Positif

1054 Words
Aku meminta Bi Ama membuatkan ku salad buah setiap hari, entah mengapa lidahku menyukai yang asam-asam baru-baru ini. Aku mengunyahnya dengan lahap, padahal sebelumnya aku tidak menyukai buah-buah segar, kecuali dibuat jus. "Apa sudah dicoba alat yang dibelikan kemarin?". Tanya Bi Ama menyadarkan ku yang sedari tadi melahap salad buah itu. "Belum". Jawabku menggeleng "Ada baiknya dicoba lebih cepat, semakin cepat kita tahu, kita semakin bisa untuk memproteksi diri. Saya juga lebih bisa memilih menu makan untuk Nona agar tidak salah makan". Ujar Bi Ama menjelaskan. Aku tahu kata-kata yang diucapkan Bi Ama ini ada benarnya juga, siapa tahu itu benar-benar terjadi. Tetapi aku belum siap jika hasilnya nanti tidak sesuai dengan keinginanku saat ini, semuanya akan menjadi hancur. Aku masih termenung di depan meja makan sambil mengadap ke kaca dapur yang menghadap ke halaman belakang, jika apa yang tidak aku inginkan itu benar-benar terjadi, bagaimana harus aku menjelaskannya pada Ahzar? Bagaimana respon Ahzar? Aku tahu selama ini Ahzar memperlakukan aku dengan baik itu karena ia masih menghargaiku. Tetapi bagaimana aku yang selama ini ia hargai dengan lebih mengkhianatinya. Ahhh.. Sepertinya aku berpikir terlalu berlebihan. "Nona!". Bi Ama menyadarkan ku "Iya Bi Ama" "Kita coba nanti ya" "Tapi, aku takut Bi ___". Kalimat aku terpotong "Tidak perlu takut nona, semoga hasilnya nanti positif ya, jika belum akan ada kesempatan-kesempatan selanjutnya nona". Ucap Bi Ama menyemangatkan ku "Andai saja Bi Ama tahu apa yang ada di dalam pikiranku". Ucap ku datar Aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Bi Ama setelah itu. Aku ambil keputusan untuk mencoba alat uji kehamilan itu, karena jika aku menunda-nunda ini semua hanya menambah beban pikiranku. *** Aku mengcelupkan alat itu dengan pelan, tanganku gemetaran berharap tidak terjadi apa-apa. Setelah lima menit berseteru dengan batinku sendiri, akhirnya aku memberanikan membuka mata untuk melihat hasilnya di alat itu. Degg!!! Jantungku terasa berhenti berdenyut, nafasku sesak, kaki lemah hingga aku ambruk di lantai kamar mandi itu. Apa yang tidak aku harapkan benar-benar terjadi. Bi Ama yang menyadari itu mengedor-ngedor pintu dari luar sambil berteriak. "Nona! Nona! Buka pintunya! Nona! Nona! Ayo bukalah! Apa kau baik-baik saja! Nona! Nona!". Aku mendengar Bi Ama berteriak berkali-kali. Tetapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk menyahutnya walau pelan, sepertinya bibirku terkunci saat itu. Seingatku aku berusaha dengan susah payah menggapai handle pintu untuk membukakan ganjal pintu kamar mandi itu, namun tiba-tiba pemandanganku terasa gelap bahkan sangat gelap, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku tersadar saat tubuhku sudah terbaring diatas tempat tidur dengan baju yang sudah diganti dan dibaluti selimut tebal. Tiba-tiba aku teringat pada alat uji kehamilan itu, masih terekam dengan jelas bahwa alat itu menunjukkan garis dua, positif aku hamil! Tetapi aku lupa entah kemana alat itu, mungkin saja tertinggal di kamar mandi, tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk berdiri mencarinya lagi. Kali ini Ahzar masuk ke kamar dengan tatapan tidak biasanya, ia menunjukan tatapan yang tajam seperti menahan amarah. "Apa sudah siuman?". Tanya Ahzar tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Iya, sudah". Aku berusaha bangkit dari tempat tidur mengubah posisi tubuhku dengan mengumpulkan tenaga yang hampir habis ini. "Tidak perlu! Kau tidak perlu bergerak!". Titahnya datar "A-Apa kau sudah tahu?". Aku memberanikan diri untuk bertanya, dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia sudah mengetahui perihal test pack sialan itu. "Istirahatlah, kita akan bicara nanti!". Ujar Ahzar meninggalkan kamar. Aku bisa melihat wajah yang sangat kecewa di mata Ahzar, aku mengerti itu. Jika aku yang berada di posisi Ahzar saat ini, aku pun juga akan melakukan hal yang sama, mungkin akan lebih dari yang Ahzar lakukan padaku saat ini. Tapi dari mana Ahzar mengetahui tentang hasil itu? Apa Bi Ama yang memberitahunya? Bagaimana ekspresi Ahzar saat itu? Aaah.. Aku tidak bisa membayangkan itu semua. #POV Ahzar "Tuan muda, Bi Ama memberi tahuku katanya nona pingsan". Ujar Daff masuk ke ruanganku "Sudah ku duga, ia tidak sepenuhnya sehat. Ia bersolek hanya untuk menyembunyikan itu semua dariku". Ucap ku panik, "Kita pulang sekarang". "Tapi sebentar lagi ada meeting untuk proyek besar tuan muda". Ucap Daff mengingatkan "Sudahlah, lupakan! Kita harus pulang secepatnya". Tegas ku lagi. Aku sangat khawatir apa yang terjadi pada Nadine, ia berpura-pura baik-baik saja di depanku, meski di dalam hati kecilku berkata ada yang ia sembunyikan. Daff terlihat meneliti ponselnya, seperti membaca sesuatu. "Apa ada kabar terbaru dari rumah?". Tanyaku dengan hati yang tidak karuan. "Ada kabar gembira tuan muda, tapi Bi Ama meminta aku untuk merahasiakannya dari tuan muda". "Waah.. wah.. Daff sepertinya kau kurang lihai dalam menyembunyikan rahasia, cepat katakan". Pintaku pada Daff. Aku mengerti Daff, sejak kapan ia bisa menyimpan rahasia dariku begini. Apapun itu pasti semuanya ia akan mengatakan padanya padaku. "Selamat tuan muda ada kabar baik dari rumah, sebentar lagi kau akan menjadi ayah". Ujar Daff tersenyum lebar. "Maksudnya!". Aku tidak mengerti apa yang Daff ucapkan barusan, ia mengucapkan selamat? aku akan menjadi ayah? Ahh.. Daff bercandanya terlalu berlebihan. "Nona Hamil". "Apa?" "Iya tuan, selamat ya". Ucap Daff sumringah. Aku merasa bingung sekaligus tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Daff padaku barusan. Aku tidak yakin ini semua, apa mungkin ini semua terkaan Bi Ama saja karena melihat keadaan Nadine saat ini. Aku yakin kali ini pasti Bi Ama salah. "Berhenti bercandanya Daff, kita pulang sekarang". Ucapku mengajak Daff pulang. "Kita buktikan di rumah saja tuan muda". Ucap Daff membukakan pintu mobil untukku. Sepanjang jalan menuju pulang pikiranku tak karuan, khayalanku sudah kemana-mana memikirkan hal yang tidak-tidak. Wajah Nadine pagi ini dengan sentuhan Make-up tipis yang sangat cantik membekas dipikiranku. Aku membayangkan mengapa ia menyembunyikan keadaannya di balik wajah lembutnya seperti itu? Apa ia memiliki alasan tertentu? Apa yang dikatakan Daff itu adalah alasan yang ia maksud? Siang ini aku seperti orang gila yang hampir tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataannya. Daff membukakan pintu mobil, aku tersadar bahwa kami telah sampai di halaman rumah, dari depan pintu sudah di sambut Bi Ama dengan wajah yang sangat ceria. "Siang tuan muda, selamat ya". Ucapnya menunduk sopan "Apa yang terjadi Bi Ama?". Ucapku bingung "Ini tuan muda". Bi Ama mengulurkan sesuatu padaku Tadinya aku kira Bi Ama memberikan alat pengukur suhu tubuh padaku, aku mengira Bi Ama mungkin menunjukan suhu tubuh Nadine saat ini. Tetapi setelah aku perhatikan, betapa terkejutnya aku saat melihat ini lah alat yang membuktikan perkataan Daff tadi. "Positif?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD