Dia yang Bergerak Perlahan

1003 Words
Sore ini, langit senja berwarna keemasan. Peristiwa pemukulan yang dilakukan nenek sudah berlalu dua bulan. Usia kandunganku pun sudah memasuki lima bulan. Aku bosan berada di dalam ruangan ini. Sunyi, seperti tak ada kehidupan. Bik Tati sudah kembali ke rumah utama karena hari ini, katanya ada acara penting. Kakakku akan dilamar lelaki kaya raya. Tentu saja semua orang sibuk dengan acara itu. Aku hanya bisa menatap semburat senja ini dengan hati yang masih sama. Sepi, sedih tapi tanpa airmata. Aku sudah jarang sekali menangis. Sebab aku lelah, menghabiskan setiap hari hanya untuk menangis dan mengeluarkan airmata dengan percuma. Aku mengusap perutku yang sudah semakin membuncit. Terkadang untuk mengusir jenuh, aku akan mengajak anakku yang masih berada di dalam berbicara. Sering kali kurasakan ia bergerak perlahan. Setiap kali aku merasakan gerakan, hatiku bagai tersentuh sejuknya angin. "Kau bergerak lagi." Aku tertawa kecil, meletakkan satu telapak tanganku di atas perut, membiarkannya berada di sana agar bisa merasakan gerakan anakku lagi. Rasanya bahagia sekali. Beginikah rasanya para perempuan yang akan segera menjadi ibu? Tapi kemudian saat aku memandang cermin, aku hanya melihat kesedihan di mataku sendiri. Iya, aku memang akan segera menjadi ibu, ibu dari seorang bayi yang akan lahir beberapa bulan lagi. Tapi, aku akan melahirkan tanpa suami. Aku akan menjadi wanita yang melahirkan karena sebuah kejadian pemerkosaan yang menghasilkan benih. Saat aku masih betah menatap cermin dan berkata sarkas pada diriku sendiri, pintu kamarku diketuk. "Siapa?" Aku memang akan selalu curiga dan akan selalu bertanya siapa yang sedang berada di depan pintu kamarku itu. Sebab, aku takut jika yang datang adalah nenekku. Ah, aku ini bagaimana. Aku lupa jika nenek yang datang, ia sudah lupa caranya tata krama, ia tidak mungkin akan mengetuk pintuku dengan begitu lembutnya. Ia akan menerobos masuk, lalu menjambak rambut, menampar pipi atau memukulku dengan berbagai macam benda yang dilihatnya. "Mika, kau belum tidur kan?" Senyumku perlahan mengembang, itu suara bunda. "Belum, Bunda. Masuklah." Pintu itu terbuka, bunda datang dengan sepiring makanan lezat. Aku menelan air liurku sendiri melihat makanan enak yang sudah lima bulan tidak pernah mampir di mulutku ini. "Bunda, nanti Nenek bisa mengamuk lagi." "Tidak, dia sedang sibuk. Dia sedang berbincang dengan para pebisnis dan keluarga calon suami kakakmu." Aku mengatupkan bibirku. Mencoba menyelami hatiku sendiri saat ini. Mungkin, saat ini semua keluargaku sedang bergembira. Mereka sedang merayakan acara lamaran dengan suka cita. Kakakku, kesayangan nenek itu akan segera menikah dengan anak dari keluarga yang sama konglomerat pula. Hidupnya begitu terdikte dan semuanya diatur sedemikian rupa, tapi kakak nampaknya tak keberatan dengan semua hal itu. "Mika, makanlah, Nak. Bunda sengaja membawakannya untukmu." "Ah iya, Bunda. Terima kasih ya, Mika memang lapar." Aku segera memakan makanan lezat yang bagi orang lain di tengah acara pesta adalah hal biasa. Tapi bagiku, hidangan seperti ini untukku sudah begitu langka. Aku menghabisnya secepat mungkin. Rasanya sungguh nikmat, aku tak mau menangis, aku harus segera makan sampai habis. "Enak?" tanya Bunda sembari membelai rambutku dengan lembut. Suaranya terdengar tercekat, aku tahu bundaku sedang menahan tangisnya sendiri. "Terima kasih, Bunda. Ini enak sekali." Rasanya, aku hampir menangis terisak mengatakan itu semua. Akhirnya hari ini aku bisa makan enak lagi, walaupun dengan begitu diam-diam. Walaupun aku terburu-buru menghabiskannya. "Sayang, Bunda kembali ya. Kau tidurlah, Nak. Jangan banyak pikiran. Bunda akan sering datang mengunjungimu ke sini lagi nanti." Sudahlah, aku tak bisa membalas lagi perkataan bunda yang begitu mulia. Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya. Kalau kami masih terlibat pembicaraan, sudah bisa dipastikan hanya akan ada isak tangis yang mewarnai setiap pertemuan. Selepas kepergian bunda, aku berbaring, menatap langit-langit kamarku dalam cahaya remang dan temaram sendirian. Aku letakkan lagi tanganku di atas perut. Dia bergerak lagi. "Anak Bunda, kau pasti ingin menghibur Bunda ya?" tanyaku pada bayi yang masih berada di dalam perutku itu. Terasa lagi gerakannya yang perlahan. Setiap kali aku menyentuhnya, setiap itu pula dia memberi respon dengan bergerak. Aku tersenyum. "Tidurlah, Nak. Semoga besok hari kita akan semakin indah, kita akan melaluinya berdua. Bunda akan menjaga juga melindungimu dengan segenap jiwa Bunda. Oh iya, hari ini Bunda makan enak, kau merasakannya juga, bukan?" Dia hanya bergerak perlahan, tetapi gerakannya menyentuh hingga ke dasar hatiku yang terdalam. Betapa aku mencintai anak yang akan segera lahir ini. Bik Tati benar, tidak ada anak yang lahir dengan membawa dosa kedua orangtuanya. "Non Mika, tidak ada anak yang lahir dengan membawa dosa kedua orangtuanya. Semua anak terlahir suci." Begitu kata bik Tati waktu aku menangis terisak di depannya, mengeluhkan akan jadi apa anakku nanti yang lahir karena sebuah dosa. "Tapi, bagaimana nanti kalau orang-orang mencemoohnya, Bik? Aku bisa saja tidak peduli dengan semua omongan orang, tapi dia?" "Non Mika harus kuat. Kalau Non kuat, maka nanti anak ini juga akan kuat." Bibi benar, tidak ada anak yang lahir dengan membawa atau menanggung dosa dari kedua orangtuanya, sekalipun ia terlahir dari rahim seorang penjahat. Ia tetap saja suci. Penghakiman yang ia dapatlah yang menjadikannya kotor di mata orang-orang itu sendiri. "Aku akan kuat, aku akan melindungi dia dari siapapun, Bik. Aku akan memperjuangkannya, bahkan jika itu harus membuat aku menjauh dari keluargaku sendiri, aku akan menerimanya. Kalau dihadapkan pada dua pilihan berat, aku harus memilih di antara bayi ini atau keluargaku, aku akan memilihnya. Aku tidak akan pernah menyesali itu." Lamunanku kembali, kantukku mulai datang. Aku mulai memejamkan mata. Ku senandungkan dengan lirih lagu-lagu masa kecilku yang indah dulu. Hatiku mulai tenang. Aku butuh istirahat. Mengistirahatkan hati juga beban kerja otak yang sudah terlalu banyak dan berat. Sudahlah, aku tidak perlu menyesali apapun. Walau kini aku sendirian, bertemankan sepi sunyi dan kehampaan, itu bukannya lebih baik daripada berada di antara orang-orang yang memandang aku hina dan jijik seperti sampah. Andai mereka tahu, aku pun tak pernah menginginkan ini terjadi. Tapi Tuhan maha tahu segalanya, ialah yang paling mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya. Tentu pula ini cobaan yang harus bisa aku lalui, Tuhan tahu aku sanggup melaluinya. Satu yang aku minta, agar ia senantiasa memberi bahu dan hati setegar karang karena setelah anak ini lahir, perjuanganku yang sebenarnya barulah akan dimulai. Aku Mika dan aku telah bersiap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD