Chapter 4

1092 Words
Sabhira yang sedari tadi berada di dalam ruang kerja Regan – ia menatap Regan dengan tatapan aneh. Sebab, tidak biasanya Regan bersikap begitu. Yang mana ia dengan mudahnya tersenyum. Sabhira yang takut jika terjadi apa-apa pada bossnya itu, ia pun menyadarkannya. “Pak Regan,” panggil Sabhira dengan lembut. Namun, panggilan Sabhira tidak membuat Regan tersadar dari lamunannya. Tidak kehabisan akal, Sabhira lantas mengetuk meja di hadapan Regan. Untungnya, Regan tersadar dan tidak marah pada sekretarisnya itu. “Kenapa?” tanya Regan dengan dinginnya. “Ini beberapa dokumen yang harus Pak Regan tanda tangani untuk keperluan rapat tim keuangan nanti sore,” jelas Sabhira panjang lebar. Regan lantas meraih dokumen yang diserahkan Sabhira padanya, ia membaca dengan detail apa yang ada di sana sebelum menanda tanganinya. “Pak Regan butuh sesuatu?” tanya Sabhira sembari menatap Regan. “Suruh Atayya membeli kopi yang biasa saya beli dan suruh dia sendiri yang mengantarnya ke sini nanti,” perintah Regan. “Biasanya Pak Regan suruh office boy,” gumam Sabhira. Regan lantas menatap Sabhira seraya menaikkan alis sebelah kanannya. “Atayya adalah karyawan saya,” ucap Regan. “Lalu, apa salah jika saya ingin menyuruh dia?” tanyanya. Sabhira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, sebab ia terlalu takut jika terlalu jauh membuat boss-nya itu merasa kesal padanya. “Maaf, Pak,” sesal Sabhira. “Sana,” ucap Regan mengusir. Sabhira segera permisi dari ruang kerja Regan – tanpa melupakan apa yang diperintahkan Regan padanya. “Atayya!” panggil Sabhira ketika ia sudah tiba di meja kerja Atayya. “Iya, Kak? Ada apa?” tanya Atayya yang langsung berdiri. “Pak Regan suruh kamu beli kopi di kafe seberang hotel utama. Bilang saja yang biasanya Pak Regan pesan,” ucap Sabhira sembari memberikan sebuah credit card pada Atayya. “Pin-nya apa?” tanya Atayya. “Nanti aku chat kamu,” jawab Sabhira sebelum ia pergi dari hadapan Atayya. Atayya pun langsung menjalankan perintah dari Sabhira itu. “Tunggu dulu, gue pergi naik apa deh?” gumam Atayya saat ia baru sampai di lobby kantor. “Ayok,” ajakan itu membuat Atayya menoleh ke sampingnya yang mana di sana sudah ada Regan yang berdiri. “P-pak Regan?” kaget Atayya. “Ayoklah,” ajak Regan lagi sebelum ia berjalan di hadapan Atayya. Atayya hanya bisa mengikuti perkataan Regan itu. “Saya dan Atayya ada urusan. Tapi, biar saya saja yang menyetir,” ucap Regan pada supirnya. Supir pribadi Regan yang paham, ia hanya membukakan pintu mobil untuk boss-nya itu. “Kuncinya di dalam, Pak,” singkatnya. Atayya yang tadinya hendak masuk ke dalam mobil bagian belakang, ia langsung mendapat teguran dari Regan. “Kamu fikir, saya ini supir kamu?” tanya Regan dengan sinisnya. “T-tapi, Pak.” “Di sini,” timpal Regan sembari menatap kursi sampingnya yang kosong. “B-baik, Pak,” sahut Atayya yang kemudian ia beralih. ... Sepanjang perjalanan menuju kafe, Atayya hanya bisa terdiam sembari memainkan jari jemarinya. “Untuk apa nyuruh gue kalau dia sendiri yang ikut pergi?” ia membatin. “Jangan ngedumel di dalam hati. Ngedumel di hadapan gua aja, enggak apa kok,” ucap Regan sembari tetap fokus pada jalanan di hadapannya. “Tadi Kak Sabhira suruh aku beli kopi untuk Pak Regan. Aku pikir Pak Regan lagi banyak kerjaan,” sahut Atayya. “Dan ternyata, Pak Regan bisa sesantai ini dengan karyawan,” lirihnya. Regan lantas tersenyum tipis, ia berusaha agar senyumannya itu tidak sampai dilihat oleh Atayya. Atayya mengeluarkan credit card pemberian Sabhira tadi kepada Regan. “Tadi Kak Sabhira memberi ini,” ucapnya sembari menyodorkan ke hadapan Regan. “Lo simpan saja. Supaya kalau gua mau jajan, gua bisa suruh elo, dan pin-nya itu tanggal lahir gua,” ucap Regan panjang lebar. Atayya lantas menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memahami ucapan Regan barusan. “Tahu tanggal lahir gua, ‘kan?” tanya Regan. Atayya menggelengkan kepalanya. “Beneran enggak tahu?!” tanya Regan yang nampak terkejut. “Untuk apa aku bohong,” gerutu Atayya. “Nanti tanya Sabhira,” ucap Regan dengan sinis. “Pak Regan marah sama aku?” tanya Atayya tanpa berani menatap Regan di sampingnya. “Enggak,” jawab Regan dengan ketus. Atayya hanya diam, ia tidak berani menyahut ucapan Regan lagi. Sampai mereka berdua tiba di kafe tujuan. Regan terlebih dahulu keluar dari mobil, disusul oleh Atayya di belakangnya. “Jangan berjalan di belakang gua,” ucap Regan sesaat setelah ia menghentikan langkahnya di depan pintu masuk kafe. “Dan gua enggak mau mendengar kata ‘tapi’ yang keluar dari mulut elo,” sambungnya dengan penuh penekanan. Mau tidak mau, Atayya yang tadinya berjalan di belakang Regan, kini gadis itu beralih ke samping kanan Regan. “Ayok, Pak,” ajak Atayya sembari tersenyum agar Regan segera kembali melangkahkan kakinya – masuk ke dalam kafe agar tidak menghalangi pengunjung lainnya. “Selamat siang, Pak Regan,” sapa seorang karyawan yang bekerja di sana. Regan membalas sapaan itu hanya dengan senyuman tipisnya. “Astaga! Senyumnya singkat dan tipis banget,” Atayya membatin kala ia tidak sengaja melihat ekspresi Regan setelah disapa. “Seperti biasa, Pak?” tanya karyawan itu, masih dengan nada bicaranya yang ramah. “Lo mau apa, Ya?” tanya Regan pada Atayya. Atayya mengamati papan menu yang terletak di atas meja kasir. Ia membaca satu demi satu menunya. “Enggak ada yang murah apa? Paling murah harga 45 ribu dong,” Atayya membatin dengan matanya yang melotot masih menatap papan menu itu. “Atayya,” panggil Regan dengan lembut. “Aku enggak mau apa-apa, Pak,” sahut Atayya. “Tenang aja, gua enggak akan suruh elo yang bayar kok,” ucap Regan. “Bukan perkara itu, masalahnya gue enggak mau repotin orang,” gumam Atayya. “Kayak biasa satu, waffle 2 porsi dan vanilla ice satu,” ucap Regan pada pegawai kafe itu. “Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar,” sahut pegawai itu dengan ramah. Regan pun berjalan menuju bangku yang tidak jauh dari meja kasir, ia menatap Atayya yang masih sibuk membaca satu demi satu menu yang ada di sana. “Mau sesuatu, Ya?” tanya Regan. Atayya menggelengkan kepalanya, kemudian ia berjalan menghampiri Regan dan duduk di samping boss-nya itu. "Baru sekali ini aku mendengar Pak Regan berbicara lembut kepada orang lain selain keluarganya." "Aku juga terkejut." Atayya yang mendengar desas-desus dari karyawan kafe itu, ia hanya bisa diam, tanpa ada rasa ingin marah atau rasa sedih. Baginya, hal itu sudah wajar karena setiap orang memiliki hak untuk menilai. Atayya juga tidak ingin berbesar hati karena ia baru saja mengetahui bahwa Regan bisa bersikap lembut pada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD