Chapter 6

1105 Words
Setelah beberapa menit di perjalanan, Atayya pun sampai di kantor. Ketika ia keluar dari dalam mobil, ia melihat adanya Gian di sana. Gian yang dulu pernah membantunya di hotel. “Pak Gian,” sapa Atayya sembari tersenyum menatap Gian, kemudian ia berjalan menghampiri lelaki itu. Gian yang tadinya hendak melangkah masuk ke dalam kantor, kini ia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah menyebut namanya. “Atayya,” gumam Gian. “Apa kabar kamu?” tanyanya ketika Atayya sudah berada di hadapannya. “Baik, Pak,” jawab Atayya tanpa memudarkan senyumannya. “Pak Gian apa kabar?” tanyanya kembali. “Kabar saya baik,” jawab Gian apa adanya. “Kamu habis dari mana?” “Dari hotel, antar dokumen.” “Sendirian?” “Iya. Tapi pas pulang tadi dijemput sama supirnya Pak Regan.” Mendengar jawaban itu, Gian langsung menelan salivanya dalam-dalam. “Kenapa, Pak?” tanya Atayya yang menyadari tingkah Gian itu. Gian hanya menggelengkan kepalanya dan ia pun menyuruh Atayya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. “Aku ke atas duluan, Pak,” pamit Atayya sebelum ia berlalu dari hadapan Gian. “Bisa-bisanya dia dijemput sama supirnya Pak Regan,” gumam Gian sembari menatap punggung Atayya yang semakin menjauh dari dirinya. Setelah Atayya masuk ke dalam lift, Gian pun juga berjalan menuju lift yang akan mengantarnya ke ruang kerja Regan. Seperti karyawan Regan yang lainnya, Gian juga mengetuk pintu ruang kerja Regan sebelum ia masuk ke dalam sana. “Kenapa?” tanya Regan ketika Gian sudah duduk di hadapannya. Gian meletakkan beberapa dokumen ke atas meja yang menjadi pembatas mereka. “Yang elo minta minggu lalu,” ucapnya. Gian dan Regan memang memiliki hubungan pertemanan. Meski begitu, Gian tahu bahwa posisinya dengan Regan adalah boss dan karyawan. Regan lantas menarik dokumen itu dan membacanya dengan teliti – satu demi satu. “Tadi gue jumpa Atayya di lobby. Katanya dia habis antar dokumen juga ke hotel. Terus, pas ke sininya lagi, dia dijemput sama supir elo. Benar begitu?” Regan menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia membenarkan ucapan Gian tadi. “Pertama kalinya gue dengar hal ini,” ucap Gian yang masih tidak percaya. “Kenapa sih?” tanya Regan sembari mengernyitkan dahinya. “Jangan bilang kalau...” “Jangan lo lanjut perkataan lo itu,” timpal Regan. Gian pun mengatup bibirnya, sekarang ia sudah paham dengan apa yang terjadi. “Lo ngeledek gua?” tanya Regan yang menatap Gian. Gian segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. ... Sementara itu, ketika Atayya baru saja duduk di kursinya dan bersiap hendak melanjutkan pekerjaannya, Abel datang padanya dan langsung meraih tangannya. Hal itu jelas saja membuat Atayya terkejut. “Maaf, Ya,” sesal Abel. Penyesalan Abel yang begitu tiba-tiba membuat Atayya semakin merasa heran. “Kenapa tiba-tiba minta maaf sama aku?” tanya Atayya sembari menarik tangannya yang dipegang oleh Abel. “Aku tadi suruh kamu seenaknya. Yang mana harusnya itu adalah pekerjaan aku,” jawab Abel. “Tadi Abel ditegur langsung sama Pak Regan,” timpal seorang lelaki yang duduk di sebrang Atayya. “Aku takut dipecat, Ya. Makanya aku menyesal dan minta maaf sama kamu,” ucap Abel. “Sudah, jangan dipikirkan,” ucap Atayya menenangkan. “Lagipula, aku senang membantu rekan kerjaku,” sambungnya seraya tersenyum. “Sekali lagi aku minta maaf, Ya,” ucap Abel lagi. “Sudah, Bel. Lebih baik kamu kembali bekerja lagi,” sahut Atayya. Abel menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali ke kursinya. “Enggak salah Pak Regan angkat Atayya sebagai staff kantor dengan latar belakang sekolahnya yang begitu,” gumam Sabhira yang sedari tadi memerhatikan Atayya dari jarak beberapa meter. ... “Permisi, Pak Regan,” ucap Sabhira ketika ia berdiri di depan pintu ruang kerja Regan. “Masuk!” sahut Regan dari dalam sana. Sabhira segera membuka pintu dan ia langsung berjalan mendekati Regan yang masih berbincang dengan Gian. “Ada apa?” tanya Regan. Sabhira yang tahu hubungan dekat antara Regan dan Gian, ia pun dengan santainya bertanya pada Regan tentang kejadian yang ia lihat beberapa menit yang lalu. “Memangnya Pak Regan belum cek CCTV, ya?” tanya Sabhira. “Ini orang datang-datang sodorin kerjaan setumpuk. Sudah enggak sempat untuk cek CCTV,” jawab Regan. Sabhira pun meletakkan ipad yang ia bawa ke hadapan Regan. Allhasil, Regan menghentikan pekerjaannya untuk fokus menonton video yang terputar di layar ipad itu. Video yang diambil oleh Sabhira saat kejadian yang ia temui di ruang kerja Atayya dan teman-temannya. Melihat Regan yang menyunggingkan senyumnya, Sabhira dan Gian pun langsung bertatapan satu sama lain. “Boss elo kenapa, Ra?” tanya Gian dengan nada bicaranya yang pelan. “Sepertinya sedang jatuh cinta,” sahut Sabhira dengan nada bicaranya yang pelan juga. “Suka sekali menggosip di hadapan orangnya,” sungut Regan. Seketika itu juga, Gian dan Sabhira tertawa. Sebab, tadinya mereka berpikir kalau Regan tidak akan mendengar karena terlalu fokus dengan video yang diputar oleh Sabhira. Namun, rupanya Regan masih mendengar percakapan mereka. Setelah video itu berakhir, Regan menyerahkan kembali ipad itu pada Sabhira. “Menurut kalian, kalau ngasih sesuatu ke cewek, itu bagusnya apa?” tanyanya sembari menatap Sabhira dan Gian secara bergantian. “Bunga,” sahut Gian tanpa berpikir panjang. “Terlalu klasik,” timpal Sabhira. “Sebagai perempuan, apa ada ide?” tanya Regan pada Sabhira. “Sekarang itu lagi jamannya buket cokelat,” sahut Sabhira. “Maksud elo, kayak buket bunga gitu? Tapi bunganya diganti sama cokelat?” tanya Gian memastikan. Sabhira menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Gian. “Dan kebanyakan perempuan itu suka sama cokelat,” ucap Sabhira. “Tahu di mana tempat pemesanannya?” tanya Regan. “Tahu,” jawab Sabhira. “Mau saya yang memesankan, Pak?” tanyanya. “Boleh. Nanti kirim ke saya contohnya,” sahut Regan. “Segera, Pak. Saya permisi.” Lalu, Sabhira pun keluar dari ruang kerja Regan untuk mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di meja kerjanya. “Sudah berapa lama kenal sama Sabhira?” tanya Gian. “Apa dari sebelum dia bekerja di sini?” sambungnya dengan pertanyaan lagi. “Sejak awal pertemuan gua dengan dia, gua sudah kagum dengan kebaikan yang dia beri,” sahut Regan. “Jadi, sekarang elo hanya sebatas kagum dengan dia? Bukan suka ataupun cinta?” tanya Gian lagi. “Perihal itu, sepertinya gua harus mengenal dia lebih dalam lagi. Setidaknya gua akan jatuh cinta kepada perempuan yang tepat.” “Lo.. masih trauma dengan hubungan lo yang dulu?” “Lo pikir?” Bisa Gian pungkiri jika sekarang Regan berhati-hati dalam menaruh rasa. Sebab, Regan pernah dipatahkan hatinya oleh perempuan yang ternyata memiliki lelaki lain di hatinya. Yang lebih parahnya lagi, hal itu diketahui ketika Regan sudah mulai menyiapkan acara pertunangan untuk mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD