Pagi yang Menggugah Mentari menyinari halaman Rumah Lia dengan lembut. Di dapur, aroma telur dadar dan roti panggang memenuhi udara. Anak-anak bersiap beraktivitas seperti biasa, tapi pagi ini Rafael tampak lebih rapi dari biasanya. Ia mengenakan batik lengan panjang berwarna biru tua, rambutnya disisir rapi, dan buku catatan kecil diselipkan di saku kiri d**a. Toni yang melihat penampilannya dari ruang makan hanya mengangkat alis. “Mau ke kondangan, Pak Raf?” Rafael tersenyum kecil. “Nggak. Aku diundang bicara di seminar nasional Rehabilitasi Sosial dan Keadilan Restoratif. Katanya, Rumah Lia dijadikan contoh.” Toni terkekeh. “Siapa sangka... mantan gembong narkoba jadi pembicara nasional. Dunia beneran berputar.” Saras muncul dari belakang membawa map presentasi. “Kamu siap?” tanyan

