Ciko akhirnya tak bisa diselamatkan. Luka tembak di dadanya terlalu parah, dan meski Rafael membawa tubuh sahabatnya ke rumah sakit dengan kecepatan penuh, detak jantung itu berhenti di pangkuannya—di tengah kemacetan Jakarta yang tak tahu sedang menjadi saksi kepergian salah satu manusia paling setia yang pernah Rafael kenal. Rafael duduk sendirian di ruang tunggu UGD. Tangannya berlumuran darah. Matanya kosong. Dunia rasanya hening sekali, seperti semua suara tertelan bersama detik terakhir napas Ciko. Dalam diam itu, sosok seorang anak kecil menghampiri. Salah satu anak panti, Alif, menarik lengan bajunya dengan polos. “Om… katanya Om Ciko mau ajarin aku main gitar besok…” Rafael menunduk. Suara itu menghantam jiwanya lebih kuat dari peluru mana pun. Ia tidak menjawab. Ia hanya mem
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


