Rafael berdiri di depan sebuah kafe tua di daerah Kemayoran. Dari luar, tempat itu terlihat seperti kedai kopi yang sepi, tapi ia tahu lebih dalam dari siapa pun bahwa di balik dinding kayu rapuh itu, tempat itu menyimpan lebih banyak uang kotor dan rahasia daripada brankas bank. Langkahnya berat. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu—begitu ia masuk, tidak akan ada jalan pulang yang benar-benar bersih. Begitu pintu terbuka, aroma tembakau kuat dan parfum murahan menyambutnya. Musik dangdut pelan mengalun dari speaker kecil di sudut ruangan. Di dalam, beberapa wajah menoleh kaget. “Gila… lo hidup,” ucap salah satu dari mereka, pria berbadan besar dengan kepala plontos—Ujang, tangan kanan Anjas yang dulu hampir dibunuh Rafael karena pengkhianatan. Rafael tak menjawab. Ia hanya duduk,

