Chapter 7

1017 Words
Dua hari berlalu dengan tenang untuk Atayya. Namun, hari ini ia dibuat terkejut ketika ia baru saja tiba di kantor. Sebuah buket cokelat terletak di atas meja kerjanya. Di sana tertulis dengan jelas bahwa itu tertuju untuknya. “Dari siapa?” gumam Atayya tanpa berani menyentuhnya. Ketika Atayya duduk di kursinya, ia segera melihat layar ponselnya yang sudah menyala karena adanya pesan masuk di sana. “Ada buket cokelat di atas meja kamu. Itu dari Pak Regan. Terima, ya.” Pesan itu dikirim Sabhira untuk Atayya. Atayya lantas menurunkan buket itu – meletakkan dengan hati-hati ke bawah agar tidak menganggunya bekerja. Sementara itu, Regan yang sedari pagi duduk di depan meja komputernya yang menampilkan video CCTV – lelaki itu nampak mengembuskan napasnya dengan panjang ketika ia melihat ekspresi biasa saja dari Atayya ketika menerima buket cokelat darinya. Tanpa berpikir lagi, Regan pun memanggil Sabhira untuk segera menghadapnya langsung. “Ada apa, Pak?” “Sudah beri tahu Atayya tentang buket itu?” “Sudah, Pak.” “Kamu lihat reaksinya bagaimana?” Sabhira menggelengkan kepalanya karena ia memang belum melihat rekasi Atayya. Regan pun langsung menyuruh sekretarisnya itu untuk melihat bagaimana rekasi Atayya melalui video CCTV. “Apa Atayya enggak suka cokelat, ya?” gumam Sabhira. “Kamu bilang kalau kebanyakan perempuan itu suka dengan cokelat,” kesal Regan. Sabhira hanya bisa mengatup bibirnya rapat-rapat. Sebab, reaksi Atayya diluar dugaannya. “Jam makan siang nanti, suruh Atayya menghadap saya,” perintah Regan dengan ketus. “Siap, Pak,” sahut Sabhira. “Saya permisi ingin melanjutkan pekerjaan,” pamitnya. Regan tidak menjawab ucapan Sabhira, ia hanya fokus ke layar komputer yang ada di hadapannya. ... Saat istirahat makan siang tiba, Sabhira langsung menghadap Atayya untuk menjalankan perintah dari boss-nya tadi. “Kenapa lagi?” gumam Atayya sembari berjalan di belakang Sabhira. Sesampainya di ruang kerja Regan, Sabhira segera pergi meninggalkan. “Duduk,” perintah Regan sembari menunjuk sofa panjang yang ada di sana. Atayya pun langsung melangkahkan kakinya ke sana dan ia pun langsung duduk. “Ada apa, Pak?” tanya Atayya tanpa rasa bersalahnya. “Lo enggak suka cokelat?” tanya Regan yang kini sudah duduk di samping Atayya. “Suka,” jawab Atayya apa adanya. “Dan terima kasih cokelatnya,” sambungnya sembari menampakkan deretan gigi rapinya pada Regan. Seketika itu juga, Regan langsung terdiam – menatap betapa manisnya senyuman yang diberikan oleh Atayya. Hanya beberapa menit, kemudian ia tersadar. “Kalau elo suka, kenapa enggak ada reaksi pas elo tahu kalau semua cokelat itu untuk elo?” tanya Regan lagi. “Enggak mungkin aku jingkrak-jingkrak di hadapan teman-teman, Pak,” jawab Atayya dengan polosnya. Kemudian, gadis itu mengeluarkan sebuah cokelat dari saku bajunya. Cokelat berukuran kecil yang ada di buket cokelat yang diberikan oleh regan padanya. Regan memberikan tidak hanya cokelat berukuran kecil saja, ia memesan buket cokelat yang ukurannya dari kecil sampai sedang. “Aku enggak tahu ini untuk apresiasi apa. Yang jelas aku senang menerimanya,” ucap Atayya sebelum ia mengigit cokelat yang sudah ia buka bungkusannya itu. Regan menutup mulutnya dan berpaling dari Atayya, sebab lelaki itu tidak bisa menhan senyumannya atas tingkah menggemaskan yang dilakukan oleh Atayya. “Ada apa, Pak?” tanya Atayya kebingungan. Regan hanya menggelengkan kepalanya tanpa berani menatap wajah Atayya lagi. “Ini aku di sini aja? Enggak disuruh makan siang gitu?” tanya Atayya lagi. “Makan siang dulu sana,” perintah Regan, Atayya pun langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia mengeluarkan satu cokelat lagi dari dalam saku bajunya, lalu gadis itu memberikan cokelat itu kepada Regan. “Masa Pak Regan beli dan Pak Regan enggak memakannya juga,” ucap Atayya sebelum ia keluar dari ruang kerja Regan. Regan benar-benar telah dimabuk cinta. Bahkan sampai beberapa saat setelah Atayya pergi dari ruang kerjanya, wajahnya masuk melukis senyuman yang cukup lebar. ... “Atayya! Kamu ini cokelat terus ya!” kesal sang Mama yang mendapati Atayya pulang dengan membawa buket cokelat yang cukup banyak. “Dikasih, Ma,” jawab Atayya apa adanya. “Siapa yang kasih?” tanya sang Mama yang penasaran. “Boss aku.” Sang Mama yang mendapat jawaban itu, ia lantas menyipitkan kedua matanya sembari menatap anaknya itu. “Mungkin ada pekerjaan aku yang membuat beliau merasa puas. Jadinya aku dapat gift deh,” tangkal Atayya. “Kenapa harus ada kata mungkin?” tanya sang Mama lagi. “Karena beliau enggak kasih tahu kenapa beliau beri aku gift ini. Tapi, felling aku mengatakan kalau pasti ada kaitannya dengan pekerjaan yang aku kerjakan,” jelas Atayya panjang lebar. “Jangan kebanyakan makannya. Nanti batuk kamu,” ucap sang Mama memperingati. “Iya, Mama,” sahut Atayya. Atayya pun melangkahkan kakiny – masuk ke dalam kamarnya. Sejujurnya, Atayya sangat merasa senang ketika ia mendapatkan banyaknya cokelat itu. Ditambah lagi, merk-nya adalah merk kesukaannya. Selama di kantor, Atayya mencoba menjaga sikap karena ia tahu jika ia kelepasan sedikit, maka ia akan menjadi pusat perhatian atau bahkan bisa jadi topik hangat perbincangan orang kantor. Sebelum tidur, Atayya kembali memandangi buket cokelat itu, kemudian ia berpikir untuk memotretnya sebelum cokelat-cokelat itu akan ia makan satu demi satu hingga habis. “Semoga saja semuanya berjalan dengan baik. Meski aku tahu, setiap perjalanan pasti akan menemukan cobaan,” gumam Atayya. Saat hendak memejamkan matanya, Atayya mendapat sebuah panggilan suara dari nomor kontak baru, alias ia masih asing dengan nomor itu. Panggilan pertama Atayya abaikan karena ia malas menerima. Lalu, panggilan kedua yang masuk membuatnya bergegas menerima karena sebenarnya ia penasaran dengan siapa pelaku penelfonnya. ... “Hallo.” “Dengan Nona Atayya?” Atayya lantas terdiam ketika ia mendengar suara siapa yang ada di seberang sana. “Hallo. Saya bertanya tadi. Kenapa tidak dijawab?” "Pak Regan, ya?" Orang yang ditebak Atayya sebagai Regan itu lantas tertawa. "Hallo," panggil Atayya untuk memastikan jika orang di seberan sana masuk mendengarnya. "Iya, Atayya. Ini gua." "Maaf, Pak. Tadi sempat aku abaikan panggilannya." "Santai saja. Lo kenapa belum tidur jam segini?" "Baru saja mau tidur. Pak Regan kenapa menelfon?" "Hanya ingin elo menyimpan nomor gua." "Siap, Pak. Akan aku simpan." "Istirahat, Ya. Selamat malam." "Selamat malam, Pak." Sambungan telfon pun diakhiri oleh Regan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD