Chapter 9

1023 Words
Sebuah brownies berukurang sedang Atayya masukkan ke dalam sebuah wadah berukuran sedikit lebih besar dari ukuran borwnies buatannya itu. Tidak lupa, Atayya menulis kata penyemangat di atas sebuah kertas kecil yang kemudian ia tempel di atas wadah itu. “Ma, aku berangkat, ya,” pamit Atayya pada sang Mama sebelum ia berjalan keluar dari rumah. “Hati-hati, Nak,” ucap sang Mama sembari melihat Atayya memasang sepatunya di teras. Atayya hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya. ... Hanya membutuhkan waktu sekitr 20 menit menaiki angkutan umum, Atayya pun sampai di kantor. Dengan semangatnya ia berjalan memasuki gedung pencakar langit itu. Ketika ia sampai di ruangan kerja timnya, ia langsung membuka 2 wadah yang isinya adalah brownies buatannya kemarin. “Kemarin aku ada bikin kue, kalian icip, ya,” ucap Atayya. Rekan-rekan kerjanya pun nampak begitu senang, mereka mengambil sepotong demi sepotong brownies yang Atayya bagikan. “Tenang saja, aku bawa banyak kok,” ucap Atayya sembari tertawa kecil. “Boleh minta tiga potong nggak sih? Soalnya enak banget ini.” “Boleh kok. Boleh banget malahan.” Atayya senang ketika ia melihat respon baik dari rekan kerjanya itu. “By the way, yang ini punya siapa, Ya?” tanya Abel ketika ia melihat ada satu kotak lagi, namun kotak itu tidak dibuka oleh Atayya. Atayya hanya tersenyum menjawab pertanyaan Abel itu. “Jangan bilang kalau itu buat Pak Regan,” tebak rekan kerjanya yang lain. “Itu hanya sebagai tanda ucapan terima kasih aku ke beliau. Karena saat aku presentasi kemarin, Pak Regan cukup banyak membantu aku,” jelas Atayya. Bagi Atayya, hanya alasan itu yang bisa membuat rekan-rekan kerjanya tidak berpikir berlebihan. “Kasih sekarang saja, Ya. Takutnya kalau nanti – Pak Regan akan sibuk,” ucap Abel menyarankan. Atayya menganggukkan kepalanya, kemudian ia membawa kotak itu menuju ruang kerja Regan. Saat ia sampai di depan pintu, tidak lupa ia mengetuknya terlebih dahulu. “Pak Regan, ini aku, Atayya,” ucapnya setelah ia mengetuk. “Masuk saja, Ya,” sahut Regan dari dalam sana. Atayya pun menarik gagang pintu dan berjalan masuk ke dalamnya. “Ada apa?” tanya Regan tanpa menatap Atayya, sebab kini Regan sedang fokus dengan sebuah kertas di tangannya. Atayya meletakkan sekotak brownies itu di atas meja hadapan Regan. Regan tahu apa isi dari kotak itu, namun ia berpura-pura tidak tahu saja. “Apa ini?” tanya Regan dengan ketusnya. “Kue buatan aku,” jawab Atayya. “Enggak elo kasih racun, ‘kan?” tanya Regan sembari menaikkan alis sebelah kanannya. “Mana mungkin,” sahut Atayya sembari tertawa pelan. Regan pun menarik kotak itu dan membukanya, kemudian ia mengambil sepotong brownies-nya dan memakannya. “Kenapa Pak Regan kelihatan biasa saja, ya? Ah, aku lupa. Seharusnya aku enggak berekspektasi tinggi. Karena selera Pak Regan pasti di atas rata-rata. Dia kan CEO. Mana mungkin bisa menilai kue buatanku seperti teman-teman menilainya,” Atayya membatin. Gadis itu menghela napasnya dengan panjang, kemudian ia memberanikan diri untuk berkata “Kalau Pak Regan enggak suka, Pak Regan boleh membuangnya kok.” Setelah mengatakan itu, Atayya pun bergegas pergi dari ruang kerja Regan. Raut wajahnya nampak jelas bahwa ia sedang kecewa, bukan dengan Regan, melainkan dengan dirinya sendiri. Sebab ia merasa kalau ia sudah keterlaluan dalam menaruh ekspektasi. ... Atayya yang fokus dengan pekerjaannya sampai ia tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, yang artinya jam istirahat sudah tiba. “Ya, ayok makan siang dulu,” ajak Abel. “Duluan saja, Bel. Tanggung kalau aku tinggal,” jawab Atayya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang ada di hadapannya. “Yasudah, aku duluan, ya,” ucap Abel kemudian ia pergi dari ruang kerja mereka. Sejak kejadian Abel ditegur langsung oleh Regan, hubungan pertemanannya dengan Atayya memang menjadi baik. Sebab, Abel menjadi sadar diri bahwa semuanya memilikiu strata yang sama. Baru beberapa menit Atayya duduk sendirian di ruang kerja mereka, Sabhira pun masuk dan duduk di samping gadis itu. “Dari tadi aku perhatikan kamu berbeda hari ini,” ucap Sabhira. “Ada apa?” tanyanya. Atayya hanya menggelengkan kepalanya. “Pak Regan menolak kue buatan kamu?” tanya Sabhira lagi. Sekali lagi, Atayya menjawab pertanyaan Sabhira hanya dengan gelengan kepala. “Lalu kenapa?” tanya Sabhira. Atayya hendak mengungkapkan isi hatinya, namun ia sadar bahwa di ruangan itu ada CCTV dan bisa saja Regan akan mendengar ucapannya. Sabhira yang baru sadar akan hal itu, ia pun menarik Atayya dan membawanya ke rooftop kantor. “Memangnya di sini enggak ada CCTV?” tanya Atayya. “Enggak ada,” jawab Sabhira. “Luapkan saja,” sambungnya. “Tadi aku sudah antar kuenya ke Pak Regan. Tapi, ekspresinya saat memakan kue itu seolah dia tidak menyukainya. Walau tadi Pak Regan hanya diam saja,” ucap Atayya dengan nada bicaranya yang begitu pelan. “Kamu tanya nggak? Pak Regan menyukainya atau tidak?” tanya Sabhira. Atayya pun menceritakan kejadian tadi pagi kepada Sabhira secara detail – tanpa menambahkan. “Buktinya tadi pagi aku masuk ke ruang kerja Pak Regan, aku lihat Pak Regan masih asik memakannya,” ungkap Sabhira. “Kalau Pak Regan suka sama kuenya, kenapa ekspresinya seperti orang enggak suka?” tanya Atayya. “Kamu ingat nggak, hari jumat kemarin ada bilang apa di kantor?” tanya Sabhira. Atayya mencoba mengingat, apa ada ucapan yang tidak baik yang ia ucapkan kemarin. Namun, begitu panjang Atayya berpikir, ia tak kunjung mendapatkan letak kesalahannya. Sampai akhirnya, Sabhira lah yang mengingatkan. “Pak Regan tahu kalau kamu takut kena gosip orang-orang kantor,” ungkap Sabhira. Atayya baru teringat bahwa ia ada membahas hal itu dengan Sabhira tempo hari. “Pantas saja kelihatan jutek,” gumam Atayya. “Pak Regan suruh aku menghadap, aku duluan, Ya,” ucap Sabhira yang kemudian ia berjalan dengan cepat meninggalkan Atayya. Atayya yang tertinggal hanya sendiri, ia pun berjalan ke ujung rooftop dan duduk di sana sembari menjuntaikan kakinya ke bawah. Helaan napasnya terdengar begitu berat – bersatu padu dengan udara yang berembus begitu kencang siang ini. “Aku pernah merasakan debar jantungku yang ritmenya begini,” ucap Atayya sembari memegang di mana ia bisa merasakan debar jantungnya. “ATAYYA!” Teriakan itu membuat Atayya terkejut. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD