"Apa kabar Rania? Ini aku, Nando,"
Bibir Rania yang hendak bicara langsung terkatup rapat saat dia tahu siapa manusia yang masuk ke dalam ruangan rawatnya saat ini.
Perasaannya mendadak kacau balau.
Mungkin, seandainya saja dia tidak buta, ingin sekali rasanya Rania bangkit dari ranjang, menghampiri Nando, lalu menampar wajah laki-laki itu dengan sekuat tenaga. Namun sayang, keterbatasannya membuat Rania benar-benar merasa tidak berdaya saat ini. Dia benar-benar lemah. Bahkan kini, yang bisa dia lakukan hanyalah menangis.
"Mau apa lo ke sini?" tanya Rania seraya menyeka cepat air matanya. Dia sadar tidak seharusnya dia kembali menangisi laki-laki b******k yang telah membuat sedih keluarganya pun menghancurkan harapannya.
"Rania..." tubuh Nando semakin mendekat, bahkan kini dia berhasil menyentuh jemari Rania.
"Apaan sih! Lepasin tangan gue!" tepis Rania yang langsung menarik tangannya dengan kasar.
"Aku ke sini cuma mau minta maaf, Rania..." suara Nando kembali terdengar. Nada bicaranya terdengar lemah dan sedih. Tapi sayangnya, hal itu tak cukup membuat seorang Rania berbelas kasihan padanya. Sebab, Rania bukan tipikal wanita yang mudah memaafkan seseorang yang telah menyakitinya. Nando telah membuatnya kecewa, bagi Rania itu adalah kesalahan fatal dan tak termaafkan. Meski, perasaannya kini terhadap Nando belum sepenuhnya hilang. Setidaknya, Rania masih memiliki harga diri untuk tidak memperlihatkan kelemahannya dihadapan Nando.
"Gue pikir, nggak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan. Dan gue juga udah nggak mau lagi berurusan sama lo! Jadi lebih baik sekarang, lo pergi dari sini! Nggak usah ganggu hidup gue lagi!" titah Rania dengan suara penuh penekanan. Rania melempar pandangannya melawan arah dari suara Nando. Meski dia tak dapat melihat wajah lelaki itu, tapi rasa kecewanya yang teramat dalam membuatnya muak, semuak-muaknya, sebenci-bencinya. Jangankan melihat, mendengar suara Nando saja, Rania sudah tidak sudi.
"Perlu kamu tahu Rania, mungkin seandainya keluarga aku nggak memaksa aku untuk membatalkan pernikahan ini, aku nggak akan meninggalkan kamu. Apalagi aku tahu, kamu sedang mengandung anakku, hasil buah cinta kita,"
Bukannya terharu, yang ada Rania justru semakin dibuat meradang mendengar kata-kata Nando. Amarah yang susah payah dia tahan di d**a seolah ingin meledak ke permukaan.
"Tapi sayangnya, anak itu sekarang udah mati! Lagian, lo juga nggak mengakui kalau dia anak lo-kan? Dasar naif! Munafik!" sentak Rania dengan satu lemparan bantal ke arah dimana suara Nando terdengar, yaitu dihadapannya.
"Jadi bener kamu keguguran?" tanya Nando dengan ekspresi kaget, setelah dirinya berhasil menghindari lemparan Rania.
"Nggak ada urusannya juga sama lo,"
"Jelas ada, Rania, itu anak a-,"ku.
Pletak!
Rania yang sudah jengah dan gerah mendengar omong kosong Nando tak lagi mampu menahan emosinya hingga ponsel yang sedari tadi dia genggam di tangannya menjadi senjata ampuh untuk meluapkan kemarahannya itu. Dilemparnya benda pipih itu meski secara asal, tapi nyatanya lemparan Rania, tepat sasaran. Ponsel Rania mendarat tepat di kening Nando. Membuat si empunya kening langsung meringis sambil mengusap keningnya yang memerah. Lemparan itu sangat kencang dengan jarak yang terbilang sangat dekat, ya jelaslah sakit.
"Pergi lo dari sini! Gue nggak mau denger apa-apa lagi dari lo! PERGIIII!" teriak Rania yang mulai dilanda frustasi. Mendadak luka bekas operasi di perutnya terasa nyeri.
"Rania, tolong jangan kayak gini! Niat aku datang ke sini itu baik, aku bener-bener mau minta maaf sama kamu, dan... Aku mau mengingatkan kamu mengenai Cassie. Jangan terlalu percaya sama Cassie. Dia itu ular berbisa. Dia bisa aja mencelakai kamu kapan aja, Rania... Percaya sama aku," racau Nando di tengah keputus asaannya. Dia berusaha untuk menggapai lengan Rania lagi. Meski berulang kali Rania terus menepisnya.
"Jangan sentuh gue! PERGI! PERGIIII! Arrgghh... Rakhhaaa... Susterr.... Tolongggg!" teriak Rania saat rasa nyeri di bekas operasinya kian menjadi. Tangannya terus memegangi perutnya yang sakit.
"Ka-kamu kenapa Rania?" tanya Nando dengan ekspresi panik. Nando langsung berteriak sekencang mungkin untuk memanggil Suster jaga di depan. Sementara tubuh Rania yang sudah tak berdaya alias setengah sadar, kini sudah berada dalam pelukan Nando. Akibat ketidakberdayaannya, Rania sama sekali tidak bisa berbuat lebih jauh untuk membuat Nando melepaskan tubuhnya.
Sampai pada akhirnya, Rania mendengar suara seseorang memasuki pintu sambil mengucapkan salam diikuti sebuah pekikan kaget berupa kalimat istigfar yang menyusul.
"Astagfirullah Al-aladzim, Rania?"
Dan sialnya, orang itu adalah Rakha.
*****
Sudah hampir lima belas menit berlalu saat tim medis menangani Rania di dalam ruang rawatnya, sementara Rakha dan Nando di minta menunggu di luar.
Saat itu, ke duanya hanya diam dalam kekalutan pikiran masing-masing. Rasa cemas dan takut menggelayuti pikiran mereka.
Tak ada percakapan berarti di antara ke dua laki-laki itu. Meski sempat beberapa kali Nando mengalihkan perhatiannya pada Rakha, berkali-kali bertanya dalam hati, siapa gerangan sosok Rakha sebenarnya? Ingin dia bertanya tapi suaranya seolah tak mampu keluar. Hingga akhirnya dia memilih untuk diam.
Sama halnya dengan Rakha. Lelaki itu larut dalam dzikirnya daripada harus memperhatikan sosok laki-laki yang kini duduk tak jauh darinya di bangku tunggu.
Rakha sadar dirinya tadi sempat hendak tersulut emosi pada Nando. Melihat apa yang sedang dilakukan laki-laki itu terhadap Rania di dalam sana. Rakha melihat dengan jelas saat tubuh istrinya di dekap dengan sangat kuat oleh Nando, sampai akhirnya Rakha mengambil alih apa yang sudah seharusnya menjadi haknya.
Meski, dia tak berbuat lebih jauh dari itu.
Rakha hanya takut dirinya tak mampu mengendalikan emosi jika harus berhadapan dengan Nando, untuk itulah dia lebih memilih untuk diam, dan menghindar. Tak sama sekali berniat untuk memulai percakapan walau beribu tanda tanya terus saja singgah dalam benaknya sejak tadi. Mengenai alasan kedatangan Nando menemui Rania hari ini, ada apa? Untuk apa? Dan karena apa? Rakha benar-benar tidak tahu. Dan berusaha untuk tidak perduli.
Mungkin, dia bisa menanyakannya pada Rania nanti seandainya keadaan Rania sudah kembali membaik.
Dokter sudah selesai dengan tugasnya. Dia keluar diikuti oleh beberapa orang suster.
"Dok, apa yang terjadi dengan Rania?" tanya Rakha cepat. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berhambur ke arah sang dokter di depan pintu.
Dokter cantik berhijab itu tersenyum ramah. "Rania tidak apa-apa. Mungkin hanya karena efek stres dan kurang istirahat, luka di dalam rahimnya akibat keguguran yang dia alami hanya sedikit mengalami kontraksi kecil. Tapi semua sudah aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok,"
Sepeninggal sang dokter Rakha langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Rania, meski saat itu langkahnya harus tertahan akibat panggilan seseorang dari arah belakang.
"Sebenernya, lo itu siapanya Rania? Kayaknya, anggota keluarga juga bukan, gue baru liat lo sekarang soalnya," tanya Nando yang akhirnya berhasil mengumpulkan nyali untuk bertanya. Rasa penasaran membuat Nando terpaksa melakukan hal ini. Sebab, dia mencium adanya hal ganjil dari sikap Rakha yang seolah berkuasa atas diri Rania. Dan Nando tidak menyukai hal itu.
Setelah membuang napas kasar, Rakha berbalik seraya memulas senyuman tipis. Ditatapnya lurus ke arah manik mata Nando yang berwarna kecoklatan.
"Saya, Rakha. Saya suaminya Rania. Dan Rania itu, istri saya..."
Jantung Nando mencelos. Bergemuruh bagai badai yang siap menghancurkan karang.
Dia benar-benar terkejut mendengar hal itu.
Suami?
Kapan mereka menikah?
Kenapa aku sama sekali tidak tahu menahu mengenai hal ini?
Nggak, ini nggak mungkin!
Pikir Nando membatin.
Hingga tatapannya kembali tertuju ke arah Rakha. "Jangan coba-coba ngebohongin gue? Gue yakin Rania masih cinta sama gue, jadi nggak mungkin Rania menikah secepat itu, apalagi sama orang kayak lo!"
Rakha kembali memulas senyum meski telunjuk Nando yang mengarah tepat di wajahnya jelas sangat-sangat mengganggu.
"Maaf, ini sudah larut malam. Jam besuk pun sudah berakhir. Silahkan anda pergi karena saya dan Rania mau beristirahat," jawab Rakha yang sama sekali tak menggubris kalimat Nando.
Bahkan, lelaki itu langsung masuk begitu saja dan menutup pintu ruangan rawat inap Rania pada saat Nando masih terus mencecarnya dengan kalimat-kalimat yang tak pantas.
"b******k! Mau cari masalah lo sama gue? Tunggu pembalasan gue!" umpat Nando masih di depan pintu ruangan inap Rania yang telah tertutup rapat.
Dengan tangan terkepal Nando pun pergi meninggalkan tempat itu.
Meski, dia akan memastikan kalau dia pasti kembali, untuk memberi perhitungan pada lelaki sialan itu!
Damn it!