Bab 55

1249 Words

Warisan Tanpa Nama Rafael kini tak bisa bicara, tak bisa menulis sendiri, dan hampir seluruh tubuhnya lumpuh. Tapi pikirannya tetap bekerja. Dan dengan bantuan alat ketik sensorik yang dioperasikan lewat gerakan pupil mata, ia mulai menyusun “Buku Putih Rumah Lia”—sebuah panduan filosofi, program, nilai, dan arah masa depan Rumah Lia, jika suatu saat dirinya tiada. Ia menolak menyebut namanya di bagian sampul. Ia menulis: > “Rumah Lia bukan tentang siapa yang memulai. Tapi tentang siapa yang melanjutkan.” Selama berhari-hari, Davin dan Saras bergantian mendampingi Rafael, membaca drafnya, memberi masukan. Tak jarang mereka menangis dalam diam saat membaca bagian-bagian yang menyayat: > “Jika hari ini kita membantu seorang anak belajar mengenali luka tanpa malu, maka kita sedang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD