Ada sebuah perasaan bingung yang sulit diutarakan.
Ada banyak kekhawatiran yang menggantung dan sulit untuk disampaikan.
Mungkin memang, untuk memulai kita harus menerima sakit terlebih dahulu.
***
Bagi sebagian orang, berada disekolah bisa menjadi bagian terbaik untuk menghilangkan rasa suntuk dirumah. Ada yang beranggapan bahwa sekolah juga, dapat membuat mereka menghilangkan stress yang kerap kali terjadi.
Sementara bagi Karin, berada disekolah merupakan bagian terbaik karena ia tidak merass sendiri. Karin dapat bertemu banyak orang, saling bercengkrama dan juga bergurau bersama teman-temannya. Sekolah merupakan tempat terbaik untuk Karin menghilangkan sejenak semua pikiran buruk yang kerap kali terpikirkan olehnya.
Jadi mungkin ada yang beranggapan sama seperti Karin. Baginya sekolah memang tujuan terbaik untuk membuatnya merasa tenang.
"Teet! Teet! Teet! Teet!"
Bel melengking sebanyak empat kali. Seluruh siswa dibuat terheran-heran. Pasalnya, jika begitu artinya seluruh siswa dipersilahkan untuk pulang. Padahal masih pukul dua belas tepat, ketika peringatan dari Pak Dodi selaku wakil kesiswaan melengking nyaring disana, memberitahukan bahwa seluruh anak Alaska diperbolehkan pulang kerumah masing-masing, dikarenakan guru rapat.
"Serius? Pulang nihh?" Gia bertanya paling semangat.
"Yatuhan pulanggggg!!!" Zidni berteriak antusias.
Karin hanya geleng-geleng kepala.
Dan pengumuman itu membuat sebagian siswa langsung memekik nyaring karena terlalu senang. Ada juga yang langsung berhamburan keluar, karena pengumuman itu diumumkan mendadak.
"Awwhhh!!" Cindy menabrak pintu karena gadis itu terlalu bersemangat berlari. Membuat teman-teman sekelas-nya tertawa disana.
Begitulah memang kehidupan anak sekolah, ketika mendengar pengumuman pulang dipercepat.
Karin yang melihat Aska masih bertengger dikelas, membuatnya segera mendatangi sohib Raka tersebut.
"Semalam Andre ngechat gue. Dia minta maaf terus-terusan." ujar Karin mengingat lelaki yang telah menghinanya, semalam malah berbalik memohon ampunan.
"Yaiyalah. Pertama, dia salah besar karena berani ganggu orang yang salah. Kedua, kan gue udah bilang malam sebelumnya, waktu lo mau nyamperin tu bocah, Raka udah datang ketempat biasa anak itu ngumpul. Ya lebih tepatnya, datengin bos anak itu." balas Aska menjelaskan.
Tentu saja Karin terkejut mendengarnya. "Raka datangin tempat anak itu ngumpul? Apa dia baik-baik aja?"
"Bos tu bocah, kenal sama Raka. Dan bukan posisi Raka yang harus lo takutin!" Aska menjelaskan.
"Raka benar-benar datengin tempat nyantai Andre?" tanya Karin lagi.
Aska mengangguk. "Raka bukan tipe anak yang diam aja kalau hatinya terusik." jelas Aska disana.
"Maksudnya?" tanya Karin bingung.
Aska menghela nafas berat. "Udah deh, capek gue ngomong sama lo." katanya gusar.
Karin hanya mendengus. "Andre emang gila kali ya? Ngeri gue. Kok Adel mau-mau aja jadi pacarnya."
"Gak perlu khawatir, dia gak akan berani gangguin lo dan teman-teman lo lagi."
"Iya, tau ah gue duluan ya." ujar Karin seraya berlalu pergi.
Melangkah seorang diri sebab Zidni dan Gia sudah lebih dulu meluncur pergi. Dalam semua langkahan yang diambilnya, perkataan Aska terus membuatnya berpikir. Mungkinkan Raka sudah menyelesaikan masalah itu untuknya?
Ketika melewati lantai dua Karin mendapati Raka tengah berdiri didepan kelasnya, dia tampak sedang merokok, karena benda mematikan itu jelas-jelas terpampang dijarinya.
Sesaat Karin mematung, ia menghentikan langkahnya, seakan ada yang menahan-nya untuk tetap berada disana. Akhirnya Karin berhenti, menatap sosok menenangkan diujung sana. Sedikit heran karena dia hanya seorang diri.
Sang pentolan dengan ingar bingar bebasnya, lelaki kejam yang ternyata ada kebaikan dalam dirinya. Lelaki kasar dengan tutur katanya, tetapi hanya dengan cara itu dia melindungi dirinya sendiri.
Seorang berandalan tengik yang hobi berkelahi, karena hanya dengan cara itu dia bisa menutupi siapa dirinya sebenarnya. Lelaki kuat yang sepertinya rapuh. Dan lelaki yang terlihat memiliki segalanya, namun masih saja ada yang kurang. Karin tahu, Raka hanya tengah menutupi siapa dirinya sebenarnya.
Kemudian Karin sadarkan dirinya, untuk segera berjalan meninggalkan tempatnya, karena ia sudah terlalu jauh memikirkan lelaki itu.
Baru saja hendak melangkah, ketika sebuah suara mengejutkan Karin. Ia berhenti disana.
"Ngeliatin gue?" seru suara itu, nyaring.
Karin langsung membalikkan badannya lagi, tiba-tiba saja perasaan kikuk melandanya.
"E-nggak kok. Gue kan sekalian lewat. Udah tau kelas lo dibawah kelas gue." jawab Karin mengelak.
"Dan lo berdiri disana selama tiga menit?" singgung Raka. Bahkan walaupun dia tengah fokus mengisap barang candu itu, kedatangan Karin sejak tadi tertangkap oleh matanya.
"Aneh deh lo, baru aja dua detik yang lalu gue disini," kata Karin masih mengelak. "Yaudah deh gue mau pulang," sambungnya malas.
Jika ia terus berada disana, Karin yakin Raka akan menghakiminya terus-terusan. Walaupun Karin berbohong, ia takut nanti Raka akan mengetahuinya.
"Pulang sama gue." seru Raka akhirnya.
Karin tercekat sesaat, kemudian berdiri ditempatnya. Menunggu Raka mendekatinya, Karin bahkan tak melangkah kemanapun.
Terlihat jelas bahwa tidak ada penolakan disana. Mungkin benar, Karin nyaman bersama lelaki itu.
***
Mereka sudah meninggalkan Alaska. Hari ini Raka tidak punya tujuan ingin kemana, mungkin nanti-nya dia akan kebasecamp menghampiri para sohibnya itu.
Jadi mencari jalan tercepat untuk mengantar Karin, adalah pilihan pertama karena Raka sudah lelah hari ini.
Raka membawa Karin melewati jalan setapak, ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
“Tolong, ambil hape gue!” katanya.
Karin menuruti permintaan itu, kemudian ia sogoh saku Raka, dengan tangan kirinya ia genggam erat dipinggang lelaki itu.
Karin sedikit memeluk tubuh jangkung itu, pasalnya saku celana Raka cukup dalam. Dan posisi seperti ini membuat Karin harus ekstra sabar meraihnya.
"Nih." serah Karin ketika ponsel milik Raka berhasil ia dapatkan.
Raka menderu dengan satu tangan, membiarkan tangan kirinya dia biarkan bebas mengangkat panggilan tersebut.
"Bentar. Gue kesana sekarang!" ujar Raka, kemudian memutuskan panggilannya.
Raka menghentikan motornya kepinggiran. Masih dijalanan setapak yang tadi tengah dilaluinya.
Sebenarnya dia melewati jalan ini karena ini jalan tercepat untuk mengantar Karin. Walaupun sejak awal ini bukan tujuannya, tapi ketika mendapati gadis itu tadi disekolah, tiba-tiba ada satu keingintahuan yang menyergap dadanya.
Kemudian Raka mengetik sesuatu dari ponselnya, kemudian berujar.
"Lo naik taxi. Udah gue pesan."
Perkataan itu membuat Karin turun dari ninja merah itu seraya membuka helmnya kasar.
"Eh gak mau. Lo yang ngajak pulang bareng tadi. Ya tanggung jawablah!" tolak Karin tidak terima.
Enak sekali lelaki itu memintanya berdiri sendiri, bahkan didaerah yang tidak diketahuinya sama sekali.
"Gue ada urusan." desis Raka.
"Nggak. Gue takut sendirian disini. Kalau gue diculik gimana?" erang Karin , ia masih memegeng seragam Raka kuat. Seakan sang pentolan itu adalah pijakan terakhirnya.
Karin pikir Raka akan mengerti. Ia pikir Raka paham bahwa Karin tidak tahu tempat yang tengah mereka lalui ini. Dan Karin pikir, Raka hanya beranda meninggalkan-nya disini.
Ketika yang dilalukan lelaki itu adalah menepis tangan-nya Kasar.
Karin berlonjak atas perlakuan Raka barusan. Apalagi saat perkataan lelaki itu dia ucapkan.
"Urusan gue jauh lebih penting dari lo!" seru Raka kasar.
Membuat Karin terdiam menatapnya gusar. Ia marah. Marah-semarahnya.
Kemudian tanpa berpikir lagi Raka melajukan ninjanya. Meninggalkan Karin dengan ketakutan yang tengah menyelimutinya. Tanpa rasa bersalah, sebab dia sudah mengirimkan taxi untuk gadis itu, jadi hal tersebut tidak terlalu mengusiknya.
Sebab baginya Karin hanya tinggal menunggu taxi yang sudah dipesannya, untuk kemudian sampai kerumah dengan selamat.
Karin terdiam menahan emosinya. Ia ingin menangis sekarang juga. Berusaha sekuat tenaga ditahannya. Kemudian tanpa mempedulikan taxi yang sudah dipesan Raka. Karin segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi Richard saat itu juga.
Setengah jam Karin menunggu, ketika kedatangan sepupunya itu membuatnya langsung memeluk Richard.
"Chardo." erang Karin manja.
Dengan Richard yang menatapnya bingung.
Karin hanya menangis setelah itu. Ia memang gadis yang cengeng.
"Kok lo bisa disini?"
Karin terdiam sesaat, berusaha memikirkan cara bagaimana menjelaskan kepada sepupunya itu. Kalau ia sampai bilang bahwa Raka yang meninggalkannya, Karin yakin akan ada perang lagi nantinya.
Sambil menghapus sisa air matanya, Karin berujar. "Tadi gue nebeng teman sekelas gue, tiba-tiba keluarganya ada yang masuk rs. Jadi gue minta tinggalin disini." jelas Karin berbohong.
"Siapa nama teman lo? b**o benar ninggalin anak orang sembarangan. Kalau ada apa-apa gimana?" gusar Richard.
"Kok jadi marah sama gue sih?" seru Karin dengan wajahnya ditekuk habis-habisan. Sudah cukup ia ditinggalkan seorang diri, jangan lagi sampai dimarahi seperti ini.
Richard tidak menghiraukan pertanyaan sepupunya itu. Kemudian dimintanya Karin untuk segera naik keninjanya. Kemudian berlalu meninggalkan jalan setapak tersebut.
Sesampainya dirumah Karin langsung merebahkan diri dikamarnya. Kekesalahannya masih terasa jelas. Kejengkelannya masih terpampang nyata.
'Raka b******k!' rutuknya dalam hati.
Ketika ditengah kekesalannya ponsel Karin berbunyi. Nama Rakalarix terpampang jelas dilayarnya.
Karin berusaha untuk tidak mengangkat panggilan itu, sekuat tenaga Karin berjuang untuk mengabaikan-nya, bahkan disaat bisikan hatinya menyuruh sebaliknya.
Namun berusaha ditahannya. Entahlah Karin terlanjur bodoh atau sulit memahami apa arti hadirnya yang sesungguhnya, ketika panggilan itu bahkan menguras seluruh akal sehatnya. Hanya saja bagi Karin saat ini, ia tengah memeluk luka seorang diri.
Panggilan kesepuluh. Tak diangkat. Tak terjawab. Seperti suara hatinya yang bahkan tidak menemukan arahnya.
Akhirnya setelah berusaha menahannya Karin kemudian mematikan ponselnya. Ia harus berjuang untuk tidak peduli. Disaat kepeduliannya bahkan tengah tertuju untuk seseorang yang tidak bisa Karin jelaskan keberadaan-nya.
Raka pikir dia akan baik-baik saja karena sudah meninggalkan Karin, lagi pula dia sudah memesan taxi untuk menjemput gadis itu.
Ketika sepanjang perjalanan pikiran-nya malah kacau. Sebelumnya Raka tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah ambil pusing atas apa yang dia lakukan.
Namun siapa sangka, hanya karena meninggalkan gadis itu, Raka malah harus berkutat dengan semua pikiran yang beroperasi dikepalanya. Dan yang lebih mengherankan, karena kenap hati-nya malah merasa bersalah atas apa yang dia lakukan.
Raka memikirkan ini sepanjang perjalanan-nya, bahwa dia sudah benar-benar terjebak oleh permainan-nya sendiri.
Raka bahkan telah menjadi kacau atas setiap detik yang dilalui-nya bersama Karin.
***
Karin masih terbaring diranjang ketika rabu pagi badannya terasa panas. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak sekolah. Meminta Tante Sisca elaku walinya untuk mengirimkan surat kepada wali kelasnya.
"Tante sudah buat surat untuk Karin, nanti Pak Prapto yang antar kesekolah kamu ya?" kata Tante Sisca seraya enyentuh dahi Karin.
"Panas banget ini suhu tubuh kamu. Jangan lupa minta mbok Inem buat ompres ya?" Sambung Tantenya itu lagi.
Karin tersenyum, terlampau bahagia karena didunia ini masih ada orang ang begitu tulus menyayangi-nya.
Iya tante, semoga aja siang sedikit eakan." jelas Karin meyakinkan tantenya itu.
Tidak tega melihat Tante Sisca terlihan panik, karena beliau harus lekas pergi kerja. "Karin gapapa, tante berangkat erja aja, nanti ditungguin Om." jelas Karin lagi.
Tante Sisca hanya mengangguk, mengecup pelan pangkal kepala Karin dan kemudian berlalu.
Jadi berkutat dengan sepi adalah hal yang pertama harus Karin hadapi saat ini. Lagi pula, ia hanya harus melewati hari ini seperi biasanya, karena setiap alam Karin memang seringkali terpenjara oleh sepi.
Disisi lain, pada gerbang belakang Alaska, Raka telah mantap memarkirkan ninjanya kesembarang arah. Jika semua orang sudah berkutat dengan tugas dan soal yang diberikan dikelas, sang pembuat onar itu bahkan baru tiba ketika jam dipergelangan tangan-nya sudah menunjukkan angka sembilan lewat dua puluh.
Raka meraih pegangan gerbang dengan satu kali tangkap, melirik kesana-kemari kalau Pak Joko tiba-tiba ada disana.
Walaupun satpam itu tidak termasuk kategori menakutkan baginya. Raka harus tetap hati-hati, karena Pak Joko sering mengadu ulah-nya kepada wakil kesiswaan disekolah itu.
Kemudian setelah melempar tasnya terlebih dahulu, Raka menyusul dengan satu kali lompatan seperti biasa, dan dia mendarat sempurna ditanah.
Saat tiba-tiba pikirannya teralihkan kembali. Kemarin ketika dia meninggalkan Karin untuk urusan yang bahkan jauh lebih penting, nyatanya malah membuat kacau pikiran-nya berkelanjut.
Apalagi saat Raka bertanya kepada Taxi yang dipesan-nya, apakah Karin ada menaiki mobil tersebut, sang supir malah tidak menemukan gadis itu ditempat yang telah diberitahunya. Akhirnya Raka memutuskan untuk menghubungi gadis itu, ketika yang didapatinya hanya sebuah kesia-siaan.
Pikiran kacau itu berakibat kepada hatinya yang semakin kalang kabut, padahal sebelumnya dia tahu ketakutan diwajah gadis itu.
Maka disinilah Raka menghentikan langkahnya. Dilantai tiga tepat didepan kelas Karin, ketika didapatinya gadis itu tidak juga ada disana.
"Kenapa bro?" tegur Reynal yang merupakan teman sekelas Karin.
"Karin kemana?" tanya Raka akhirnya.
"Gatau ya, surat-nya belum ada sih. Atau mungkin masih sama Pak Nasir." jelas Reynal disana, "Gue masuk dulu bro," sambungnya seraya berlalu meninggalkan Raka.
Reynal dibuat terkejut karena mendapati Raka berada didepan kelas-nya. Dua baru saja pergi ketoilet, Pak Nasir belum juga kembali dari kantor, jadi dia sedikit bingung melihat Raka berdiri disana. Namun tidak mengherankan lagi, karena lelaki itu dekat dengan teman sekelas-nya.
Saat itu juga Raka menyadari, bahwa kesalahan pertama adalah meninggalkan seseorang yang tak sepenuhnya benar-benar ingin dia tinggal. Raka menyimpulkan perasaan konyol, mengatakan kepada dirinya sendiri, sebut saja dia tengah khawatir saat ini.
***
Karin dibuat kaget ketika pintu kamarnya terbuka dan mendapati Richard disana.
Yang membuat Karin heran adalah karena seharusnya lelaki itu sedang sekolah saat ini. Tapi kenapa Richard tak kunjung berangkat sekolah, padahal tubuhnya sudah terbalut seragam lengkap.
"Makan dulu nih." ujarnya seraya menyerahkan sebuah kantong berisi bubur ayam.
"Gak mau. Gak nafsu tau mau mamam. Chardo anterin gue kerumah Chelle yuk, bete tau sendirian disini."
gerutu Karin bertubi-tubi.
"Kalau mau pergi, makan dulu!" tegasnya mengintimidasi.
Akhirnya Karin pasrah untuk segera menyuapi satu persatu bubur yang telah dibeli sepupunya tersebut. Suapan demi suapan yang dipaksanya masuk, karena agar begitu ia bisa berlabuh kerumah sahabatnya.
Terlalu sepi berada dirumah seorang diri ketika sang Tante dan Om tengah tidak ada dirumah.
"Kok lo belum pergi sekolah? Udah jam sembilan?" seru Karin dengan bubur yang tengah dilahapnya. "Lo belum berangkat atau emang cabut dari sekolah?" tanya Karin lagi ingin tahu.
Richard meletakkan segelas air putih dinakas gadis itu. Menggelengkan kepala karena sepupunya itu bahkan tidak terlihat sakit.
"Gak bakal ada yang nyariin gue, mau jam berapa pun datang!" kata Richard sombong.
"Gue aduin ke Tante nih, lo gak pergi-pergi--" ancam Karin.
"Aduin aja, gak gue antar lo" balas Richard brutal. "Emang Chelle udah pulang?" lanjutnya.
"Udah, dia pura-pura sakit."
"Jangan bilang lo bohongan supaya gak sekolah." tuduh Richard langsung.
"Enak aja, gue beneran pusing tau!"
"Yaudah habisin dulu, ntar gue antar. Gue tunggu diruang tengah." ucap Richard seraya berlalu.
Karin hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian yang tadinya menolak makan, kini sudah hampir melahap habis seluruh buburnya. Dengan obat pereda nyeri dan penurun panas yang sudah tersedia dinakas sebelah tempat tidurnya.
***
Setelah berkutat dengan pikiran yang tak berujung, Raka tau siapa yang harus ditemuinya. Perihal untuk sekedar mencari tau apakah gadis yang telah ditinggalnya baik-baik saja.
Gedung selatan tempat kelas sebelas adalah titik terakhir pencariannya. Kedatangan sang most wanted itu hampir menggemparkan sebagian kelas sebelas.
Mereka pikir masih ada masalah yang belum tuntas senior mereka itu selesaikan, karena untuk apa Raka datang jika tidak menemui seseorang.
Dan didepan kelas yang Raka yakini pasti adalah satu-satunya orang terdekat Karin, dia menghentikan langkahnya.
Jika semua perempuan disana menatap-nya takjub, sebagian lelaki malah menundukkan kepala. Tidak ingin berurusan sama sang pentolan itu karena mereka hanya ingin menyelesaikan masa SmA dengan tenang.
"Chelle dimana?" tanya Raka kemudian, tanpa basa basi dia berujar dikelas gadis itu.
Belum ada yang menjawab. Sebagian masih terpatung, menatap kagum seorang pentolan Alaska itu, yang tiba-tiba saja berada dikelas mereka. Dengan tatapan bersinar seakan sosok yang berdiri didepan pintu itu adalah permata termahal didunia. Mereka bahkan tidak mengedipkan mata.
Akhirnya seseorang berambut pendek sebahu mengeluarkan suara. "Chelle udah pulang kak."
Jawaban takut-takut itu menbuat Raka menghempas kasar nafasnya.
"Gue boleh minta nomornya gak?"
Sontak semua mengeluarkan ponselnya.
Ada ketegasan dalam permintaan Raka, membuat semuanya mulai mengeja satu persatu angka dari nomor teman sekelas mereka itu.
Raka kebingungan sesaat, namun tak memungkiri tawanya tersirat disana. Dia terkekeh sebelum berujar kembali, "Satu orang aja, gue pusing yang mana mau didengar."
"Lo!" lanjutnya kepada gadis berkacamata tebal yang duduk dibagian depan.
Dengan sigap gadis itu mulai mengeja nomor Chelle satu persatu.
"Terimakasih." kata Raka, sebelum berlalu melanjutkan langkahnya.
Hanya begitu, agar Raka bisa mengingat jelas dia masih bisa mengucapkan terimakasih.
Sebelum dia benar-benar pergi, Raka sempat mendengar bermacam pujian untuknya. Bukan kege-eran tapi itulah faktanya.
Semua orang mampu menilai sendiri, seperti apa popularitas orang nomor satu di sekolah itu.
Dan untuk yang pertama kalinya Raka menyesali perbuatannya. Yaitu, meninggalkan seseorang.