Setelah terjebak dalam perkumpulan para kolega bisnis di sebuah kafe untuk merayakan keberhasilan yang telah dicapai perusahaan Dirgantara, kini Rakha harus terjebak macet di jalan bersama Devano, juga Bastian dan Bayu, adik dari Bastian.
Mereka yang kini memegang kendali penuh atas keberlangsungan perusahaan turun temurun keluarga itu.
Dirgantara Grup Company.
Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang perdagangan ekspor impor. Tingginya minat dan banyaknya permintaan atas kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap barang-barang yang mereka perjual belikan, mau tak mau membuat perusahaan kini harus menambah beberapa anak cabang baru di beberapa titik tertentu.
Pekerjaan membludak. Semua orang sibuk.
Tidak terkecuali dengan Rakha.
Untuk itulah meski agak terpaksa, Rakha bersedia menerima ajakan sang Kakak Ipar dan Ayah mertuanya untuk ikut bergabung dalam acara perkumpulan malam ini.
Padahal, dia sudah janji dengan Rania sebelumnya untuk mengajak Rania jalan-jalan keluar, sekedar menikmati waktu malam bersama. Rakha sengaja memberi tawaran itu agar Rania menurut untuk tidak datang ke acara pesta ulang tahun Cassie. Jangankan dengan pakaian terbuka, bahkan jika Rania memintanya untuk datang memakai pakaian tertutup pun Rakha tetap tak akan mengizinkan.
Rakha hanya tidak ingin Rania kembali terlibat dalam pergaulan tak baik jika sudah menyangkut tentang Cassie.
Sejak dirinya tahu, wanita macam apa Cassie itu. Rakha memutuskan untuk tidak mengizinkan Rania bergaul dengan Cassie lagi. Meski keinginannya itu belum sempat dia utarakan pada Rania sampai detik ini. Selama Cassie tidak berbuat ulah, Rakha lebih memilih untuk diam dan menyembunyikan tentang kejadian memalukan yang sempat dia alami bersama Cassie kala itu.
Tepatnya sekitar satu bulan yang lalu.
*
Saat Rakha yang tiba-tiba mendapat pesan singkat di ponselnya dari nomor tak dikenal yang mengatasnamakan Rania sebagai dalih kelicikannya.
Kha, ini gue Rania.
Gue pakai nomor Cassie nih. Gue lagi di apartemen Cassie sekarang, nanti sepulang kantor lo jemput ya? Maaf gue lupa bawa Hp. Makanya gue pinjem Hp nya Cassie buat hubungin lo...
Saat itu Rakha sama sekali tak menaruh curiga. Hingga dia pun langsung mengendarai motornya menuju alamat yang telah diberikan Rania saat itu sepulangnya dari kantor.
Sesampainya di alamat yang di tuju, saat Rakha sudah berdiri di depan apartemen Cassie dan memencet belnya beberapa kali, pintu apartemen pun dibuka.
Pemandangan pertama yang Rakha lihat adalah sosok Cassie yang saat itu hanya mengenakan pakaian super minim.
"Assalamualaikum, saya hendak menjemput Rania," ucap Rakha yang tak ingin berbasa-basi.
"Masuk dulu aja, Ranianya lagi di kamar mandi tuh," jawab Cassie dengan pulasan senyum khas yang terkesan menggoda. Tatapannya nakal ke arah Rakha.
"Terima kasih, saya menunggu di sini saja,"
"Ayo masuk dulu, ih! Batu banget sih lo," paksa Cassie yang langsung menarik tangan Rakha dengan cukup kuat.
"Tolong jangan seperti ini," elak Rakha menepis tangannya dari genggaman tangan Cassie. Saat itu, tubuh Rakha sudah berhasil di bawa masuk oleh Cassie ke dalam apartemennya.
Lalu tanpa disangka-sangka, Cassie justru malah mengunci pintu apartemennya dari dalam dan menarik key card sebagai akses kunci di pintu tersebut. Bahkan dengan sangat konyol, Cassie menyimpan key card itu di dalam selipan payudaranya yang masih terbungkus bra dan kemeja putih transparan. Dan semua hal itu dia lakukan dihadapan Rakha tanpa rasa malu sedikit pun.
Rakha terus beristigfar meski dalam hati. Lelaki itu sempat terbengong dengan ke dua alis tebalnya yang menyatu. Dalam hati terus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ada di dalam benak Cassie hingga dia melakukan ini semua?
Hingga pada akhirnya, Rakha pun tahu, bahwa di dalam apartemen itu tidak ada Rania.
Cassie telah membohonginya dan bodohnya Rakha telah masuk ke dalam perangkap kelicikan wanita itu.
"Tolong biarkan saya keluar, kalau memang kenyataannya Rania tidak di sini, tidak apa-apa. Saya mau langsung pulang saja," pinta Rakha masih tetap berusaha bicara dengan nada sopan. Meski dalam hati, emosi Rakha mulai terkumpul sedikit demi sedikit.
"Nih ambil sendiri Key Cardnya," ucap Cassie sambil membusungkan ke dua payudaranya ke arah Rakha. Membuat lelaki itu semakin dibuat salah tingkah. Sebab akan sangat tidak mungkin jika Rakha harus berbuat kasar terhadap wanita.
Melihat reaksi Rakha yang nampak kikuk, hal itu membuat Cassie jadi tertawa geli. Ternyata benar kata Rania, Rakha ini benar-benar primitif. Kaku. Dan bodoh...
"Kenapa malah diem? Katanya mau pulang, yaudah nih ambil... Di kasih enak kok pake mikir," ucap Cassie dengan senyuman miring.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari saya? Apa maksud semua ini? Kamu jelas tahu kalau saya ini suami Rania, sahabat kamu, tolong jaga sikap kamu, jangan sampai..."
"Jangan sampai lo beneran gue buat sange?" potong Cassie yang masih terus tertawa.
Rakha menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah laku Cassie. Dia benar-benar tak menyangka dengan apa yang Cassie lakukan hari ini. Sungguh di luar dugaannya.
"Emangnya lo punya nafsu? Gue denger, sampe sekarang aja lo sama Rania belum ngapa-ngapain? Bener nggak tuh?" Cassie berjalan, berputar mengitari tubuh Rakha. Tangannya bergerak membuka satu persatu kancing kemejanya. Satu-satunya pakaian yang membungkus tubuhnya dari luar.
"Itu bukan urusan kamu. Itu urusan pribadi rumah tangga saya dengan Rania," jawab Rakha. Kepalanya terus tertunduk. Jengah dengan polah Cassie yang dinilainya semakin kelewatan.
"Tapi gue udah tau semuanya kok dari Rania, jadi bukan pribadi lagi dong namanya?" Cassie berhenti bergerak saat posisinya kini berhadapan dengan Rakha, tubuhnya semakin mengikis jarak dengan Rakha, bahkan hampir menempel. Sebelah tangannya merambat naik dan bergerak menyusuri belahan d**a bidang Rakha yang masih terhalang pakaian lengkap.
"Tolong jaga sikap kamu, jangan pancing saya untuk bertindak kasar," ancam Rakha. Dia sudah benar-benar muak dengan tingkah laku Cassie.
Bukannya takut, Cassie malah semakin menjadi. Dengan tatapan yang sama sekali tak beralih dari Rakha, kini tangan wanita itu bergerak ke arah s**********n Rakha. Merabanya dengan penuh hasrat.
Ke dua rahang Rakha mengeras.
Dia sungguh merasa miris dengan apa yang di lakukan Cassie terhadapnya. Hingga pada saatnya, Rakha pun tidak tinggal diam. Di tahannya pergelangan tangan Cassie yang hendak menurunkan retsleting celananya dengan satu cengkraman yang cukup kuat sampai Cassie meringis.
"Apa kamu sadar bahwa apa yang baru saja kamu lakukan sudah melampaui batas? Islam menjadikan wanita makhluk yang istimewa dan diangkat derajatnya dari kaum laki-laki. Bahkan dalam Al-Quran sendiri ada surat An-Nisa yang artinya wanita. Sebagai seorang lelaki sudah sepatutnya saya menghormati dan memuliakan mereka. Bahkan Rasullullah pun mengajarkan pada seluruh umatnya tentang betapa pentingnya menghargai seorang wanita dalam kehidupan. Untuk itu saya meminta tolong sekali lagi pada kamu, hentikan omong kosong ini. Jangan menjadikan dirimu terlihat rendah di hadapan seorang laki-laki. Dan perlu kamu tahu, seandainya saja kamu bisa menjaga diri, maka kamu bisa menjadi perhiasan dunia yang sangat indah dan mulia bagi mahrammu kelak. Tutupi tubuhmu. Tolong biarkan saya keluar,"
Kilatan amarah tampak dari tatapan Cassie pada Rakha saat itu. Dia masih berusaha melepas cengkraman tangan Rakha yang masih meremas pergelangan tangannya, meski hal itu tak kunjung berhasil.
"Nggak usah ceramah di depan gue! Gue nggak butuh ceramah, laki-laki munafik dan naif macam lo! Ngaku aja sama gue, kenapa sampai saat ini lo nggak juga menyentuh Rania? Padahal jelas-jelas dia itu istri lo!" tantang Cassie, ke dua bola matanya menyipit menatap lurus wajah Rakha. "Itu semua karena lo emang nggak beneran cintakan sama Rania? Gue tau lo itu menikahi Rania cuma karena lo kasihan sama dia, lagipula laki-laki mana juga yang mau n***e sama cewek buta? Nafsu aja nggak! Iyakan? So' lo nggak usah sok suci di depan gue! Gue bakal kasih semua yang lo mau, asal lo tinggalin Rania..."
Deg!
Kali ini Rakha melepas dengan cepat cengkraman tangannya di pergelangan Cassie. Oksigen yang berhasil dia hirup dihempasnya keras melalui mulut. Perkataan Cassie benar-benar membuat lahar panas yang telah terkumpul di ubun-ubun kepalanya hendak meledak seandainya Rakha tidak menarik diri, menjauh dari Cassie. Dia terus melafalkan doa-doa ampuh yang bisa meredakan emosinya. Sebab dia tahu, sesuatu yang di selesaikan dengan emosi pasti akan berujung tidak baik ke belakang, karena setan berkuasa dalam setiap emosi manusia. Rakha jelas tidak mau langkahnya di sertai oleh Syaiton.
Susah payah, Rakha mengumpulkan segenap kesabarannya. Bibirnya yang senantiasa memulas senyum seolah kaku dan kelu.
"Satu hal yang perlu kamu tahu, Cassie, saya tulus mencintai Rania apa adanya. Tidak melihat apa kekurangan yang dimiliki Rania, saya mencintai Rania karena Allah. Bukan karena fisik. Dan bagi saya, Rania adalah satu-satunya wanita paling berharga dalam hidup saya setelah Ibu saya. Sekali pun kamu memperlihatkan segala kesempurnaan yang kamu miliki saat ini dihadapan saya, saya tetap tidak berminat, sedikit pun! Justru yang ada, saya merasa jijik mengetahui kelakuan kamu yang sesungguhnya. Allah telah menunjukkan sesuatu yang berharga hari ini tentang diri kamu yang sebenarnya. Jika saya berpikir bahwa kamu adalah wanita baik-baik, maka kini, pendapat saya tentang kamu berbalik dari sebelumnya. Di mata saya, kamu bahkan lebih rendah dari seorang p*****r pinggir jalan yang menjajakan dirinya demi sesuap nasi atau demi menghidupi anak-anaknya. Tolong, ini terakhir kalinya saya meminta pada kamu, buka pintu apartemen ini dan biarkan saya pergi. Saya berjanji, saya tidak akan mengatakan hal ini pada Rania, tapi dengan satu syarat, setelah ini, jauhi Rania. Sebagai seorang suami, saya berhak menentukan siapa saja orang yang layak menjadi teman Rania. Dan yang pasti, bukan kamu orangnya. Tapi jangan salahkan saya jika setelah ini kamu masih tetap menjalin hubungan dengan Rania, ada kemungkinan saya akan memberi tahu Rania, wanita macam apa kamu sebenarnya," jelas Rakha panjang lebar.
Saat itu, Rakha bisa melihat tatapan Cassie yang tadinya tajam dan dingin perlahan meredup. Bahkan dia tidak lagi mendongak angkuh seperti tadi. Kepalanya tertunduk dengan ke dua tangan yang merapatkan kemeja yang semua kancingnya sudah terlepas. Menampakkan apa yang ada dibaliknya dengan sangat jelas dan nyata.
Perlahan tangan Cassie bergerak mengambil key card yang dia taruh di apitan ke dua bukit kembarnya dan memberikannya pada Rakha.
Rakha menerima key card itu dengan cepat dan langsung beranjak keluar dari apartemen itu.
Dalam hati, dia tak henti mengucapkan kalimat hamdalah.
Sungguh pengalaman terburuk dalam sejarah kehidupan seorang Rakha, saat dirinya harus dihadapkan dengan situasi yang benar-benar membuatnya kesulitan mengambil tindakan.
*
"Kha, Kha! Woy Rakha!"
Rakha terhenyak dari lamunannya. Dia benar-benar terkejut saat bahunya di guncang cukup kencang oleh Devano.
"Udah sampe, lo mau turun nggak?" ucap Devano lagi.
Rakha menoleh, melihat ke sekeliling, ternyata dia sudah berada di halaman kediaman Dirgantara, sementara Bastian dan Bayu sudah lebih dulu beranjak keluar dari mobil Devano.
"Ngelamunin apaan sih? Serius amat? Jangan bilang lo lagi mikirin gaya buat nanti malem? Malem jumat nih, sunah Rasul," goda Devano sambil cengengesan. Dia menyiku lengan Rakha.
Rakha meraba tengkuknya yang tidak gatal. Perkataan Devano membuatnya salah tingkah. "Nggak kok, Mas. Saya nggak mikirin begituan," jawab Rakha dengan wajahnya yang bak kepiting rebus. Melihat tingkah Rakha yang kelewat polos di mata Devano, membuat lelaki berwajah setengah bule itu semakin menggila dalam menggoda sang adik ipar.
Devano merapatkan tubuhnya seraya merangkul bahu Rakha. Dia mendekatkan wajahnya di telinga Rakha seperti ingin membisikkan sesuatu.
"Nggak usah malu, sama gue aja pake malu-malu! Gini-gini gue udah lebih berpengalaman dari lo! Kalau lo ada masalah dalam berhubungan sama Rania, bilang aja sama gue. Gue pasti bisa bantu. Nanti gue ajarin gimana caranya bikin cewek klepek-klepek di atas ranjang! Atau mungkin, lo mau gue kasih tau resep gimana supaya alat tempur kita bisa bertahan lama sampai berjam-jam?"
Rakha tersenyum masam. Tubuhnya mendadak panas dingin. Dia bingung harus menanggapi apa, hingga akhirnya dia hanya mampu berdiam tanpa kata.