14. DI METROMINI

1437 Words
"Ihhh, kenapa juga harus pakai jilbab sih? Gerah tau!" keluh Rania saat dirinya diajak pergi oleh Rakha untuk mengantar kepulangan keluarga Rakha di stasiun gambir. Hari ini, Umi, Abi, Aminah dan Latifah hendak pulang ke Bantul setelah hampir dua minggu lebih mereka ada di Jakarta. Niatan untuk pulang terus tertahan, akibat keadaan Siti yang kritis kemarin. Kini, keadaan Siti sudah mulai stabil meski belum menunjukkan kemajuan apapun. Rakha baru saja membelikan tiket untuk keluarganya. Dia terdiam sesaat ketika dilihatnya isi uang di dalam dompetnya kini hanya tersisa selembar uang dua puluh ribu rupiah. Uang tabungan Rakha sudah habis terkuras. Terpakai untuk segala keperluan hidupnya selama dia tinggal di Jakarta pun untuk biaya pernikahannya dengan Rania. Belum lagi kemarin, saat Siti kritis, pihak rumah sakit memberikan sebuah resep obat yang harus ditebus oleh Rakha dan benar apa kata Wisnu, harganya memang sangat mahal. "Rakha, gue lepas ya jilbabnya?" rengek Rania yang kini berdiri di samping Rakha. "Kamu nggak akan mati kepanasan hanya karena memakai jilbab itu, Rania," ucap Rakha dengan senyuman. Digamitnya jemari Rania lalu dituntunnya Rania menghampiri tempat di mana keluarganya menunggu. Rania terus saja ngedumel. Padahal sebenarnya tadi dia sama sekali tidak ingin ikut, tapi Rakha terus memaksanya. Dan bukan hanya memaksa untuk ikut, tapi juga memaksa untuk memakai jilbab. Bahkan lelaki itu sendiri yang memakaikan jilbab ini di kepala Rania. "Ini tiketnya, Umi, Abi. Setengah jam lagi keretanya datang," beritahu Rakha pada ke dua orang tuanya juga adik-adiknya. "Kamu masih ada pegangan uang Nak? Kalau sudah tidak ada, katakan pada Umi, jangan sungkan. Sebab sejak kemarin, segala sesuatu perihal pernikahan kamu yang menanggung biayanya sendiri. Gaji pertamamu masih satu minggu lagikan keluarnya?" tanya Umi seolah mengetahui apa yang sedang dicemaskan Rakha saat ini. Ikatan batin di antara keduanya memang teramat sangat kuat. Rakha tersenyum lebar seraya menggeleng. "Umi tidak usah khawatir, uang Rakha masih cukup setidaknya sampai Rakha nanti menerima gaji pertama Rakha," ucapnya berbohong. Tak sampai hati Rakha menyampaikan masalah yang dialaminya pada Umi sementara dia tahu beban pikiran Umi kian menumpuk akibat keadaan Mbak Siti. Tak kuasa Rakha menahan air matanya setiap kali dia mengingat tangis pilu Umi sewaktu di rumah sakit kemarin. Lantas haruskah kini dia membuat sang Umi kembali dirundung pikiran berlebih akibat dirinya? Rasanya sangat tidak mungkin. Toh untuk urusan perut, Rakha tidak perlu mengambil pusing karena dia bisa menumpang makan di rumah Ibu dan Bapak mertuanya. Meski terkadang, hadir rasa sungkan jikalau dirinya harus terus hidup menumpang di sana, bahkan saat ini saja, setelah dirinya sudah resmi menikah dengan Rania, Rakha belum mampu menafkahi Rania, apalagi memberikan uang sepeserpun pada Rania. Sama sekali belum. "Yasudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya Rakha. Jaga juga Rania baik-baik. Rania sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu. Dia sayapmu untuk menuju surga-Nya kelak..." nasehat Umi sembari mengelus pipi Rakha dengan sayang. Berat rasanya bagi Umi harus hidup terpisah dari satu-satunya anak lelaki yang dia miliki. Apalagi jika perangai anak itu seperti Rakha. Umi sungguh bangga memiliki Rakha. "Iya Umi, Rakha mengerti. Umi juga jaga kesehatan ya, Abi juga. Jangan terlalu capek mencari ikan, apalagi kalau laut sedang pasang," kali ini tatapan Rakha beralih pada sang Abi yang duduk bersebalahan dengan sang Umi. "Kamu tidak usah mencemaskan Abi, Rakha. Abi ini masih kuat. Bahkan menggendong Umi mu sampai ke Bantul saja Abi kuat," canda Abi yang memang hobi berguyon. "Ah, Abi tukang bohong Mas. Jangankan gendong Umi sampai ke Bantul, kadang dorong motor aja, minta bantuin Ifah, iyakan Mba Aminah?" sambung Latifah cepat yang disambut tawa oleh keluarga itu. Rania yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan jadi ikutan memulas senyum mendengar celotehan Latifah si bungsu. Bahkan sesekali dia ikutan tertawa hingga barisan gigi-giginya yang putih bersih terlihat. Rakha menyaksikan itu dengan hati yang kian berbunga-bunga. Melihat senyuman Rania terkembang bahkan dengan jemari Rania yang terus terselip di antara jemarinya. Menghadirkan degupan lain di dalam hati Rakha. Entah apa itu, tapi yang pasti Rakha menyukainya. "Astagfirullah, ngomong-ngomong masalah kado, Ifah lupa, waktu itukan Mba Zulfa sempat titip kado buat Mas Rakha," Ifah terjengit dari duduknya dan langsung merogoh ke dalam tas ranselnya, mengubek-ubek isinya mencari sesuatu. Tak lama berselang, ABG berusia dua belas tahun itu mengeluarkan sebuah kotak kado kecil berwarna jingga dan memberikannya pada Rakha. "Nih Mas," Rakha menerima kado itu dengan senang hati. "Sampaikan salam dan rasa terima kasih Mas pada Zulfa," "Oke deh. Jadi gini ceritanya Mas, waktu itu satu hari sebelum Ifah berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan Mas Rakha sama Mba Rania, Ifah ketemu sama Mba Zulfa di pesantren. Waktu itu Mba Zulfa belum tahu kalau Mas Rakha mau menikah. Makanya Ifah kasih tahu, eh tahu nggak apa yang terjadi setelah itu?" Latifah memperhatikan ekspresi masing-masing dari keluarganya sejenak sebelum akhirnya dia melanjutkan ceritanya. "Abis itukan, Mba Zulfa izin pergi katanya mau ke toilet, pas keluar dari toilet, Ifah liat matanya Mbak Zulfa merah terus berair. Kayak habis nangis gitu, Umi. Kayaknya bener deh apa yang pernah Umi tebak waktu itu, soal Mba Zulfa yang menyimpan perasaan lain sama Mas Rakha. Anehnya kalau emang dia suka sama Mas Rakha, dulu kenapa dia menolak lamaran Mas..." Aminah langsung menendang kaki adiknya, melotot dan mengisyaratkan Latifah agar berhenti bercerita tentang Zulfa karena di sana ada Rania. Umi hanya geleng-geleng kepala sementara Latifah langsung tutup mulut. Hingga setelahnya, celotehan Abi mulai kembali mencairkan suasana yang sempat membeku akibat kelakuan Latifah. Meski, kali ini, di saat yang lain tertawa karena lelucon konyol Abi, Rania hanya terdiam dengan mulut yang terus terkatup rapat. Entahlah, apa yang membuat moodnya tiba-tiba saja berantakan. Rania sendiri bingung. Intinya, dia tidak suka saat mendengar cerita Latifah tentang sosok Zulfa. ***** Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Tapi anehnya sorot panasnya terik matahari masih saja terasa membakar kulit. Entah kenapa Matahari seolah betah berlama-lama menyinari bumi hari ini sampai-sampai di kala senja tiba dirinya tak kunjung menunjukkan tanda-tanda untuk meredupkan cahayanya lalu pulang kembali ke persinggahan, tenggelam di ufuk barat. Berkali-kali Rania menyeka buliran keringat yang menetes di dahinya dengan selembar tissue. Wajahnya meringis menahan gerah dan pengap. Panasnya cuaca Jakarta dan kain penutup kepala yang dia kenakan saat ini telah melengkapi penderitaannya hari ini. Tak henti dia mengeluh dalam hati. Kenapa juga dia harus terjebak di dalam metromini bersama Rakha sore-sore begini. Padahal jika di rumah, Rania pasti baru saja terbangun dari tidur siang lalu langsung menikmati cemilan ala-ala Mbok Surti yang selalu membuat Rania ketagihan. Bukannya malah kehausan dan kelaparan seperti sekarang. Rakha, si lelaki menyebalkan itu bahkan tidak sama sekali menawari Rania makan sejak dirinya dan Rania masih berada di Stasiun gambir usai keberangkatan keluarganya menuju kampung halaman. Bahkan gilanya lagi, saat Rania ngotot ingin naik taksi, tanpa banyak cakap, Rakha justru menarik tangan Rania dan mengajaknya naik ke dalam sebuah angkutan umum yang bisa Rania prediksikan itu adalah metromini. Kebangetankan? "Masih lama nggak sih sampenya? Kaki gue pegel nih! Laper juga!" keluh Rania dengan wajah cemberut. "Sabar ya, Rania. Jalanannya macet," ucap Rakha prihatin. Perasaan bersalahnya kian menjadi-jadi. Dia merasa benar-benar tidak becus sebagai seorang suami dengan membiarkan sang istri menderita bersamanya. "Lagian kenapa tadi nggak naik taksi aja sih? Kata gue jugakan naik taksi aja! Walau kena macet juga seenggaknya gue bisa duduk sambil selonjoran, atau tidur! Ini, boro-boro! Kaki gue sampe mati rasa gara-gara berdiri terus daritadi," tambah Rania lagi. Rakha celingukan, mencari kursi kosong yang bisa digunakan untuk Rania duduk. Meski tak juga dia temukan. Seluruh kursi penuh. Maklum, ini waktu dimana orang-orang pulang kantor, makanya seluruh transportasi pasti menjadi incaran para pengguna jasa angkutan umum. Jadilah kondisinya seperti saat ini. "Mas-mas, maaf Mas, bisa mengalah sebentar, beri istri saya duduk, dia sedang hamil, kakinya sakit karena berdiri terlalu lama," tegur Rakha pada salah satu lelaki yang duduk tak jauh dari dirinya, berharap lelaki itu berbelas kasihan pada istrinya. Senyum Rakha terkembang tatkala si lelaki tadi langsung bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Rania untuk duduk. Dengan sangat hati-hati Rakha membimbing Rania ke kursi kosong itu dan membantunya untuk duduk. Sementara Rakha sendiri berdiri di sisi Rania, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sang istri. Rakha tau dirinya bersalah. Dan dia harus memastikan kondisi Rania baik-baik saja sampai mereka pulang. Maafkan aku Rania... Maaf jika kehadiranku dalam hidupmu justru membuatmu tak lepas dari kesulitan... Maaf atas ketidakberdayaanku... Saat itu, dalam posisinya yang terbilang sangat dekat dengan Rania, Rakha terus dilanda perasaan aneh yang dia sendiri tidak mengerti. Degupan jantungnya seolah memompa lebih cepat dari biasanya. Dan fokusnya terus tertuju pada wajah Rania yang sempurna dimatanya. Sementara Rania sendiri, tak sedikit pun melepas pegangannya pada pakaian Rakha. Di remasnya kuat-kuat kemeja hitam yang dikenakan Rakha saat itu. Seolah tak ingin Rakha jauh darinya. Dan hal itu semakin membuat perasaan seorang Rakha menjadi tidak karuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD