16. ALLAH YANG MENJADI SAKSINYA

1805 Words
Malam kian larut, Bastian bahkan sudah pamit undur diri untuk tidur setelah dia memperlihatkan hadiah motor yang diberikannya pada Rakha. Sebuah motor kawasaki ninja keluaran terbaru yang Rakha perkirakan harganya berada di kisaran 50 jutaan keatas. Meski tidak memiliki motor, sebagai seorang lelaki, Rakha tentu tahu sedikit hal tentang otomotif. Meski dirasanya berlebihan, tapi kali ini Rakha menerima pemberian itu. Bahkan dia berulang kali mengucapkan banyak terima kasih pada Bastian. Sudah hampir satu jam Rakha duduk di halaman samping kediaman Dirgantara sambil berulang kali melirik arah jam di tangannya. Mobil sedan hitam milik teman Rania yang bernama Cassie masih terparkir di tempat semula dan itu artinya, wanita itu masih ada di dalam kamar Rania. Mengetahui hal itu, Rakha jelas enggan untuk masuk ke kamar. Dan lebih memilih untuk menunggu sampai Cassie pulang. Tak berselang lama, saat kantuk sudah benar-benar menyerangnya, Rakha akhirnya mendapati kendaraan milik Cassie sudah pergi. Dan itu artinya kini saatnya dia kembali ke kamar. Sesekali Rakha menguap saat dirinya melangkah menuju kamar. Kantuk sungguh menyerangnya dengan sangat dahsyat. Mungkin karena hari ini dia cukup lelah setelah mengantar kepulangan keluarganya di Stasiun tadi. Rakha masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Rania yang sedang berada di dalam kamar mandi. Saat Rakha hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Rania keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak basah. Mungkin dia habis cuci muka. Pikir Rakha membatin. Hingga tatapan Rakha beralih pada pakaian tidur yang dikenakan Rania saat itu. Rakha menelan salivanya satu kali membuat jakun lelaki itu terlihat naik turun tepat saat tatapannya tertuju pada beberapa bagian tubuh Rania yang biasanya tertutup namun kini terekspos dengan sangat jelas. Terutama, bagian seputar bahu, bagian atas d**a seputar leher dan paha mulus Rania yang indah. "Ehm," Rakha berdehem satu kali sekadar memberi kode akan kehadirannya. Rakha tak berani menatap terlalu lama ke arah Rania. Pakaian Rania membuatnya salah fokus. "Eh, lo udah di kamar, Kha?" tanya Rania yang saat itu masih meraba-meraba ke arah tempat tidur. "Iya," jawab Rakha singkat. Dia langsung tidur, mengambil posisi menyamping memunggungi Rania. Entah kenapa Rakha merasa suhu tubuhnya tiba-tiba saja memanas dalam sekejap. Bahkan pikirannya terus tertuju pada hal yang bukan-bukan. Rakha buru-buru memejamkan mata dan terus berdoa. Melafalkan ayat-ayat suci agar pikirannya bisa kembali jernih dari hal-hal kotor. "Lo udah mau tidur?" tanya Rania lagi sembari membenamkan tubuhnya di balik selimut. "Iya, saya ngantuk," lagi-lagi Rakha hanya menjawabnya dengan kalimat singkat. "Itu tadi, kado pemberian temen lo yang dari kampung itu, nggak tau siapa namanya gue lupa, tadi kadonya udah gue buka, isinya kayak kalung gitu, terus gue taruh di laci nakas samping tempat lo tidur," ucap Rania menjelaskan maksudnya. Sedikit memancing Rakha agar lelaki itu menceritakan sedikit saja tentang siapa sebenarnya sosok Zulfa yang dibicarakan Latifah tadi di Stasiun. Sosok yang terus mengganggu pikiran Rania sejak sore tadi. Tanpa berucap apapun tangan Rakha terulur ke arah laci nakas di sisinya, di ambilnya sebuah benda dari dalam sana. Lalu dia tersenyum lebar. "Ini bukan kalung Rania, tapi ini tasbih," ralatnya. "Oh, gue kirain kalung. Ya maklum, guekan nggak bisa liat," ucap Rania lagi. Ada sentilan tajam yang terasa menohok hati Rakha saat Rania yang tanpa sengaja mengatakan kalimat 'Guekan nggak bisa liat'. Mendadak, hatinya perih, pedih dan sakit. Perlahan, Rakha membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rania yang tanpa dia sangka-sangka juga sedang berbaring miring menghadap ke arahnya. Untung saja ketika itu, tubuh Rania sudah tertutup selimut sepenuhnya. Jadi, Rakha tak perlu khawatir akan syahwatnya yang bisa saja naik ke permukaan lagi. Terhalang oleh tumpukan guling, Rakha dan Rania saling menatap satu sama lain. Meski Rania sama sekali tak tahu bahwa Rakha sedang menatapnya kala itu. Dia sibuk mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya sambil sesekali tertawa kecil. Seperti sedang berbalas pesan dengan seseorang. Cukup lama mereka bertahan dalam posisi itu. Sementara Rania asik dengan dunianya, Rakha mulai larut dalam pergumulan batin akan rasa bersalah yang dia rasakan terhadap Rania, yang bahkan sampai detik ini, hal itu tak juga berhenti mengusik pikirannya. "Mas memang bukan Ustadz apalagi ahli agama macam kamu, Kha. Tapi yang namanya takdir, mau kita lari sejauh apapun untuk menghindar, toh ujung-ujungnya bakal kejadian juga! Harusnya kamu yang lebih paham tentang masalah takdir Allah ketimbang Mas yang bahkan kuliah aja nggak! Ngaji aja sampai sekarang nggak khatam-khatam! Kita ambil sisi positifnya aja, siapa tahu ini memang cara Allah untuk mempertemukan kamu dengan jodoh kamu, yaitu Rania, jadi sudahlah, jangan terus menerus menyiksa diri kamu sendiri dengan perasaan bersalah. Kamu sudah banyak berkorban untuk menyelamatkan kehormatan Rania dan keluarganya. Mas rasa itu sudah lebih dari cukup. Mas justru salut sama kamu. Kamu bisa mengambil keputusan sebesar itu padahal kamu tahu, kalau pernikahan itu hal yang sakral, bukan sesuatu hal yang bisa dipermainkan. Dengan kamu memutuskan untuk menikah dengan Rania, itu artinya kamu sudah membayar kesalahanmu atas diri Rania. Lagipula, kalau dipikir-pikir lagi, kecelakaan itukan tidak murni karena kesalahanmu saja. Seperti yang kamu ceritakan pada Mas tentang mobil sedan hitam, a*u itu. Yang main selonong boy gitu aja sehabis mencelakakan orang, manusia kok nggak ada otak!" Begitulah kiranya penuturan Mas Wisnu pada Rakha beberapa hari lalu di rumah sakit. Tentang masalah takdir. Rakha paham betul akan hal itu. Bahkan Umi dan Abi pun seringkali memberinya nasihat perihal takdir Allah kepadanya. Pun saat Rakha sendiri mengisi kajian di kampung halamannya dulu, materi tentang Takdir Allah seringkali Rakha angkat dalam isi ceramahnya. Namun baru kali ini dia merasakan betapa sulit cobaan yang dia terima atas musibah ini. Berulang kali dirinya terus mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Berdamai dengan hati dan dirinya sendiri. Tapi semua itu tak mudah. Berulang kali dirinya berusaha meyakinkan diri bahwa kecelakaan yang terjadi hari itu bukan kesalahannya, karena takdir Allah sudah menetapkannya untuk terlibat dalam kecelakaan itu, begitupun Rania. Harusnya dia mampu untuk benar-benar ikhlas seperti kata-katanya pada Umi. Tapi entah kenapa, kata ikhlas yang terucap itu hanya mampu tertanam sebatas bibir saja. Kenapa ikhlas sulit dia lakukan? Rakha mendesah berat. Dirasanya pelupuk matanya menghangat. Di raihnya sebelah tangan Rania lalu digenggamnya erat, membuat si empunya tangan sedikit terkejut hingga kepalanya mendongak kembali menatap ke arah Rakha. Rania merasakan embusan napas Rakha di punggung tangannya. "Lo mau apa sih?" tanya Rania pelan, tapi nada juteknya tetap saja kentara. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman Rakha. "Saya ingin meminta maaf sama kamu Rania. Tolong beri waktu saya untuk bicara, sebentar saja," pinta Rakha dengan suaranya yang terdengar lembut dan mendayu-dayu. Akhirnya Rania diam dan tak lagi mencoba untuk menarik diri. Ditatapnya ke Rakha lekat, meski tak benar-benar tertuju ke sana. "Saya ingin meminta maaf atas pernikahan ini. Saya tahu kamu tidak pernah menghendaki pernikahan ini terjadi, tapi saya berjanji Rania, saya berjanji dihadapanmu, juga dihadapan Allah, bahwa saya akan terus berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat kamu bahagia hidup bersama saya. Membuat kamu bisa perlahan menerima keberadaan saya di sisi kamu. Saya berjanji akan menjadi suami terbaik untukmu. Menjadi pendamping sekaligus pelindung untuk membuatmu mampu meniti hari esok dengan senyuman. Saya yang akan menjadi mata kamu. Membantu kamu untuk melihat dunia. Saya akan terus berada di sisi kamu hingga Allah memanggil saya untuk pulang. Saya tidak akan menyerah Rania. Saya tidak akan menyerah... Dengan kamu..." Rania tahu persis apa yang dia rasakan saat ini di dalam hatinya. Untuk pertama kali dalam hidup Rania, ada seseorang yang mengatakan hal semacam ini padanya. Mengikrarkan janji untuk senantiasa melindungi dan berada di sisinya dengan kalimat penuh ketulusan. Rania bisa merasakan bahwa apa yang dikatakan Rakha saat itu bukan hanya sekedar isapan jempol semata. Lelaki itu mengatakannya sambil terus menggenggam tangan Rania. Mengalirkan kehangatan ke dalam relung hati Rania, dan membuatnya nyaman. Rania benar-benar tersentuh dengan ucapan Rakha malam ini. Hingga dia tak mampu lagi untuk berkata-kata. "Saya menjadikan kamu sebagai istri saya dengan harapan, kamu bisa dijadikan sebagai teman berbagi keluh kesah tentang apa yang sedang saya rasakan. Saya berharap, di masa depan nanti, bukan hanya saya yang bisa menggenggam tangan kamu di saat kamu sedih dan berduka, tapi kamu pun begitu. Saya ini hanya seorang manusia, ada kalanya saya merasa putus asa dengan takdir, dan di saat-saat seperti itulah saya butuh sosok yang menjadi penguat dalam hidup saya. Sosok pendamping yang mampu menggenggam tangan saya dan mengatakan, 'Kita bisa melewati semua masalah bersama-sama". Dan saya berharap, sosok itu adalah kamu, Rania..." Lagi-lagi, Rania hanya diam. Perkataan Rakha benar-benar menghipnotis dirinya. Membuatnya terharu hingga satu titik air matanya pun terjatuh. "Saya mencintai kamu, Rania..." bisik Rakha lagi. Kalimat itu kembali terucap dari bibirnya. Tapi entah kenapa, kali ini dia merasa lebih jujur dengan apa yang baru saja dia ungkapkan. Rakha sadar, dirinya sudah mulai jatuh perlahan pada pesona Rania. Dan hal itu membuatnya kerap dilanda perasaan-perasaan aneh yang sama sekali tak dia mengerti. Kebersamaannya dengan Rania yang sudah hampir dua minggu berjalan, perlahan membuatnya yakin bahwa cinta itu mulai tumbuh dari dalam sanubarinya. "Dulu, Nando juga pernah ngomong kayak gitu ke gue, bilang kalau dia cinta sama gue dan nggak akan pernah ninggalin gue. Tapi lo liat kenyataanya sekarangkan? Dia pergi, bahkan di saat dia udah menghamili gue! Dia pergi tanpa pamit. Bahkan sampai tega dengan nggak mengakui hasil perbuatannya sendiri," suara Rania terdengar serak karena dibarengi dengan isakan tangis yang begitu menyayat hati. Hati Rakha mencelos mendengar kalimat Rania. Di sekanya air mata Rania dengan penuh kelembutan. "Jangan pernah membandingkan saya dengan Nando atau siapapun," ucap Rakha lagi. "Tapi, siapa yang bisa menjamin, kalo lo bakal konsekuen sama kata-kata lo?" "Allah, Allah yang menjadi saksi atas ucapan saya," Rania kembali bungkam. Meski dadanya masih sesak akibat tangisnya yang kian pecah. Waktu kembali berputar. Jam dinding terus berdetak. Namun keheningan seketika menyergap keduanya. Larut dalam pikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba sebuah tangan terangkat dan meraba perlahan wajah seseorang. Rakha memejamkan matanya tatkala jari-jemari Rania kini menyentuh perlahan kulit wajahnya. Dia tersenyum dan menikmati debaran di dalam dadanya. Rania bisa merasakan halus kulit wajah Rakha di telapak tangannya. Hidung Rakha memang mancung. Alis Rakha sepertinya tebal. Pipi Rakha agak tirus dengan rahangnya yang meruncing. Wajahnya bersih tanpa sedikit pun bulu-bulu halus berupa janggut atau kumis yang tumbuh di sana. Rania tersenyum tipis sambil terus menerka-nerka, seperti apa kiranya wajah Rakha. Dan saat jemari Rania menyentuh tepat di bibir Rakha, entah hal apa yang terlintas dalam benaknya, tapi yang jelas Rania langsung menarik cepat tangannya dan menjauh dari Rakha. Sadar akan hal itu, Rakha kembali membuka matanya. "Kenapa Rania?" tanyanya bingung. "Nggak apa-apa! Gue cuma nggak mau aja lo jadi berpikir kalau setelah apa yang terjadi tadi, lo bisa seenaknya sentuh gue balik! Be-belum saatnya!" Rania berkata dengan cepat dan kelihatan gugup. Hingga setelahnya dia langsung berbalik memunggungi Rakha. Duuhh Rania... Bego-b**o-b**o! Ngomong apa sih lo barusan? Kalau nanti Rakha tersinggung gimana? Cukup lama Rania diam sambil berpikir ulang. Ngapain juga gue mikirin perasaan dia? Ah, sebodo amat! Egp! Kenapa gue mendadak aneh gini sih? Rania terus meracau dalam hati. Dadanya yang berdebar dengan kencang membuatnya sedikit tak nyaman. Semoga saja dia bisa tidur dengan cepat malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD