Krisis Tanpa Peringatan Malam itu, udara Jakarta gerah. Saras baru saja mematikan lampu ruang tengah ketika alarm dari ruang perawatan Rafael berbunyi nyaring. Dalam hitungan detik, Davin dan Toni masuk dengan panik. Perawat jaga memanggil ambulans. Rafael, yang selama ini hanya lumpuh fisik, kini tak bisa bernapas sendiri. Alat bantu pernapasannya gagal, dan saturasi oksigennya turun drastis. Di ambulans, Davin menggenggam tangan Rafael—dingin, lembab, nyaris tak bergerak. Dokter jaga menyatakan kondisi Rafael masuk tahap respiratory failure. Ia harus segera dipasang ventilator permanen. > “Kita harus bersiap kemungkinan terburuk,” kata dokter. “Dalam kondisi seperti ini, pasien bisa koma kapan saja.” ** Berita Duka atau Harapan? Pagi harinya, Rumah Lia mengumumkan kondisi Rafa

