Keakraban Regan dan Atayya kini semakin terlihat. Bahkan, tak jarang Regan mendekati Atayya di hadapan karyawannya yang lain.
Regan berpikir bahwa semua itu biasa saja. Tapi bagi Atayya, itu semua tidak akan menjadi baik-baik saja. Sebab, Atayya berpikir pasti akan ada orang yang tidak menyukainya.
Siapa yang tidak ingin memiliki hubungan dekat dengan atasan, terlebih atasan itu adalah seorang pria muda nan tampan.
Hari ini, Atayya tengah mempersiapkan beberapa hal yang akan ia presentasikan. Ketika gadis itu bersiap di ruang rapat, masuklah Sabhira dan langsung membantunya.
Karena di sana hanya ada dirinya dan Sabhira saja, Atayya pun memberanikan dirinya untuk bertanya tentang hal pribadi Regan.
“Kak.”
“Kenapa, Ya?”
“Akhir-akhir ini, Kak Sabhira memperhatikan sikap Pak Regan nggak?”
“Sepertinya hampir semua orang kantor memperhatikannya.”
“Menurut Kakak, ini biasa saja atau bagaimana?”
“Enggak biasa. Karena sebelumnya Pak Regan tidak pernah mendekati karyawannya seperti beliau mendekati kamu.”
“Apa sikap Pak Regan ini bisa termasuk dalam katagori sedang masa pendekatan?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Menurut Kak Sabhira, sebaiknya aku bersikap bagaimana untuk menanggapinya?”
“Ikutin saja apa yang Pak Regan lakukan untuk kamu. Selagi itu masih positif.”
“Aku takut kalau akan ada yang akan memandang aku dengan pandangan negative. Apalagi aku kerja di sini dengan latar pendidikan aku yang rendah.”
“Buang jauh-jauh perasaan itu. Karena hal itu hanya akan membuat kamu sakit kepala memikirkannya.”
“Mau bagaimana, Kak? Namanya sudah kepikiran sampai ke sananya.”
“Dari 100 orang yang ada di dekat kamu, hanya 5 persen diantara yang akan berpikir negatif tentang kamu. Jadi, seharusnya kamu fokus pada 95 persen orang yang akan menyukai kamu. Lihat saja, dari awal kamu bekerja di sini, banyak yang merasa terbantu. Karena kamu tipe orang yang mau belajar banyak hal dan mau berbagi ilmu.”
Atayya lantas memikirkan hal itu matang-matang. Baginya, ucapan Sabhira ada benarnya juga.
Setelah selesai menyiapkan ruang presentasi, Atayya dan Sabhira pun duduk berdampingan sembari menunggu beberapa orang yang akan hadir.
“Minum dulu, Ya,” ucap Sabhira sembari menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Atayya.
Atayya langsung menerimanya dan mengucapkan terima kasih sebelum ia meminumnya.
Tidak lama, Regan terlebih dahulu sampai di sana sebelum beberapa karyawannya yang lain yang akan berpartisipasi dalam hal ini juga.
“Bagaimana persiapannya, Ya?” tanya Regan setelah ia duduk di bangku yang memang disiapkan untuknya.
“Cukup mudah, Pak. Karena ada Kak Sabhira yang membantu,” jawab Atayya apa adanya.
Regan menengadahkan tangannya ke hadapan Atayya. Atayya yang paham, ia pun memberikan selembar kertas yang berisi tentang presentasinya.
Regan menerimanya dan membaca lagi dengan sangat teliti.
“Bukannya kemarin sebelum ditanda tangani, Pak Regan sudah membacanya juga, ya?” tanya Atayya dengan hati-hati.
“Memangnya salah jika saya membaca ulang?” tanya Regan kembali.
Atayya langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Atayya sedikit bingung dengan sikap Regan yang cukup ketus hari ini. Namun, kebingungan itu langsung terjawab ketika beberapa orang masuk ke dalam ruangan yang sama dengan mereka.
...
"Beruntung banget kita bisa satu meja sama Atayya. Berbakat dan baik banget lagi."
"Semoga saja enggak ada orang yang mencoba menjatuhkan dia dan dia akan tetap bekerja di sini."
"Aamiin."
Percakapan kedua rekan kerja Atayya itu didengar langsung oleh Atayya ketika ia berada di dalam kamar kecil.
Atayya lantas tersenyum, ia membiarkan kedua orang itu pergi dulu sebelum ia keluar dari dalam kamar kecil.
"Ternyata benar apa kata Kak Sabhira. Lebih baik aku fokus pada respon baik, karena itu akan membuat aku senang. Daripada aku menghiraukan respon buruk dan hanya akan membuatku sakit hati saja," Atayya membatin.
...
Ketika weekend tiba, Atayya berpikir untuk membuat kue agar besok, saat ia bekerja ia bisa membawanya ke kantor dan membagikannya pada rekan kerjanya.
Saat tengah membuat kue itu, Atayya terpikir akan adanya Regan. Alhasil, gadis itu pun juga membuatkan kue untuk Regan.
"Rajin sekali anak Mama ini," ucap sang Mama yang baru saja memasuki dapur dan melihat sang anak membuat kue.
"Anggap saja ini untuk merayakan hari kemarin, yang mana aku bisa dengan lancar melakukan presentasi," sahut Atayya.
"Anak Mama memang hebat," bangga sang Mama. "Boss kamu itu dibuatkan juga dong," sambungnya.
"Ini aku buatkan juga kok. Spesial," sahut Atayya sembari tersenyum.
"Mau Mama bantu?"
"Enggak usah, Ma. Sedikit lagi selesai kok, dan setelah itu hanya tinggal menunggu memanggangnya aja."
...
Sembari menunggu kuenya dipanggang, Atayya pun menelfon Sabhira untuk menanyakan beberapa hal. Untungnya, Sabhira langsung menerima sambungan telfon yang ditujukan Atayya padanya.
"Hallo, kenapa, Ya?"
"Pak Regan suka almond nggak?"
"Suka. Pak Regan hanya enggak suka dengan kacang mede. Memangnya kenapa?"
"Aku bikin kue dan mau aku kasih topping almond di atasnya. Takutnya Pak Regan enggak suka."
"Suka kok. Buat aku juga jangan lupa ya."
"Ini aku bikin banyak kok. Tenang aja."
"Kok aku tiba-tiba jadi enggak sabar mau cicip, ya? Bisa nggak kalau aku ke sana sekarang? Supaya enggak nunggu sampai besok."
"Kuenya masih aku oven, Kak. Kalau Kak Sabhira mau bawa bahan mentahnya juga boleh kok. Nanti aku share location biar Kak Sabhira ke sini."
"Mengada aja anaknya! Masa aku cicip adonan mentahnya?"
"Daripada nunggu yang di oven. Lama."
"Lanjut bikin sana."
"Okay, Kak. Terima kasih, ya."
"Iya, Ya."
...
Baru saja Atayya mengakhiri sambungan telfonnya, sebuah panggilan suara kembali masuk di sana. Pelaku penelfonnya tidak lain adalah Regan. Tidak ingin menunggu lama, Atayya segera menerimanya.
"Kenapa tadi gua telfon malah sibuk? Lo habis telfonan sama siapa?"
"Tadi aku nelfon Kak Sabhira, Pak."
"Ngapain nelfon dia?"
"Nanya aja."
"Nanya apa?"
"Rahasia dong."
"Begitu lo sama gua sekarang?"
"Ini urusan perempuan, Pak. Maaf."
...
Tanpa Atayya duga, Regan memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak.
"Terbawa perasaan banget," gumam Atayya sembari tertawa pelan.
Kemudian, Atayya kembali melakukan aktifitasnya yang belum selesai.
...
Sementara itu, Regan malah menelfon ke nomor Sabhira untuk memastikan kebenaran yang dikatakan oleh Atayya tadi.
"Hallo, Pak."
"Tadi elo ditelfon Atayya."
"Iya, Pak. Barusan banget malahan."
"Ngapain?"
"Atayya tanya, Pak Regan suka almond atau enggak. Saya jawab saja suka. Karena memang Pak Regan suka dengan almond."
"Kenapa dia tanya saya suka almond atau enggak?"
"Hari ini Atayya membuat kue dan almond itu akan dia jadikan sebagai toppingnya."
Regan lantas tersenyum, karena sekarang ia sudah tahu apa niat baik Atayya padanya.