“Apa ini?” tanya Arka dingin saat menemukan bekal makan siang di atas meja kerjanya.
Kirana yang baru turun dari lantai atas sedikit gugup. “Aku cuma masak. Kupikir kamu belum makan.”
Arka menatapnya tajam. “Jangan pernah mengira kita ini suami istri sungguhan.”
Kirana mengangguk. “Aku tahu batasanku.”
Tapi di dalam hati, ada sedikit luka yang tak bisa ia abaikan.
**
Sore harinya, Kirana berjalan ke taman belakang rumah. Ia butuh udara segar, dan tempat itu satu-satunya yang terasa hidup. Di sana, ia duduk sambil membuka jurnal kecil menulis semua perasaannya.
Hari ketiga. Aku pikir aku bisa bersikap netral, tapi setiap kali melihat sisi rapuh Arka, aku mulai takut... takut terjebak dalam perasaan ini.
Tanpa ia sadari, Arka berdiri tidak jauh darinya. Melihat ekspresi tenang Kirana, senyum samar kembali muncul di wajahnya. Ada sesuatu dari gadis ini yang berbeda dari semua wanita yang pernah ia kenal. Ia tidak menuntut, tidak pura-pura, hanya... ada.
**
Malam itu, Arka mengetuk pintu kamar Kirana.
“Aku belum makan malam,” ucapnya pelan.
Kirana menoleh, sedikit kaget. “Mau aku masakkan?”
Arka mengangguk singkat. “Kalau kamu tidak keberatan.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak itu dimulai, mereka makan malam bersama. Tanpa topeng. Tanpa canggung. Hanya dua orang yang mulai merasakan hangatnya keberadaan satu sama lain.