Sogokan Pizza

2392 Words
Bukan seberapa besar masalah yang diperbuat. Namun tentang siapa yang menyesal atas hal buruk itu. Semua pernah salah, namun kesungguhan mengakui, jauh lebih diterima. Sampai akhirnya mereka mengerti, bahwa segalanya hanya tentang mereka yang berdiri sebagai bukan siapa-siapa. *** Raka tidak langsung menghubungi adik kelasnya itu, melainkan dia melangkah menuju gudang belakang, karena harus bertemu sohib-nya terlebih dahulu. Sepanjang koridor sepi, tentu saja karena ini masih waktu belajar. Raka melewati jalan pintas agar tidak bertemu Pak Joko, karena satpam-nya itu paling suka berkeliling. Akhirnya setelah sampai pada tempat tujuan-nya, Raka mendorong pintu gudang itu, menggelengkan kepalanya karena disana dia sudah mendapati teman-temannya sudah bertengger rapi. Kedatangan Raka membuat mereka menyambutnya antusias. "Kagak sekalian aja, lo datang jam dua belas?" singgung Aska pertama. "Kasian wali kelas lo, bingung mau ngisi absen kehadiran atas nama lo." Joe menyambung. Raka mengernyitkan dahi, "Sadar diri dulu, baru ngatain gue." katanya disana. Joe sama Aska hanya terkekeh mendengarnya. "Baru datang lo?" tanya Gery lagi. "Dari mana?" seru Ardan penasaran. "Makin sering ngilang nih bos!" singgung Aska kemudian. "Asli, udah kayak tuyul!" ikut Joe menyimpang. Raka tidak ambil pusing. Menghiraukan seruan dari sohibnya itu, untuk kemudian mengeluarkan rokok dari saku celananya. Raka mulai menghidupkan benda candu itu. Dihirupnya dalam, untuk kemudian mengeluarkan kepulan asap dari bibirnya. "Bagi Ka," kata Ardan. Raka langsung melempar rokok dan pemantik milik-nya. Kemudian menyambung, "Gila lo, kayak cewek. Banyak tanya!" kata-nya menyinggung seluruh teman-nya disana. Mereka hanya terkekeh mendengar itu, lagi pula Raka memang sering menghilang akhir-akhir ini. Tapi mereka tahu, kemana Raka sering menghabiskan waktu-nya. "Eh btw udah dengar cerita si Rangga gak?" ujar Gery mengalihkan suasana. "Rangga mana?" tanya Ardan penasaran. "Rangga AADC" kata Joe menanggapi. "Rangga Smash!" sambung Aska kemudian. Membuat kelimanya saling tatap dan tertawa terbahak-bahak. "g****k!" tandas Gery cekikikan, memegang perutnya menahan geli. Begitulah pertemanan mereka, tidak ada yang benar-benar menjawab disaat salah satunya tengah serius membicarakan suatu hal. Tapi begitulah cerita tentang mereka bisa diingat untuk kemudian hari. "Jadi Rangga siapa?" tanya Raka kemudian. "Rangga anak SMA 4." jawab Gery akhirnya. "Rangga SMA 4?" tanya Joe penasaran. "Ho'oh, kenal lo?" kata Gery lagi. Joe mengedikkan bahunya, "Sepupunya teman gue," katanya. "Kenapa emang?" kini Aska yang bertanya penasaran. "Jadi ceritanya siRangga dekatin anak Galaksi." Gery mulai menjelaskan. "Cewek apa cowok?" Joe bertanya memastikan. "Banci!!" teriak Gery keki."Ya ceweklah anj!!" gerutunya gusar. Joe terkekeh, "Iya njir sans!!" rtuknya disana. Gery mulai menjelaskan kembali, "Diam dulu. Mau gue kasi tau gak?" katanya kemudian. Membuat semua yang disana mengangguk serempak. "Rupanya tu cewek udah punya pacar tapi ngakunya jomblo." kata Gery pertama. "Sange tu cewek!" celetuk Aska tiba-tiba. "Woi b*****t banget tu mulut!" singgung Ardan disana. Aska hanya terkekeh. Gery sudah melanjutkan kembali, "Jadi, karena Rangga pikir tu cewek jomblo, ya dia sikatlah. Eh pas pulang sekolah, waktu lagi dikantin depan SMA 4 Rangga ditarik paksa, terus digebukin dihadapan teman-temannya." ujar Gery antusias. "b*****t teman kayak gitu." seru Raka disana. "Bener, g****k banget teman-nya di pukul malah diam aja, t***l!" Aska menyambung antusias. "Gak ada yang belain dia anjing. Karena anak-anak lain udah diancam, dan Dio pentolan-nya juga kagak mau ikut campur." jelas Gery dengan penuh penghayatan. "Terus? Kesan dan pesannya ape?" potong Joe ketika Gery terlihat ingin menjelaskan lagi. "Ya kalian jangan gitu dong kalau misalnya ngeliat gue digebukin." ujar Gery kemudian. Menampilkan mimik sedih diwajah-nya. "Dih muka lo, jijik." sambung Aska, geli sendiri mendapati wajah melas sahabatnya itu. "Lagian ngapain orang mau gebukin lo. Udah kasian dulu mereka." singgung Ardan kemudian. "Tul. Muka lo kan paling jelek." sambung Raka juga. Membuat Ardan, Aska dan juga Joe ngakak seketika. Sementara Gery menggerutu kesal disana. Kelimanya masih asik bercerita, tanpa menghiraukan pelajaran yang tengah berlangsung. Karena begitulah keseharian para anak bermasalah itu. Tak bisa terpungkiri lagi. *** Raka angkat dari duduknya, sedikit berjalan kebelakang karena dia harus menghubungi seseorang. "Ngapain lo?" tanya Gery bingung. "Mau nelfone. Kagak usah kepo!" gusar Raka. Gery tidak bertanya lagi, dia mengangguk dan membungkam mulutnya. Akhirnya, setelah rokok ke-empat yang dihisapnya digudang ini, Raka mengeluarkan ponselnya. Dalam tarikan dalam benda candu itu, Raka mulai menghubungi gadis yang telah diperlakukannya kasar kemarin. Gadis yang berhasil membuat dirinya kalang kabut. Dan juga bingung. Raka sadar. Yang membuat Raka gusar kepada dirinya sendiri, adalah karena panggilan itu tak kunjung dijawab. Jadi mengikuti Pilihan terakhir hanya dengan cara menghubungi Chelle. Dia yakin adik kelasnya itu, satu-satunya orang yang dapat ditanyainya mengenai Karin. Seharusnya Raka bertanya saja kepada Zidni atau Gia saat dia kekelas Karin tadi. Namun, kedua gadis itu tidak ditemuinya dikelas. Raka mulai menghubungi nomor adik kelasnya itu, ketika pada dua dering pertama sambungan langsung terhubung. Raka mulai berbicara, terlalu malas untuk bertele-tele. "Lo tau Karin ada dimana?" Chelle mengernyitkan dahinya disebrang sana, bingung sendiri mendengar pembicaraan dari nomor yang tidak dikenal ini, "Siapa ya?" tanya Chelle akhirnya. "Raka." "Raka siapa?RakaLarix?!!? "Iya." "Kak Raka. Maaf kak, kirain tadi siapa. Maaf banget ya kak gak kenalin suara kakak," Chelle beujar semangat. Saking antusiasnya, dia bingung sendiri ditelfone. "Tau Karin lagi ada dimana?" Raka kembali menanyakan itu. Ketika jawaban dari adik kelas-nya itu membuat Raka sedikit lega. "Ini lagi dijalan, mau kerumah aku katanya." "Serius?" "Iya, kenapa emang kak. Kok gak tanyain langsung ke-Karin nya?" "Gak diangkat. Lagi ngamuk dia sama gue. Yaudah, ntar gue boleh mampir kerumah lo gak?" kata Raka sedikit memohon. "Boleh kok, dengan senang hati kak." kata Chelle antusias. "Karin suka makan apa?" tanya Raka tanpa basa basi. "Pizza kak, jenis apapun." jelas gadis itu disana. "Oke." kata Raka sebelum memutuskan panggilan. Raka tidak kembali keposisinya, melainkan melangkah keluar dari gudang belakang itu. Tanpa meminta persetujuan, karena tidak ada yang berhak melarangnya. Jadi, menghiraukan seruan teman-teman nya, Raka berlalu begitu saja. ***      Raka menghentikan ninja-nya dihalaman rumah adik kelas-nya tersebut. Tentu saja dia ingat, karena dia pernah mengantar Karin kemari. Memarkir asal ninja-nya disana, Raka turun dari motornya, memantapkan diri melangkahkan kaki didepan rumah adik kelasnya tersebut, bahkan menghiraukan jam pelajaran sekolah yang masih berlangsung. Raka sudah meminta izin untuk datang kesini, jadi tidak masalah karena adik kelasnya itu juga mengizinkan. Raka harus bertemu Karin, dia butuh penjelasan walaupun yakin gadis itu masih marah terhadapnya. Raka hanya bingung ketika didapati perasaan yang entah sejak kapan tiba-tiba menyeretnya hingga menimbulkan rasa tidak enak, perasaan aneh yang tak kunjung berkesudah untuk sesuatu yang sudah kerap kali dia lakukan. Raka mulai dengan menekan bel didepan rumah yang tengah dia kunjungi. Untuk pertama kalinya, dalam hidupnya Raka dibuat menunggu seseorang.      ***      Karin sudah meneparkan diri, diranjang sahabat-nya itu. Tadi, setelah Richard mengantar-nya kemari ada banyak peraturan dari sepupu-nya tersebut. Karin senang berada disini, entahlah mungkin karena bersama Chelle ia tidak pernah merasa sendiri. Walaupun bisa dipastikan ia memang seorang diri. Mungkin Karin hanya senang bersama seseorang.      Hanya Karin dan Chelle yang berada dirumah itu. Karena kedua orang tua gadis tersebut tengah bekerja. Ketika bel rumah Chelle mengejutkan keduanya.      "Buka gih Le." tegur Karin ketika didapatinya Chelle masih saja terbaring  malas.      "Nggak ah mager. Lo aja gih." tolak Chelle berpura-pura. Sebenarnya dia tau bahwa itu adalah Raka. Tapi ini salah satu misi-nya. Jadi, Chelle harus berakting untuk itu.      "Le, ini kan rumah lo!" tolak Karin juga.      "Bentaran doang, ayo dong siapa tau temennya nyokap." mohon Chelle manja.      "Gue lagi sakit lele. Nih lo rasa kepala gue. Aduh pusing." ujar Karin masih bersikeras.      "Ih ayo ih, gue selalu nurutin permintaan lo." Chelle menyinggung antusias.      "Yaudah deh iya-iya. Pokoknya traktir gue pizza entar, awas aja!" ancam Karin kemudian. Chelle tidak lagi menjawab, gadis itu hanya terkekeh sambil tersenyum manja kearah Karin.      "Gila!" kata Karin sebelum berlalu dan hilang dari bilik pintu. Karin berjalan malas kelantai bawah, sebab kamar Chelle terletak dilantai dua. Sakit dikepala-nya sudah mulai berkurang, namun aneh-nya pikiran Karin kembali mengingat Raka yang telah meninggalkan-nya kemarin. Hal tersebut membuat hatinya kesal karena itu.      "Bentar," teriak Karin saat bel dirumah itu terus saja berbunyi. Karin langsung membuka kunci pintu rumah itu, menarik gagang pintu disana sambil berujar.      "Cari sia-?" kata Karin. Ucapan-nya terhenti, ketika didapati bahwa yang berdiri dihadapannya adalah seorang yang berusaha keras, tengah dihindarinya saat ini.      Karin meralat ucapannya. "Ngapain lo?" bentaknya seketika. Kekesalan-nya timbul kembali, apalagi saat melihat lelaki itu tengah berdiri dihadapan-nya.      "Mau dagang siomay." kata Raka bercanda. Dia hanya ingin mencairkan suasana.      "Sumpah ga lucu!" gusar Karin disana.       "Iya ga lucu. Lo yang lucu." Raka masih menggoda gadis dihadapan-nya itu. Karin mengernyitkan dahinya. "Apaan sih. Lo nyari Chelle? Tunggu disini gue panggil orangnya!" jelas Karin seraya berbalik badan dan segera beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti, karena Raka menarik lengan miliknya.      "Gue nyari lo."      "Ngapain nyari gue!" gusar Karin, seraya menghempas kasar tangan Raka. "Gue gak ada urusan sama lo!" lanjutnya masih marah.     "Gue nungguin kabar lo dari kemarin." ujar Raka disana. Karin terkekeh mendengar itu. Namun Raka melanjutkan semua keresahan-nya sejak kemarin.      "Taxi yang gue pesan bilang lo gak ada disana. Lo pulang sama siapa?" lanjut Raka lagi. Raka berusaha untung tetap tenang, walaupun tak memungkiri ada debaran tak biasa jika kerap kali berhadapan dengan gadis dihadapan-nya ini.      "Kenapa nanya-nanya. Pikirin aja urusan lo yang bahkan jauh lebih penting daripada ninggalin gue ditempat gitu. Kalau gue dibunuh juga bukan urusan lo." singgung Karin dengan emosi yang tengah meluap-luap. Raka terdiam memandang amarah gadis dihadapannya. Berdiri dengan tenang seraya menatap tajam tepat dimanik mata gadis itu. Mendengarkan seluruh amarah yang ditujukan untuk-nya, aneh kalau ternyata Raka menikmati itu.      "Jadi, mending sekarang lo pulang!" akhirnya Karin menegaskan. Raka berlutut untuk sesaat, mengambil sesuatu yang telah diletakkan-nya dilantai. Kemudian dia sodorkan makanan favorit gadis itu, gadis yang kini tengah menatapnya murka.      "Makan dulu baru ngomel lagi. Gue tau lo lagi sakit." ujar Raka menyudahi. Sambil menyerahkan sekotak besar pizza ditangan-nya itu.      "Nggak, gue gak suka!" tolak Karin, egonya masih meninggi saat ini. Bagaimana bisa ia tidak tergiur disaat makanan paling disukainya berada tepat dihadapannya. Tapi Karin tetap pada pendirian-nya.       "Gapapa kalau gak suka. Lo harus makan intinya." kata Raka tegas.       "Kenapa sih lo??!!" jawab Karin malas.      "Yakin?" tegas Raka lagi, membuka kotak pizza yang tengah dipegangnya itu. Karin meneguk liur sendiri. Tapi dia harus bertahan dengan egonya. Walaupun suara hatinya berbeda. Entahlah. Bagaimana Karin mendeskripsikan kebahagiaannya disaat siang ini lelaki yang menjadi pusat perhatiannya, berdiri tepat didepannya. Walaupun Karin menyadari apa arti hadir diri-nya yang sebenarnya.     "Plis. Gue capek. Kepala gue sakit. Ditambah kedatangan lo, bikin pala gue makin mau pecah!" jelas Karin masih dengan pendiriannya.      "Gue bakal pergi. Tapi lo harus terima ini. Dan artinya lo udah maafin gue." Raka menjawab manis.      "Nggak. Gue gue gak akan maafin lo. Dulu gue ingat, lo bilang jangan pernah ngatain orang b******k kalau lo gak kenal sama orangnya. Sampai hari ini, semenjak lo ninggalin gue kayak pengecut kemarin  gue tetap pada pendirian gue kalau lo emang b******k!" ucap Karin kasar. Mungkin Raka sedikit tersentak mendengar itu.      "Dan, bukan gitu cara-nya minta maaf!" Sambung Karin, seraya berlalu naik kelantai dua. Meninggalkan Raka yang menatap-nya tajam.      Karin membiarkan Raka dibawah, akan dipinta-nya Chelle yang mengurus. Raka terdiam mendengar perkataan Karin. Sebegitu besar kesalahannya hanya karena meninggalkan gadis itu. Dari situ Raka menyadari satu hal, bahwa Karin belum sepenuhnya dia taklukkan.      "Pasti lo sengaja kan nyuruh gue bukain pintu!" hardik Karin ketika didapatinya Chelle masih nyengir kearahnya. "Lagian mana berani gue ngebantah permintaan seorang Rakalarix!" balas Chelle tidak terima. "Mau mati gue disekolah?" sambung Chelle lagi.      "Yaudah sana lo turun, gue lagi marah tau."      "Dih kayak cewek aja lo pakai ngambek segala." singgung Chelle seraya berlalu dari sana.      "Emang gue cewek!" teriak Karin sebelum Chelle sempat menutup pintu kamarnya.      Chelle setengah berlari untuk menemui senior-nya itu. Berlonjak karena mendapati Raka masih berdiri didepan rumah-nya.      "Kak, silahkan masuk dulu." ujar Chelle sopan.     "Gapapa disini aja," katanya kemudian.       "Kenapa Kak? Gak berhasil ya?" singgung Chelle. Entahlah kenapa dia berani bicara seperti itu kepada pemimpin nomor satu disekolah-nya tersebut.       "Gue titip ini ya." kata Raka. Chelle hanya mengangguk, tidak lagi banyak bicara karena Raka terlihat tampak gusar. Chelle tetap menunggu, hingga seniornya itu menaiki ninjanya dan berlalu menderu motornya laju.     Disana, dari bilik jendela atas lantai dua, tempat kamar Chelle berada Karin menatap kepergian Raka, dengan perasaan aneh yang menyergapnya.      "Nih pizza buat lo." ujar Chelle seraya meletakkan pizza itu dihadapan Karin. Karin tersenyum, sebelum langsung menyambar pizza tersebut dan melahap satu potongan dalam satu menit saja. Ketika diselip kotak berbentuk persegi itu ada secarik kertas kecil disana. Terpampang nyata siapa pengirimnya, karena tertera jelas tulisan asal milik sang pentolan itu. Maafin gue. Hanya tulisan itu, ketika tiba-tiba Karin menyesal karena telah membentaknnya. Namun tak memungkiri, carikan kertas itu langsung dimasukkan-nya didalam sakunya.  Dan Karin tersenyum disana. Membuat Chelle mengejeknya tanpa henti.      "Tadi depan Raka sok-sokan gak mau. Dih najong,"      "Kan gue masih marah." Kata Karin membela diri.      "Sebenarnya lo sakit nggak sih?"      "Sakit tau. Sakit hati lebih tepatnya!" Membuat keduanya tertawa seraya melahap pizzanya bersama.       "Emang lo paling jago jual mahal," Chelle masih mengejek.      "Lumayan dapat makanan gratis, lagian pizza mahal, sayang kalau dibuang," celoteh Karin asal. Membuat Chelle geram dan menjitak kepala sahabat-nya itu. ***        Rumah bernuansa gelap yang setiap kali selalu ramai itulah tempat Raka menghentikan ninjanya. Raka segera memasuki basecamp tersebut. Mendapati seluruh teman-temannya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.      Aska tampak sedang bermain bilyard dengan Gery. Joe terlihat duduk dengan Ps ditangan-nya, sementara Ardan tengan memainkan ponsel diatas sofa-nya. Mereka memang lebih banyak  menghabiskan waktu dibasecamp itu daripada dirumah sendiri, lagi pula rumah itu sudah tersedia banyak makanan dan juga minuman.      Raka menghampiri Ardan, kemudian duduk dengan sebatang rokok diruas-ruas jarinya. Ketika kedatangannya langsung disemprot Ardan dengan pertanyaan.      "Gimana Ka?" Tanya Ardan langsung.      "Santai, masih tahap awal." Raka berujar tanpa peduli.     "Gue bakal dukung terus. Lagian lo tau sendiri gimana cewek kalau udah jadi bekas tu cowok." Ardan berkata tajam. Raka tidak menjawab lagi, karena ini merupakan rencana yang telah dibuat-nya bersama Ardan. Tapi entah   kenapa perasaan-nya malah mengganjal. Raka bahkan tidak sadar kalau diri-nya sudah terjerumus oleh permainan-nya sendiri. Dan begitulah akhir pemikiran singkat Raka tanpa memperhitungkan seberapa fatal penyelesain-nya nanti.    ***      Sudah pukul sembilan malam ketika Karin masih diperjalanan bersama Richard. Dia baru pulang dari rumah sahabatnya itu karena Richard memaksanya. Tadi-nya Karin ingin menginap, tapi Richard melarang-nya dengan alasan Karin tengah sakit. Jadi menuruti permintaan sepupunya itu, Karin juga pasrah dibuat-nya.     "Tante Sisca udah pulang dari kantor?" tanya Karin kemudian.     "Udah. Lo mau makan nggak?"      "Mauuuuu,"     "Emang kagak pernah nolak lo ya kalau soal makan."     "Makan itu kebutuhan hidup." ujar Karin membela diri.      "Tapi badan lo gak gemuk-gemuk. Malah kayak cacing gini." singgung Richard. "Atau jangan-jangan lo cacingan!" lanjutnya.     "Enak aja, lo tu yang cacingan, badan udah kayak batang bambu gitu!" olok Karin tidak terima. Membuat keduanya tertawa dan menghentikan sedan Richard direstoran Vermint, pusatnya Kepiting terenak di Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD