22. KISSING IN THE ROOM

540 Words
Apapun yang terbayang saat itu dalam benaknya, seolah hilang dan sirna. Otaknya mendadak kosong. Bahkan semua hal di sekelilingnya seolah berhenti bergerak. Hingga pada akhirnya, yang terasa hanyalah degupan jantungnya sendiri. Si laki-laki masih diam dalam posisinya, setengah menunduk karena tubuhnya yang memang lebih jangkung. Sementara si gadis, setengah berjinjit. Ke dua tangannya bergerak cepat melingkar di leher si lelaki. Ketika kulit bibir mereka saling bersentuhan, si gadis bisa merasakan sebuah cengkraman kuat di pinggangnya. Si gadis menutup matanya. Berusaha menikmati. Sementara si lelaki, masih berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya. Kesadarannya. Sepersekian detik mereka bertahan dalam posisi itu. Bahkan dengan posisi tubuh mereka yang sudah tak berjarak, ketika perlahan tangan si lelaki menarik pinggang wanitanya hingga ke dua perut mereka saling menyatu. Rania sudah memberinya sinyal, maka Rakha tak ingin menyia-nyiakannya. Jika sejak tadi bibir mereka hanya saling bersentuhan tanpa bergerak, tapi seiring dengan pergerakan tubuh Rakha yang tiba-tiba mengangkat tubuh Rania naik kembali ke atas ranjang, lalu mendudukkannya di sana, dengan begitu posisi kepala mereka kini bisa selaras. Perlahan tapi pasti, ke dua bibir yang tadinya hanya saling diam dalam kecupan, kini mulai bermain dengan diawali sebuah pagutan oleh bibir Rakha. Lelaki itu memulainya lebih dulu dengan ciuman yang lebih menuntut. Sementara Rania, berusaha mengimbangi. Permainan Rakha sangat lembut dan hati-hati. Berulang kali Rakha menyesap bibir atas dan bawah Rania secara bergantian. Memberinya kecupan dan kuluman manis. Cukup lama ke duanya terhanyut dalam permainan mereka. Merasakan dan menikmati, betapa indahnya cinta halal yang telah direstui sang maha pencipta. Rakha melepas pagutannya, dia tersenyum. Ditatapnya wajah Rania yang terlihat merona, lalu di usapnya sekilas bibir Rania yang tampak basah akibat ulahnya. Sebelah tangannya terangkat dan membimbing sebelah tangan Rania menuju dadanya. "Rasakan Rania, rasakan degupan jantung ini..." bisiknya pelan. Napas lelaki itu terlihat berat. Bahkan tatapannya kini berselimut kabut. Rania hanya terdiam. Merasakan betapa degupan jantung Rakha memang benar-benar kencang. "Saya tidak pernah berbohong ketika mengatakan bahwa saya mencintai kamu, karena degupan dan debaran ini hanya bisa saya rasakan jika ada kamu di samping saya," tutur Rakha meski tidak sepenuhnya benar. Mungkin iya, jika dulu sebelum pernikahan, Rakha telah berbohong akan perasaannya terhadap Rania, tapi sekarang, saat ini, detik ini, dia tidak lagi berbohong. Meski belum tahu pasti, sejak kapan perasaan semacam ini mulai dia rasakan, yang terpenting bagi Rakha saat ini, dia benar-benar serius akan kata-katanya. Bahwa dia mencintai Rania. Dia tak perlu lagi membohongi dirinya sendiri termasuk Rania pun keluarganya. Allah telah memberinya kemudahan. Hingga Dia pula yang memberinya perasaan ini. Dan membuat semua terasa indah bagi Rakha. Rakha masih tersenyum dan terus menatap ke arah yang sama, yaitu wajah Rania yang merona sebelum akhirnya dia kembali bicara. "Apa ciuman ini pertanda kalau kamu sudah bisa membuka hati kamu untuk saya, Rania?" tanya Rakha penuh harap. Rania menjauh perlahan. Dia menggeser tubuhnya mundur hingga mentok ke bantal di atas ranjangnya. Sadar, jika semakin lama dirinya berdekatan dengan Rakha, hal itu tak baik bagi kesehatan jantungnya. Rania memalingkan wajahnya ke arah berlawanan saat dia menjawab pertanyaan Rakha. Mendadak, dia jadi salah tingkah. "May be yes, may be no! Dan perlu lo inget, jangan pernah berpikir cuma gara-gara kejadian tadi, lo bisa ngelakuin hal yang nggak-nggak ke gue!" ucap Rania memperingatkan. Hingga pada akhirnya, ego dan gengsilah yang tetap saja menang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD