Keputusan Pagi itu, Davin berdiri di depan ruang kerja Rafael. Pintu dibiarkan terbuka. Rafael duduk di kursinya, mengenakan jaket tipis, terlihat lebih lelah dari biasanya. “Ada yang harus kita bicarakan,” ujar Rafael tanpa basa-basi. “Masuk.” Davin melangkah masuk. Duduk di kursi kayu berhadapan. Rafael menatapnya lama. Sorot matanya tajam, namun juga teduh. Ia menyodorkan satu map. “Ini... sistem kerja internal Rumah Lia. SOP dasar untuk pengasuh utama dan koordinator relawan.” Davin menelan ludah. “Lo mau...?” “Ini bukan hadiah. Ini ujian berikutnya. Selama tiga bulan ke depan, lo akan pegang operasional Rumah Lia. Aku akan mundur dari peran harian.” “Kenapa?” Rafael tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk sejenak, lalu berkata pelan, “Karena tubuhku sedang berbicara... dan

