Senada

2213 Words

Aku suka sebuah pelukan. Juga kehangatan yang biasa di berikan. Walaupun itu tidak ironis karena menginginkan mu seorang diri. Aku hanya berharap semua baik-baik saja. Kembali seperti semula. Sialnya, aku tetap mengingini. Meski dalam jarak yang tak bisa lagi kutandingi. ***    Karin sedang berjalan manyun ditengah Zidni dan juga Gia. Ia dipaksa untuk ikut menyebarkan undangan ulang tahun sahabatnya itu nanti malam. Padahal Karin sedang lapar berat, sejak tadi pagi ia belum sarapan karena bangun terlambat. Ditambah jam pelajaran pertama tadi menguras hampir sebagian otaknya, perut Karin tak berhenti berbunyi.      "Gue lapar banget suer." katanya memelas.      "Iya ih ini undangan terakhir, gue sama Gia takut mau ngasi ini bedua doang." Zidni balik memelas.      "Temanin s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD