Rania dan Rakha baru saja menunaikan shalat isya berjamaah, seperti biasa. Meski masih diawali oleh perdebatan kecil terlebih dahulu.
Kini, mereka turun bersama-sama menuju meja makan untuk makan malam.
Rakha menuntun Rania dengan sangat hati-hati saat mereka mulai menuruni tangga.
Bastian dan Raline tersenyum sumringah melihat betapa mesranya mereka.
Akhir-akhir ini Rania sudah mulai membuka diri dan mau diajak pergi keluar meski hanya sekedar berputar-putar di jalan menjaja kuliner pinggiran. Rania juga sudah mulai banyak tersenyum. Bahkan terkadang bibir tipisnya seringkali mengoceh ketika mereka makan malam bersama. Raline dan Bastian sangat bersyukur akan hal itu. Dan mereka berpikir semua hal itu terjadi berkat kehadiran Rakha di sisi putri mereka.
Seperti biasa, jika Raline mengambilkan makanan untuk sang suami, Bastian, tapi untuk Rakha dan Rania, justru Rakhalah yang selalu aktif mengambilkan makanan untuk sang istri.
"Kamu mau pakai apa makannya? Ada ayam goreng, telur balado, sayur sup ayam, atau ikan pindang?" tanya Rakha pada Rania.
"Ayam goreng aja sama sambel telur baladonya sedikit,"
"Pakai sayur ya? Kamu harus makan sayur walaupun sedikit,"
"Ishh, gue nggak suka makan sayur, udah itu aja. Nggak usah mulai deh," bantah Rania mulai sewot.
Rakha hanya menghela napas berat dan terpaksa menuruti. Tak mungkin rasanya jika dia harus berdebat dengan Rania dihadapan Ibu dan Bapak mertuanya. Terlebih lagi, Rakha tidak mau insiden tempo hari saat Rakha memaksa Rania makan sayur hingga berbuntut pada kekesalan Rania yang justru spontan menyiramkan jus jeruk ke wajahnya.
"Rakha, bagaimana keadaan di kantor, aman dan terkendalikan?" tanya Bastian di tengah acara makan malam kala itu.
"Alhamdulillah aman, Om. Semuanya lancar, tidak ada masalah yang berarti," jawab Rakha apa adanya.
"Baguslah kalau begitu,"
"Rakha, tolong ya, mulai sekarang jangan panggil kami Om dan Tante lagi, panggil kami Mamah dan Papah seperti Rania memanggil kami, karena kami sudah menganggap kamu anak kami juga," kali ini suara lembut Raline menyela.
"Ya, benar itu Rakha," sambung Bastian.
Rakha hanya tersenyum sungkan sembari mengangguk. "Iya, Om, eh Pah-Mah,"
"Nah, begitukan kedengarannya lebih enak,"
Makan malam pun usai, Bastian sempat mengajak Rakha berbicara empat mata sebelum menantunya itu hendak kembali menuju kamar. Sementara saat itu, Rania kembali kedatangan tamu, yaitu sang sahabatnya di kampus, Cassie.
Rania pun mengajak Cassie ke dalam kamarnya seperti yang biasa mereka lakukan. Sebab saat itu Rania tahu kalau Rakha sedang mengobrol dengan sang Papah.
"Kamu bisa mengendarai motorkan, Rakha?" tanya Bastian saat itu.
"Bisa, Pah,"
Bastian menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia mengeluarkan sebuah kunci motor dari saku celananya lalu memberikannya pada Rakha.
"Ini, tolong jangan ditolak lagi. Anggap saja ini hadiah pernikahan dari Papah untukmu dan Rania. Papah tidak tega melihatmu harus naik metromini ke kantor setiap hari. Jadi, pakailah motor ini untuk kegiatan sehari-harimu, semoga bermanfaat,"
Cukup lama Rakha memperhatikan kunci motor yang terletak di genggamannya. Dia tahu niat Bastian sebenarnya baik, tapi sejujurnya Rakha justru merasa terbebani akan hal ini. Meski, dia tak memiliki alasan untuk menolak. Sejauh ini, Rakha sudah banyak menolak apapun pemberian Bastian. Dari mulai uang, mobil, bahkan rumah. Lantas, haruskah kini dia kembali mengecewakan sang Bapak mertua yang telah begitu baik padanya?
Rasanya, tidak mungkin.
*****
"Eh Ran, gimana malem pertama lo sama Rakha? Perasaan lo belum cerita apa-apa sama gue tentang Rakha?" tanya Cassie sambil merebahkan dirinya di atas ranjang tempat tidur Rania dalam posisi tertelungkup dengan sebuah boneka beruang besar yang dia jadikan sanggaan tubuhnya.
"Malem pertama apaan? Gila lo ya, tanya-tanya kayak begituan sama gue?" balas Rania dengan nada sewot. Rania yang saat itu sedang meraba-raba pakaiannya di dalam lemari. Dia hendak mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
"Lah, emang kenapa? Dulu lo juga suka cerita sama gue setiap kali lo abis tidur sama Nando," balas Cassie dengan bibir setengah mencebik. Nada bicara dengan tatapan Cassie ke arah Rania saat itu sama sekali tidak sinkron. Mungkin bibirnya bisa saja menutupi isi hatinya, tapi tatapan matanya jelas tidak.
Cassie tahu Rania itu memang sahabatnya. Rania itu baik. Rania itu setia kawan. Bahkan Rania sudah sering membantunya dalam hal finansial ketika dulu orang tua Cassie mengalami kebangkrutan. Tapi, semenjak Cassie tahu bahwa Rania menjalin hubungan dengan Nando, Cassie benar-benar tidak terima.
Nando Hendrawan, adalah lelaki yang sudah menjadi incaran Cassie sejak lama. Cassie memang tidak pernah memberitahukan perihal perasaannya terhadap Nando tersebut kepada Rania karena dia tahu bahwa Rania itu anti jika sudah di ajak membicarakan masalah lelaki, apalagi cinta-cintaan. Rania paling ilfil dengan hal-hal semacam itu.
Sampai akhirnya fakta justru membuktikan lain. Rania yang tiba-tiba mengumumkan perihal hubungannya dengan Nando. Dan hal itu membuat Cassie benar-benar sedih.
Sejak saat itu, Cassie menganggap Rania itu munafik! Sok suci! Dan yang pasti, dia benci Rania. Bahkan Cassie berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tak akan membiarkan Rania hidup bahagia bersama Nando.
"Gue sama Rakha belum pernah ngapa-ngapain tahu dan nggak akan pernah ngapa-ngapain, apalagi sampe tidur bareng, ih amit-amit! Tahu tampangnya kayak gimana aja nggak, ogah banget gue tidur sama orang yang gue anggep asing!" tutur Rania yang sudah selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Saat itu Rania memang mengambil asal pakaian tidurnya dan mendapat sebuah daster satin polos berwarna putih dengan lengan tali yang panjangnya hanya sebatas paha.
Cassie memulas senyum miring. "Jadi, lo beneran nggak ada perasaan apa-apa sama Rakha?" tanya Cassie lagi. Pertanyaannya mulai menjurus.
"Nggak,"
"Kalau sama Nando?"
Rania terdiam sesaat mendengar nama Nando kembali disebut-sebut dihadapannya seolah rasa sakit itu kembali menyerbu masuk menusuk rongga hatinya yang terdalam.
"Nggak! Nando udah gue hapus dari kehidupan gue," ucapnya getir. "Ambilin minum dong Cas, gue aus nih," pinta Rania setelahnya.
Diam-diam Cassie kembali tersenyum. Bibir Rania memang mengatakan tidak, tapi suara dan sendu matanya, jelas tak mampu membohongi seorang Cassie. Cassie cukup tahu bahwa sampai saat ini Rania masih mencintai Nando. Dan itu artinya...
Cassie kembali memulas senyuman miring.
Dia mengambil segelas air putih di nakas.
Masih dihadapan Rania, Cassie membubuhkan sesuatu ke dalam gelas itu dan memberikannya pada Rania.
Rania pun menerima minuman itu tanpa sedikit pun rasa curiga.
Lalu mulai meminumnya.
Cassie masih terus memperhatikan.
Mungkin, lo bisa aja selamat dari kecelakaan itu, kalau aja mobil box sialan itu nggak menghalangi rencana gue malem itu!
Tapi kali ini, nggak ada siapapun yang bisa menghalangi rencana gue!
Gue udah bosen sama Nando!
Karena kali ini, gue maunya, sama Rakha...
Haahahaha...
Sorry ya Rania...
Lo nggak cintakan sama Rakha?
Jadi mendingan, Rakha buat gue aja?
Ucap Cassie membatin.