebut dari warung yang ada di pertigaan jalan raya dekat rumahnya. Dan esoknya Oza akan mendapat catatan hutang yang Rosita buat setiap harinya dari pemilik warung, tentu itu bukanlah nominal yang sedikit bagi orang seperti Oza.
Melihat Rosita yang semakin menjadi-jadi akan ucapan yang tadi ia lontarkan, Oza memilih beranjak dari duduknya dan meninggalkan ibunya sendirian.
***
"Batalkan keberangkatan saya"
Baru saja Aldo sampai dan menutup pintu ruangan bos nya itu, Lingga lebih dulu berkata pada Aldo tanpa mengangkat kepala nya dari tumpukan berkas yang sedang ia periksa.
"Tapi-"
"Kalau ada yang ingin bertemu dengan saya suruh ke Jakarta langsung. Saya akan mengurus kepindahan kantor sentral ke Jakarta"
Aldo kaget luar biasa, Bos nya ini senang sekali membuatnya mati berdiri. Bukan apa-apa, kesibukan asisten seperti dirinya tergantung dengan kesibukan bos macam Lingga. Satu bulan lagi persiapan pernikahannya, dan ia harus dipusingkan dengan pemindahan kantor sentral?
Memindahkan kantor pusat bukan semudah mengurus kepindahan sekolah. Banyak hal yang harus diubah dari Nol. Dan Bos gila nya ini berbicara seolah itu hal biasa dan tanpa beban.
Namun kata apa yang pantas diucapkan orang seperti Aldo untuk membalas ucapan mutlak Lingga?
"Ya, Pak. Akan segera saya laksanakan"
Just it. As usually.
Jika dilihat-lihat Aldo ini tergolong orang yang sabar, bukan?
"Satu lagi,"
Hampir saja Aldo berbalik dan meraih knop pintu, suara Lingga kembali menginterupsi kegiatan nya.
"Jika gadis kemarin kemari, cepat beritahu saya"
***
Oza mengernyitkan dahinya melihat Rina yang sedari tadi belum juga beranjak dari ruko tempat nya bekerja ini. Kegiatan gadis cantik berkulit putih pucat itu dari mulai Oza membuka ruko sampai sekarang jam sepuluh, hanya duduk dan memainkan ponsel pintar nya.
"Kok ga kerja Rin?"
"Aku 'kan kena PHK Mbak"
Jadi? Lingga tidak main-main dengan ucapannya?
"Kamu sendiri?" Oza bertanya dengan sangat hati-hati, ia tak ingin menimbulkan kecurigaan sedikit pun dari Rina.
"Banyak Mbak, dan yang kena PHK itu random. Karyawan yang ga tau apa-apa bahkan di pecat. Sampe OB yang ga tau apa-apa juga ikut di pecat. Pak Lingga beneran ga waras"
Kepala Oza mendadak pening. Ia tak menyangka coretan random yang ia lakukan kemarin terealisasikan. Hati Oza pun menjadi ketar-ketir, rasa bersalah kembali merasuk di hatinya. Oza bimbang.
"Aku ga berani pulang kerumah, Mbak. Mama belum tahu kalau aku di PHK. Jadinya aku di sini dulu ya Mbak untuk hari ini bantuin Mbak?" Rina menatap Oza memohon, setidaknya ia tidak ingin luntang lantung di jalanan bak orang yang habis kehilangan pekerjaan, Padahal kan iya.
"Mm... Rin-"
"Tampung Rina, Mbak. Rina ga siap di usir dari rumah"
Fix! Oza bimbang. Rasa bersalah menggerogoti hatinya yang tak tahu apa-apa.
***