13. BERHUBUNGAN LAYAKNYA SUAMI ISTRI

1231 Words
"Kamu sudah shalat isya, Rania?" tanya Rakha ketika Rania sudah selesai dengan acara kumpul-kumpul bersama kawan-kawan satu kampusnya. Baru juga gue masuk kamar, udah ditanyain begituan! Keluh Rania dalam hati. "Nggak usah mulai deh!" ucap Rania acuh. Dia masih berjalan dengan tongkatnya mencari keberadaan ranjang tempat tidurnya. "Ini udah hampir jam sebelas malam! Kamu darimana aja tadi? Kenapa nggak ijin dulu sama saya kalau kamu mau keluar sama temen-temen kamu? Kamu pikir saya ini apa? Patung?" ucap Rakha. Suaranya terdengar tegas. "Gue udah bilang Mamah kok tadi, ribet lo! Lagian juga gue cuma nongkrong di kafe doang sama mereka, nggak jauh-jauh juga," jawab Rania yang mulai kesal. Dia melepas sepatu ketsnya, lalu kaus kakinya dan hendak merebahkan diri ke atas tempat tidur. Sehabis mandi tadi, Rakha langsung menunaikan shalat isya dan larut dalam dzikirnya. Pukul setengah sepuluh malam Rakha menyudahi ibadahnya dan sadar kalau Rania belum juga masuk kamar. Untuk itulah Rakha mengecek ke kebun belakang, tapi keadaan di sana sudah sepi. Dan saat Rakha bertanya pada Mbok Surti, wanita paruh baya itu bilang, "Non Rania tadi pergi sama temen-temennya Mas Rakha, saya juga nggak tahu kemana. Tadi dia cuma izin sama Ibu, terus Ibu bilang suruh izin dulu ke Mas Rakha, tapi kata Non Rania, dia udah izin ke Mas Rakha terus di izinin, begitu..." "Shalat dulu Rania," suara Rakha kembali terdengar. Rania yang hendak memejamkan mata langsung menggeram. "Besok aja deh gue shalat shubuh, gue udah ngantuk nih!" balasnya seraya menarik selimut tinggi-tinggi. "Siapa yang bisa memastikan kalau besok shubuh kamu masih bisa menunaikan shalat? Memangnya kamu tahu umur kamu sampai mana?" ucap Rakha membalas. Rania membuka kembali selimut yang menutupi tubuh hingga wajahnya, dia menoleh kesal ke arah suara Rakha. "Lo sumpahin gue mati?" sarkasnya dengan suara lantang. "Tak ada yang tahu kapan maut akan menghampiri kita, Rania. Jika kamu berpikir kamu hendak menunaikan shalat besok, tapi jika ternyata Allah berkehendak lain bagaimana?" "Yaudah sih, itu berarti udah jadi takdir gue! Lo nggak usah banyak BACOT!" "Dan sebelum maut itu datang, sudah sepatutnya kita mencari bekal banyak-banyak, supaya kita tidak tersesat," potong Rakha cepat. "Iiihhhh!" teriak Rania frustasi. Dia menggaruk ke dua telinganya dengan kasar. "Sumpah ya, lo itu nyebelin banget! Berisik tau nggak! Gue lagi males berdebat malam ini, gue capek, gue mau istirahat, oke?" "Saya ini suami kamu, sudah sepantasnya saya menegur kamu jika kamu salah. Mengingatkan kamu jika kamu mulai lupa. Dan menuntun kamu menuju jalan yang sesuai dengan ketetapan-Nya. Semua urusan kamu, menjadi urusan saya juga. Sebab saya bertanggung jawab penuh atas diri kamu mulai sekarang. Kalau kamu nggak mau berdebat sama saya, lebih baik kamu turuti perintah saya sekarang," tegas Rakha dengan intonasinya yang mulai meninggi. Entah apa yang membuat seorang Rakha tiba-tiba saja terpancing emosi dalam menghadapi Rania, malam ini. Padahal, dia sudah susah payah untuk tetap berusaha sabar, meski akhirnya dia kalah juga. Beban pikirannya hari ini membuat Rakha tak bisa lagi mentolerir sikap Rania. Rania cukup tersentak mendengar suara Rakha yang membentaknya tadi. Keheningan sempat menyergap keduanya dalam kekalutan. Sampai akhirnya, suara Rakha kembali terdengar. Pelan dan getir. "Maaf... Maaf kalau saya keterlaluan... Saya temani kamu ambil wudhu ya?" Kali ini, Rania tidak melawan. Mendengar suara Rakha tadi, Rania sadar bahwa Rakha sepertinya sedang ada masalah, dan dia ingat sewaktu Rakha meneleponnya sore tadi untuk memberitahu bahwa suaminya itu akan pulang telat hari ini, dikarenakan keadaan sang Kakak ipar yang tiba-tiba kritis di rumah sakit. Jujur, Rania jadi merasa bersalah. Hingga akhirnya, dia pun menuruti perintah Rakha untuk menunaikan shalat isya, malam itu. ***** Rania sudah menunaikan shalat isya. Baru saja matanya hendak terpejam ketika dia merasakan ranjang tempat tidurnya bergerak. Rania kaget bukan kepalang. Dia langsung bangkit dengan waspada. "Rakha? Itu lokan? Ngapain lo naik ke tempat tidur gue?" tanya Rania dalam posisi duduk. "Saya mau tidur," jawab Rakha sekenanya. Rania menggeram tertahan. "Kan kita udah sepakat kalau kita nggak bakal tidur satu ranjang! Rese lo! Pokoknya gue nggak mau tahu, turun dari tempat tidur gue sekarang juga!" "Sudah dari kemarin malam saya tidur di sini, kenapa kamu baru protes sekarang?" ucap Rakha dengan nada santai. Dia mulai bisa menguasai dirinya kembali saat ini. "APA? JADI KEMARIN LO TIDUR DI SINI JUGA?" teriak Rania tidak percaya. Lalu dia mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi kemarin malam. Setahu Rania, kemarin malam itu dia sudah terlelap lebih dulu dibanding Rakha, lalu paginya Rakha yang sudah bangun lebih dulu dibanding dirinya, pantas jika dia sama sekali tidak tahu kalau ternyata lelaki ini tidur di ranjangnya sejak kemarin. Sialan! "Pokoknya gue nggak mau tahu! Gue nggak mau tidur satu ranjang sama lo! Turun nggak!" perintah Rania lagi masih dengan suaranya yang terus berteriak. "Kalau saya tidak mau, kamu mau apa?" balas Rakha, dia tersenyum tipis. "Gue bakal teriak!" "Rakha mencebik, "silahkan! Teriak saja. Memangnya kalau kamu sampai teriak, apa yang akan kamu jelaskan pada orang yang datang kemari nanti? Apa kamu mau bilang kalau saya hendak memperkosa kamu?" tawa Rakha terdengar di akhir kalimatnya. Lagi dan lagi Rania dibuat mati kutu oleh polah Rakha yang semakin menyebalkan. Kenapa semuanya jadi berbalik gini sih? Niat dari awalkan, gue yang bakal buat dia nggak betah di kamar ini! Kenapa sekarang justru gue yang jadi kena getahnya! Sial! Dengan gerakan ragu, Rania kembali membaringkan dirinya di tempat tidur. Tepat di samping Rakha. Namun sebelum itu, dia sempat menumpuk beberapa guling di tengah-tengah mereka. Sekedar waspada bila apa yang tak dia harapkan bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Rakha masih dalam posisi yang sama. Berbaring dengan posisi telentang menghadap langit-langit kamar Rania. Rakha sadar kalau sikapnya ini akan membuat Rania tidak nyaman, tapi mau bagaimana pun Rakha harus melakukan ini. Dia harus membuat Rania terbiasa dengan keadaan ini. Dengan hubungan ini. Sejujurnya, jika boleh dikatakan, Rakha yang lebih merasa canggung dengan keadaan ini. Dimana dirinya harus berada berduaan saja dengan seorang wanita di dalam ruangan tertutup selain dengan keluarganya. "Jangan coba-coba melewati batas guling ini, yang melanggar bakal gue hukum!" ucap Rania sebelum dia benar-benar tidur. Rakha kembali tersenyum. Kali ini, dia tidur menyamping menghadap ke arah Rania. Ditatapnya wajah Rania lekat dengan jarak yang terbilang cukup dekat. Debar kencang di dadanya saat itu kian membuncah. "Kalau kamu yang melanggar, itu tandanya saya bisa hukum kamu jugakan?" tantang Rakha balik. "Dasar laki-laki! Tabiatnya nggak jauh beda! Gue tau apa yang ada di otak lo sekarang! Lo pasti mau grepe-grepein guekan?" Tawa Rakha pecah seketika. Dia mengusap puncak kepala Rania hingga sebagian poni Rania jadi acak-acakkan. "Saya nggak berpikir sejauh itu. Kenapa kamu yang justru sudah berpikir ke sana?" balas Rakha di sisa tawanya. Rania tak menjawab. Dia memilih untuk tidur menyamping memunggungi Rakha. Hawa panas tiba-tiba saja dia rasakan membakar kulit wajahnya. Rakha masih terus menatap ke arah yang sama, yaitu Rania. "Kamu tidak usah khawatir. Saya tidak akan menyentuh kamu, sampai kamu mengizinkan," Rania diam saja. Entah kenapa, hatinya mendadak tersentuh. "Lagipula, kamu saat ini masih hamil. Ada baiknya kita tidak berhubungan dulu, sampai kamu melahirkan..." Wajah Rania sontak memerah. "Apa lo bilang? Berhubungan?" ucapnya cepat seraya berbalik. Rakha menatap Rania. "Iya, berhubungan. Kitakan sudah suami istri?" Rania berdecih seraya tersenyum kecut. "Nggak usah mimpi lo!" Rania menarik selimutnya lagi dan kembali tidur memunggungi Rakha, sebelum otaknya yang kotor ini justru membuatnya malu. Rakha hanya tersenyum tipis. Menatap punggung Rania dengan seksama. "Nanti selepas kamu melahirkan, kita menikah lagi di kantor KUA," Kening Rania semakin keriting akibat ketidakmengertiannya akan ucapan Rakha. Meski setelahnya, Rania memilih untuk tidak perduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD