Perutku Mengencang!

1009 Words
Masa-masa ini adalah yang paling sulit saat ini aku lewati. Pergerakanku mulai terbatas. Perutku yang semakin besar dan berat membuat aku seringkali sakit pinggang. Berjalanku tak lagi seleluasa dulu. Seringkali untuk berdiri aku harus menahan pinggangku. Nikmatnya rasa sakit ini. Usia kandunganku sudah tujuh bulan. Dua bulan lagi aku akan bertemu dengan buah hatiku ini. Mengenai hari kelahiran nanti, aku sendiri tak tahu aku akan melahirkan dimana. Mungkin aku tidak akan dibawa ke bidan tapi bidanlah yang akan datang ke sini. Atau mungkin tidak ada yang peduli akan hal itu. Kalau sudah begitu mungkinkah aku hanya akan melahirkan dibantu bik Tati? Entahlah, kalau mereka mau berbelas kasihan, semoga saja akan ada bidan yang datang. Sebab aku ini amatir, melahirkan adalah pengalaman pertamaku. "Non Mika, makan dulu." Bik Tati datang dengan makanan, sepiring nasi dan sepotong tahu juga satu buah telur, ia juga menghidangkan sayur bening. Aku segera menerimanya. Aku memang lapar. Perlahan, makanan itu mulai masuk ke dalam perutku sedikit demi sedikit. "Bik, Bibi pernah membantu orang melahirkan, tidak?" Aku bertanya pada bik Tati yang segera mengerutkan kening. Tentu saja ia merasa heran, pertanyaan ini harusnya kutujukan pada bidan-bidan yang baru lulus magang, bukan padanya yang hanya seorang pembantu. "Kenapa, Non Mika? Non Mika nanti akan melahirkan dibantu bidan. Bunda Non Mika sudah mempersiapkannya untuk Non." Seakan tahu kemana arah pertanyaanku barusan, aku menunduk sambil terus meneruskan makanku yang belum selesai. Bibi duduk di sampingku. Ia menatap iba padaku. "Non Mika, jangan banyak pikiran ya, Non. Non Mika gak boleh sedih terus," kata bibi lembut. Aku menoleh, lalu mengangguk. Bagaimana aku tidak sedih, bi. Aku merasa sangat khawatir dengan hari kelahiran anakku nanti. Aku tidak pernah dibawa check up aku tidak tahu perkembangan anakku di dalam sana bagaimana. Batinku pilu. Aku tidak tahu kapan perkiraan ia lahir agar aku bisa mempersiapkan diri menjelang hari kelahiran dengan lebih matang. Aku hanya bisa menebak-nebak, mengira-ngira. Sementara masih sering aku mendengar nenek ingin membunuh anak yang sedang aku kandung ini. Aku heran, di usianya yang sudah setua itu, ia masih sangat kuat untuk membunuh. Dia bukan lagi seorang nenek, tapi dia seorang perempuan berhati iblis yang tega mau membunuh anak cucunya sendiri hanya karena kehormatan dan nama baik. Aku sudah selesai makan, bik Tati mulai membereskan piring makananku tadi. Aku membiarkannya keluar. Malam harinya, aku merasakan perutku mengencang hebat. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada perutku. Tapi aku panik. Sang amatiran yang baru hamil ini menjadi sangat panik sekali. Dan entah karena memang naluri seorang ibu, malam itu saat perutku sedang mengencang hebat, aku mendengar suara ketukan dari balik pintu. Bunda datang. "Mika, kau tidak apa-apa?" Ia bertanya dengan cepat. Memakai kimono tidurnya, rupanya bunda mengendap-endap datang ke tempat itu. Inikah naluri seorang ibu? "Perutku mengencang, Bunda. Sakit." Terbata-bata aku menunjuk perutku sendiri. "Bunda bantu mengusapnya ya, Nak. Hal seperti ini memang biasa jika sedang hamil. Bunda juga dulu sering begini, tapi nanti akan hilang. Jangan khawatir ya." Mendengar kata-kata bunda, aku jadi sedikit lebih tenang. Setidaknya saat ini ketika Bunda mengusapnya dengan begitu lembut, aku merasa ketenangan dan rasa sakit perlahan menghilang. "Mika, maafkan Bunda tidak bisa berbuat banyak." Bunda tampak menyeka airmatanya. Suaranya terdengar putus-putus dan terbata-bata. Aku hanya mengangguk, tidak bisa berkata lebih banyak pula untuk membalas. Aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk menangis terus-terusan. Toh, meski penjara ini dibanjiri airmataku, tidak akan merubah apapun. Tidak akan mendatangkan belas kasihan nenek, ayah dan kakak-kakakku yang lain. Sudahlah, aku sudah begitu pasrah akan semua ini. Pasrah pada apapun anggapan mereka tentangku yang masih berusaha mempertahankan anak yang sedang kukandung ini. "Bunda, kembalilah ke rumah. Nanti, aku tidak mau nenek datang ke sini lalu dia akan menjahati Bunda lagi." "Sebentar lagi, Mika. Biarkan Bunda menemani dirimu beberapa menit lagi." Akhirnya aku mengangguk. Tentu, bunda tak sama dengan mereka. Tentu, bunda teramat baik untuk disandingkan dengan mereka. Tapi, Bunda tetap hanya seorang menantu di keluarga besar itu. Ia sedari dulu sangat patuh pada nenek juga ayahku. "Bunda, nanti kalau anak ini lahir, apa mereka bisa menerimanya walau terpaksa?" "Mika, Bunda sendiri tidak tahu. Tapi, seperti yang Bunda katakan waktu itu, berjuanglah dengan uang itu ketika mereka tidak bisa menerima kau dan cucu Bunda." Aku mengerti apa yang bunda isyaratkan. Meski terdengar sedikit kejam, tapi itulah cara satu-satunya agar aku bisa menyelamatkan bayiku. Karena kalau membunuh anakku yang masih ada di dalam kandungan masih begitu sulit, bukankah ketika anak ini lahir, perempuan tua berhati iblis itu akan lebih mudah melancarkan aksinya, menjadi malaikat maut yang siap menjemput nyawa bayiku kapan saja. "Bunda, terima kasih ya." "Mika, kuatlah menyongsong hari ke depan, Nak. Dunia tak akan ramah pada anak yang lahir tanpa pernikahan. Dunia akan mencemooh walaupun anak itu ada karena sebuah tindak kejahatan. Kau harus tetap tegar dan tabah." Bunda meraihku ke dalam pelukannya. Aku memeluknya balik dengan erat. Cintamu bunda, menguatkan aku setidaknya sampai hari ini. Bunda kemudian melepaskan pelukannya lembut lalu kedua tangannya menangkup di wajahku. "Tidur yang nyenyak, ya. Besok Bunda akan datang lagi, akan Bunda bawakan makanan enak untukmu." Aku lagi-lagi mengangguk. Usiaku masih begitu muda, tapi aku sudah begitu dipercaya untuk bisa memikul beban seberat ini. Ah, aku jelas sekarang sedang tidak bersyukur. Maafkan aku Tuhan, atas semua keluh kesahku. Padahal di luar sana masih banyak yang lebih menyedihkan hidupnya dibandingkan denganku. "Bunda kembali ya, Nak." Aku mengangguk, melepas bunda menghilang dari balik pintu. Aku tidur dengan miring. Posisi ini lebih memudahkan aku bernafas ketika tidur. "Kau dengarkan? Kita harus kuat. Kau harus membantu Bunda melewati semua ujian ini. Kita akan melewatinya bersama, Bunda akan menjagamu. Bunda akan mencintaimu. Bunda tidak akan meninggalkanmu seperti yang ayahmu lakukan pada kita. Kita akan baik-baik saja jika berdua dan bersama. Kau percaya pada Bunda kan?" Dengan gemetar aku mengusap kembali perutku yang kembali mengencang. Aku tidak akan menangis. Aku akan kuat. Aku kuat, maka anakku juga akan menguatkan. Aku juga tidak akan pernah menyerah menantang nasib dan kehidupan yang sekarang sedang menempatkan aku di titik paling bawah. Kehidupanku memang hina di mata mereka, tapi semoga, di mata anakku kelak, aku adalah kebanggannya dan ia sudah pasti akan menjadi kebanggaanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD