Rumah Lia kembali tenang setelah persidangan Mitha. Senyuman anak-anak, tawa kecil di ruang makan, dan sorakan dari lapangan kecil membuat tempat itu terasa seperti rumah sungguhan. Rafael duduk di bangku kayu dekat taman belakang, memandangi anak-anak bermain bola. Di sebelahnya, Ari menyeruput kopi sambil membaca koran. “Aku nggak nyangka, ya. Anak-anak bisa setangguh itu,” ujar Ari. “Karena mereka pernah hidup dalam gelap. Jadi saat nemu cahaya, mereka akan mati-matian mempertahankannya,” jawab Rafael pelan. Namun ketenangan itu segera terusik. Sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar Rumah Lia. Sopirnya tidak turun. Tapi dari dalam mobil, keluar seorang pria tinggi, dengan kemeja lengan pendek dan tato samar terlihat di lengannya. Tatapannya tajam. Bekas luka sayatan menghiasi pi

