"Apa lagi sih?"
Rania terus meracau tidak jelas saat dirinya harus kembali terlibat adu tarik tangan dengan manusia tak tahu diri yang bernama Rakha Al Farizi, suaminya, pagi-pagi begini. Satu-satunya manusia tidak berkeprimanusiaan yang terus saja mengganggu tidur Rania, padahal Rania merasa dirinya baru saja tertidur sekitar satu sampai dua jam.
Bayangkan saja, tadi berkisar pukul 02.00 WIB dini hari, Rania sudah dibangunkan oleh Rakha dengan dalih shalat malam. Dirinya yang jelas masih sangat mengantuk bersikukuh tak mau beranjak dari tempat tidur, hingga setelahnya Rakha kembali menggendong tubuhnya yang masih setengah sadar menuju kamar mandi, lalu mengunci pintu kamar mandi dari luar sebelum Rania menuruti perintahnya untuk mengambil wudhu. Dan semua penderitaan Rania tidak terhenti sampai di situ.
Usai menunaikan shalat malam, lagi-lagi Rakha melarang Rania untuk kembali melanjutkan tidurnya. Al-Quran Braille yang dibeli Rakha untuk Rania sekitar dua minggu yang lalu memang sama sekali belum Rania sentuh dan kini Rakha memaksa Rania untuk membacanya.
Lagi, dengan wajah sewot dan sambil uring-uringan Rania terpaksa menuruti perintah Rakha, sebab seandainya pun Rania ngotot mengatakan tidak mau, Rakha tak akan berhenti memaksanya. Hingga semuanya berujung pada ceramah panjang tanpa henti yang sudah Rania pastikan hanya akan membuat Rania semakin dilanda frustasi akut. Cukup gendang telinganya dibuat tuli oleh Rakha setiap pagi.
Dan kini, Rania harus kembali dihadapkan dengan situasi yang sama dengan orang yang sama pula, yaitu Rakha!
"Gue masih ngantuk!" ucap Rania dengan pengulangan kalimat yang sama.
"Sampai kapan kamu mau tidur terus? Ini sudah hampir jam tujuh pagi, kamu mau bangun jam berapa? Saya mau berangkat ke kantor, Rania," beritahu Rakha dengan suaranya yang lembut dan terdengar jelas di telinga Rania sebab saat itu, Rakha bicara dengan posisinya yang cukup dekat dengan Rania. Bahkan dia sempat mengelus kening Rania.
"Yaudah sih, berangkat-berangkat aja, biasanya juga begitu! Ngapain pake bangunin gue segala!" bantah Rania lagi. Dia menepis tangan Rakha yang jahil karena terus saja mengganggunya.
"Bangun pagi itu membawa rejeki Rania, kamu harus membiasakan diri mulai sekarang. Kalau tidak, memangnya kamu mau rejekimu dipatok ayam?"
"Yaelah, percaya sama yang begituan? Musrik tahu! Lagian ayam siapa yang doyan sama duit! Nggak ada dari sananya kali!"
Bukannya marah, Rakha justru tertawa mendengar celotehan Rania. "Itukan cuma perumpaan sayang... Ayo bangun, istri yang baik itu adalah istri yang senantiasa menemani suaminya saat hendak berangkat ke kantor," tangan Rakha kembali menarik tangan Rania agar sang istri bangun.
Dengan ke dua alis yang menyatu dan bibir yang cemberut Rania pun bangkit dari tidurnya. "Kenapa sih, selalu gue terus yang harus nurutin perintah lo? Sekali-kali gantian dong," oceh Rania lagi.
Sambil membenarkan ikatan dasi yang baru saja dipakainya, Rakha mengambil posisi duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan Rania. Wajah Rania ketika bangun tidur dengan rambut yang acak-acakan seolah menjadi salah satu pemandangan berharga yang tak bisa dia lewatkan. Apalagi dengan wajah judesnya itu, membuat Rakha gemas.
Rania cukup tersentak saat tahu Rakha kini duduk di sebelahnya. Reflek dia menggeser sedikit posisi duduknya.
"Memangnya kamu mau menyuruh apa ke saya?" tanya Rakha tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Mau minta ciumkah?" goda Rakha sambil menahan tawa.
"Idihhh, geer banget lo! Pagi-pagi udah kemana-mana pikirannya," balas Rania dengan debaran jantungnya yang semakin menggila.
Rakha hanya tertawa. "Ya terus kamu mau apa?"
Rania terdiam cukup lama.
Sebenarnya dia ingin sekali membicarakan hal ini dengan Rakha sejak tiga hari yang lalu, tapi entah kenapa, dirinya merasa tak punya nyali untuk mengatakannya. Sebab, dia tahu permintaannya ini sepertinya mustahil dikabulkan oleh Rakha.
Mustahil Rakha akan memberinya izin, mengingat kepribadian lelaki itu yang teramat sangat menjunjung nilai dan norma-norma keagamaan.
Rakha masih bersabar menunggu hingga akhirnya Rania pun kembali bersuara.
Menyampaikan apa yang menjadi keinginannya.
"Besok malem, Cassie ulang tahun, gue di undang. Tapi... Temanya modern party, jadi kayaknya nggak mungkin kalo gue harus dateng pakai gamis dan hijab, bolehkan sekali aja gue keluar rumah tanpa pakaian itu? Daripada nanti gue malah jadi bahan ejekan temen-temen gue! Bolehkan? Boleh ya? Pleaseee..."
Rakha hanya diam. Sama sekali tak bereaksi atas bujukan Rania. Bahkan, senyum di wajah tampannya pun sirna dalam seketika