Chapter 3

1126 Words
Tentu saja menjadi sebuah kabar gembira saat Atayya mengungkapkan segala kejadian yang dialami Atayya hari ini. Gadis itu menceritakannya kepada kedua orangtuanya saat mereka sedang makan malam bersama-sama. “Jadi, kamu berpikirnya kalau kamu melakukan kesalahan sampai kamu dipanggil ke kantor pusat, Nak?” tanya Papanya Atayya kepada anaknya itu. “Iyalah, Pa. Tapi, aku sangat bersyukur karena ternyata Boss besar panggil aku untuk memberikan penawaran khusus,” sahut Atayya. “Seperti yang Papa ajarkan ke kamu, ‘kan? Karma baik itu ada,” ucap sang Papa. Atayya tersenyum senang. Begitu pula sang Mama. Ia merasa tidak salah dalam memilih suami dan ia juga merasa tidak salah mendidik anak satu-satunya itu. “Pokoknya, sekarang kalau malam tidurnya jangan larut. Jangan sampai kecapean. Nanti, Papa belikan vitamin buat kamu,” ucap Papanya Atayya dengan panjang lebar. “Enggak perlu, Pa. Aku makan buahnya rajin kok sekarang. Tanya aja sama Mama,” sahut Atayya. “Iya, Ma?” tanya pria itu kepada istrinya. “Iya, Pa. Bahkan Atayya pernah makan 5 biji apel dalam sehari,” ungkap Mamanya Atayya. “Bagus deh. Jangan buah aja, sayurnya juga,” ucapnya lagi. “Siap, Komandan,” sahut Atayya. ... Keesokan harinya. Dengan kemeja putih lengan panjang dan dengan rok selutut menjadi seragam kerja baru untuk Atayya mulai hari ini dan seminggu ke depan. Sampai keputusan dibuat oleh Regan tentunya. Atayya tersenyum puas ketika ia berdiri di depan gedung kantor pusat. Gadis itu melenggang masuk dengan menunjukkan ID card yang diberikan Sabhira padanya kemarin. “Lalu, aku harus ke mana?” tanya Atayya pada angin di hadapannya. “Kak Sabhira sudah di sini atau belum, ya?” gumamnya. “Ya!” sapa seseorang seraya menepuk pundak Atayya dengan lembut. Tentu saja, hal itu membuat Atayya terkejut. “Kak Sabhira,” lirihnya ketika ia mendapati Sabhira lah yang menepuk pundaknya tadi. “Kenapa kamu?” tanya Sabhira seraya terkekeh pelan. “Aku bingung, Kak. Kemarin Kakak dan Pak Regan enggak ada kasih tahu aku di mana aku akan mulai bekerja,” jawab Atayya. “Ayok ikut dengan aku,” ajak Sabhira. Atayya pun menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia mengikuti langkah kaki Sabhira yang berjalan menuju lift. “Kak Sabhira mau ke ruang Pak Regan?” tanya Atayya. “Iya. Biar kamu tanya langsung ke Pak Regan juga,” jawab Sabhira. “O-oke, Kak,” sahut Atayya. “Kenapa kayak gugup lagi?” tanya Sabhira yang menyadari kalau saat ini Atayya sedang gugup. “Enggak kok, Kak,” sahut Atayya seraya terkekeh. Setelah beberapa saat, Sabhira dan Atayya pun tiba di ruang kerja Regan. Di sana masih sepi. Nampak bahwa Regan belum sampai. “Biasanya, Pak Regan datang jam berapa?” tanya Atayya. “Tepat pukul 8,” jawab Sabhira yang sedang sibuk membereskan dokumen di atas meja kerja Regan. Atayya pun tidak ingin diam saja. Gadis itu membantu Sabhira membereskan dokumen yang nampak berantakan itu. “Kalau pulang?” tanya Atayya lagi. “Pak Regan selalu pulang lebih lambat dari karyawannya. Makanya, kamu bisa lihat sekarang, ‘kan? Dokumen berantakan begini padahal hari masih pagi,” ungkap Sabhira. “Pagi,” ucap seseorang yang tiba-tiba menyelonong masuk. Orang itu tentu saja Regan. Hanya dia yang bisa keluar dan masuk perusahaan maupun area miliknya dengan sesuka hatinya. “Selamat pagi, Pak,” sapa Atayya seraya menyunggingkan senyumannya. Regan yang tadinya memasang ekspresi serius, kini ia juga menunjukkan senyumannya kepada Atayya. “Kapan datang, Ya?” tanya Regan dengan santai. “Sekitar 15 menit yang lalu, Pak,” jawab Atayya. “Saya ajak Atayya ke sini karena Pak Regan pun enggak memberi tahu saya di mana meja kerja Atayya,” timpal Sabhira yang baru saja selesai membereskan dokumen Regan yang berantakan di atas meja. “Oh, iya! Saya melupakannya,” ucap Regan. Ia yang tadinya hendak duduk, kini tidak jadi. “Ayok ikut dengan saya,”ajaknya kepada Atayya. Kemudian, Regan pun berjalan keluar dari ruang kerjanya. Diikuti oleh Atayya di belakangnya. “Jangan pernah menundukkan pandangan kamu kalau kamu sedang berada di keramaian atau kamu akan menabrak seseorang.” Baru saja Regan berucap dan Atayya sudah menabrak punggungnya. “M-maaf, Pak,” sesal Atayya yang masih menundukkan kepalanya. “Angkat kepala kamu, Atayya,” perintah Regan yang berdiri di hadapan Atayya. Ya, Atayya berjalan seraya menundukkan kepalanya karena banyaknya karyawan Regan memandanginya dengan tatapan sejuta arti baginya. Tentu saja ia merasa risih bercampur takut. “Jelas aja mereka lihatin aku. Aku jalan di belakang boss besar. Padahal aku bukan karyawan lama di sini,” batin Atayya. “Saya paling tidak suka jika pembicaraan saya diabaikan,” ucap Regan, kemudian ia menarik sebuah kursi kosong yang ada di dekatnya saat itu. “Ini meja kerja kamu. Jika kamu kesulitan atau butuh sesuatu, kamu bilang dengan orang yang ada di sekitar kamu. Saya akan memantau kamu melalui CCTV. Dan juga, itu beberapa dokumen yang harus kamu kerjakan hari ini,” ucap Regan panjang lebar. “Terima kasih, Pak.” Iya, hanya kata itu yang bisa dilontarkan Atayya kepada Regan. Regan menganggukkan kepalanya, kemudian ia menepuk pundak Atayya dengan lembut. “Selamat bekerja,” ucapnya sebelum ia meninggalkan area office yang berada di lantai 15 gedung kantor pusat miliknya. Sepeninggal Regan, Atayya pun duduk di kursi yang ditarik Regan untuknya tadi. Kemudian, gadis itu menyalakan komputer yang tersedia di atas meja dan ia mulai mengerjakan dokumen yang sudah ada di atas meja itu juga. “Nama kamu siapa?” tanya salah seorang karyawan yang duduk tepat di samping Atayya. “Atayya,” jawab Atayya. “Aku Jenni,” ucapnya memperkenalkan dirinya juga. Beberapa orang yang duduk tidak jauh dari Atayya, mereka mulai menggosip. “Aku takut jika dia ternyata adalah kerabat Pak Regan dan dia diutus untuk memantau kita.” “Ternyata kita sempemikiran.” “Ayok bekerja. Sebelum dia akan mengadu dengan kesalahan kecil kita.” “Mereka b*d*h atau bagaimana? Kantor sebesar ini tentu saja memiliki CCCTV. Mana mungkin kelakuan buruk mereka akan terabaikan. Ada-ada saja,” Atayya membatin. ... Sementara itu, Regan nampak sedang menaikkan bibirnya saat ia menatap ke layar komputer yang terhubung langsung dengan CCTV yang ada di lantai 15. Tepatnya, di office yang di sana ada Atayya. “Pak Regan,” panggil Sabhira. Namun, Regan mengabaikan perempuan itu. “Pak Regan,” panggil Sabhira lagi. “Iya?” Barulah lelaki itu menyadari kalau Sabhira sudah berdiri di hadapannya. Ini dokumen yang harus ditandatangani oleh Pak Regan,” ucap Sabhira. “Tinggalkan saja di sana. Nanti saya periksa sebelum menandatanginya,” ucap Regan. Sabhira menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah ia meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja kerja Regan, ia pun pamit pergi dari ruang kerja boss-nya itu. Regan nampaknya sedang dimabuk asmara. Dokumen di atas mejanya semakin menumpuk sedangkan ia sibuk menatap layar komputer yang menampakkan seorang Atayya tengah sibuk dengan pekerjannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD