Masih dalam posisi yang sama, ketika Rania sadar dari pingsannya pasca kontraksi yang sempat di alaminya tadi.
Rania mendapati tangannya tengah di genggam dengan cukup kuat oleh seseorang yang nampaknya duduk di sisi ranjang tempat tidurnya saat itu. Aroma maskulin yang terhirup oleh indra penciumannya dapat dengan mudah membuatnya tahu bahwa sosok yang kini ada di sampingnya adalah Rakha.
Bahkan, hanya dengan menghirup aroma tubuh Rakha saja, hati Rania bisa merasa lebih tenang. Dia merasa terlindungi dengan keberadaan Rakha di sisinya.
Rania menggerakkan tangannya, meraba ke arah bahu, lalu kepala Rakha. Sepertinya Rakha sedang tertidur pulas. Kepalanya tertelungkup bertumpu pada sisi ranjang. Bahkan lelaki itu sama sekali tak bergerak saat jemari Rania kini membelai rambutnya. Membelai dengan penuh kelembutan. Sepulas senyum terbit di wajah pucatnya.
"Rambut kamu tebel juga, lurus, halus... Sehalus hati kamu..." gumam Rania tanpa sadar. Toh Rakha sedang pulas tertidur, dia tidak mungkin mendengar juga? Pikirnya dalam hati.
"Seandainya aja aku bisa melihat lagi, orang pertama yang mau aku lihat cuma kamu, Kha... Walau kadang nyebelin, suka ngatur, merintah ini itu, tukang ceramah, bawel, rese, tapi... Aku merasa, nggak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki hati setulus kamu, sesabar kamu. Padahal, aku sering banget judesin kamu, marah-marah nggak jelas, bahkan berbuat kasar, tapi kamu nggak pernah marah, kamu terus tertawa menghadapi aku... Udah hampir satu bulan kebersamaan kita, tapi aku merasa seperti udah kenal kamu bertahun-tahun, Kha... Makasih ya?"
"Iya, sama-sama,"
Rania tertegun sesaaat.
Ke dua bola mata wanita itu membulat. Saking kaget. Bahkan reflek dia menarik cepat tangannya yang saat itu masih terus membelai kepala Rakha. Wajahnya yang memang sudah pucat, jadi bertambah pucat.
Rakha meneggakkan kepalanya. Senyumnya terkembang lebar.
"Gu-gue kirain lo tidur!" ucap Rania terbata. Sungguh, dia benar-benar malu.
"Iya, tadi saya memang tidur. Tapi, saya bermimpi dalam tidur saya, kalau ada seorang bidadari cantik yang mengelus-elus kepala saya dan terus memanggil nama saya, makanya saya jadi bangun," elak Rakha berdalih.
Rania tahu Rakha sedang berbohong. Lelaki itu memang pandai sekali menggombal dan mengarang cerita fiktif.
"Sejak kapan lo bangun?" tanya Rania lagi. Setidaknya dia perlu memastikan apakah Rakha mendengar semua ucapannya tadi? Kalau iya, bisa gaswat jadinya. Mau dikemanakan harga dirinya? Aduuhh...
"Mungkin... Sekitar lima belas menit yang lalu," terka Rakha menimang-nimang. Sesungguhnya, dia mendengar semuanya. Dia mendengar semua yang baru saja dikatakan Rania saat gadis itu terus membelai kepalanya. Dan hal itu cukup membuat Rakha yakin, bahwa kini, Rania sudah mulai bisa menerima kehadirannya dengan hati yang terbuka.
Tubuh Rania bergetar, saat jemari Rakha meraih ke dua tangannya. Mengecup perlahan masing-masing dari punggung tangan istrinya. "Saya juga ingin mengatakan terima kasih sama kamu,"
"Terima kasih buat apa?"
Rakha memajukan kursi lipat yang dia duduki. Masih dengan tangan Rania dalam genggamannya yang dia jadikan sanggaan dagunya.
"Jujur Rania, jauh sebelum takdir mempertemukan saya dengan kamu, saya tidak pernah merasakan apa yang orang lain katakan soal cinta. Bahkan saya tidak pernah perduli tentang apa itu cinta, seperti apa rasanya jatuh cinta. Karena yang saya tahu, satu-satunya wanita yang saya cintai sejak dulu hanya Umi. Selebihnya, ada wanita hebat yang begitu saya sayangi dan hormati, yaitu Mbak Siti. Lalu Aisyah, Latifah. Mereka wanita-wanita yang ada di sekeliling saya selama ini. Selain dengan mereka, saya tidak pernah sedekat ini dengan wanita manapun. Kamu yang pertama dalam hidup saya, Rania. Dan berharap akan menjadi yang terakhir juga. Terima kasih karena telah membuat saya mengerti bagaimana rasanya mencintai..."
Hening.
Rania tak menanggapi barang sepatah katapun.
"Saya tahu, kalau saya ini manusia yang menyebalkan, suka ngatur, tukang perintah, bawel, rese, dan entah masih banyak lagi hal-hal yang mungkin saja membuat kamu merasa tidak nyaman akan kehadiran saya,"
"Gue nggak ada maksud apa-apa kok ngomong kayak gitu, kok lo jadi baperan gini sih," potong Rania tiba-tiba. Kenapa dia jadi tidak enak hati atas perkataannya sendiri?
Rakha tersenyum melihat betapa menggemaskannya wajah Rania saat ini. Pipi gadis itu terlihat merona.
"Lo nggak seburuk itu juga kok di mata gue, Kha..." sambung Rania lagi, meski kali ini suaranya terdengar lebih pelan dan menggantung.
"Lantas, seperti apa sebenarnya diri saya di mata kamu? Buruk atau baik?" tanya Rakha balik.
Rania tidak langsung menjawab. Dia bingung.
"Saya akui, saya memang bukan laki-laki baik Rania. Saya tidak sesuci yang orang lain pikir. Saya bahkan tidak setulus seperti yang kamu kira. Saya hanya seorang manusia yang tidak sempurna, banyak kekurangannya... Maka dari itu, saya ingin kamu mengingatkan jika saya berbuat kesalahan. Saya ingin kamu menutupi segala kekurangan saya... Tetaplah di sisi saya apapun yang terjadi Rania,"
Bayangan Nando yang tiba-tiba saja hadir kembali dalam kehidupan Rania terus mengusik pikiran dan hati Rakha. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia merasa begitu takut.
Takut akan kehilangan.
Rumah tangga yang baru saja hendak dia bina dengan baik seolah baru saja dihempas oleh badai luar biasa yang mampu menghancurkannya kapan saja.
Terlebih dengan apa yang diketahuinya mengenai perasaan Rania terhadap Nando. Karena hal itulah, perasaan Rakha semakin dilanda kecemasan berkepanjangan.
Mendengar kalimat terakhir Rakha, Rania sadar, kenapa tiba-tiba Rakha bicara seperti ini. Itu pasti karena kehadiran Nando tadi. Bagaimana mungkin Rania bisa lupa dengan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Nando tadi?
Dan bahkan, kehadiran Rakha di sisinya, kini mampu membuat Rania melupakan satu-satunya laki-laki yang selama ini begitu dia cintai, yaitu Nando.
Lantas, apakah itu artinya, Rania memang sudah mulai mencintai sosok Rakha?
Entahlah, Rania sendiri tidak tahu.
Sungguh, dia benar-benar bingung.
Apa yang harus dia lakukan, untuk sekedar membuktikan perasaannya itu?
Rania masih terus bergumul dengan pikirannya sendiri. Dengan dilema hatinya akan perasaan yang sebenarnya dia rasakan terhadap Rakha saat ini.
"Udah malem, lebih baik kamu istirahat. Saya juga mau istirahat. Kalau butuh sesuatu panggil saja saya ya?" ucap Rakha memecah keheningan yang tercipta.
Kebisuan Rania sudah cukup membuatnya yakin, bahwa sesungguhnya Rania memang belum bisa mencintainya.
Rakha bangkit dari kursinya dan hendak beranjak ke arah tempat tidur khusus untuk para penunggu pasien. Karena ini adalah ruangan VVIP, maka fasilitas yang tersedia memang sangat lengkap.
"Kha..." panggil Rania pelan saat Rakha hendak melepas genggaman tangan mereka. Rania menahannya hingga tubuh Rakha kembali berdiri menghadapnya.
"Ya, ada apa?"
Saat itu, Rania tidak berkata apapun.
Setelah berhasil menarik tangan Rakha supaya lelaki itu lebih mendekat ke arahnya, perlahan Rania turun dari ranjang dan duduk di tepian ranjang, berhadapan dengan Rakha yang masih berdiri dalam ketidak mengertiannya.
Kini, tubuh keduanya sudah sama-sama berdiri saling berhadapan, bahkan dalam jarak mereka yang begitu dekat.
Sebelah tangan Rania terangkat, meraba-raba mencari dimana wajah Rakha.
Mengetahui apa yang sedang Rania cari, tangan Rakha membimbing tangan itu menuju pipinya. Cukup lama tangan Rania bertahan di sana, sampai akhirnya bukan hanya satu tangannya yang menyentuh wajah Rakha, tapi dua.
Hening masih menggelayut di antara mereka. Hanya bunyi detak jarum jam di dinding yang terdengar berirama. Bersahut-sahutan dengan dentuman jantung Rakha yang semakin berdebar dengan hebatnya.
Dan debaran itu kian menjadi, tepat saat ke dua tangan Rania menarik wajah Rakha mendekat ke wajah gadis itu.
Lalu menyatukan, bibir mereka.
Detik itu juga, dunia Rakha seolah berhenti berputar.
*****
silahkan tinggalkan komentar kalian kalau suka...