Pidato yang Bukan untuk Membela Diri Suasana di lapangan kecil itu tegang. Udara pagi membawa aroma hujan yang menggantung, seolah langit sendiri sedang menunggu apa yang akan dikatakan manusia di bawahnya. Rafael berdiri di atas panggung kayu sederhana. Di hadapannya—warga, aktivis, wartawan, bahkan beberapa wajah asing dari komunitas yang menuntut Rumah Lia ditutup. Rafael memegang mikrofon. Napasnya ditarik panjang. “Nama saya Rafael,” suaranya tenang, jelas. “Dan ya, saya adalah mantan bandar narkoba.” Gemericik suara, beberapa orang langsung bersuara tidak suka. Tapi Rafael tetap berdiri tegak. “Dulu saya hidup dari menghancurkan hidup orang lain. Saya menyuap, mengancam, bahkan pernah hampir membunuh. Saya masuk penjara. Saya kehilangan satu-satunya perempuan yang mencintai say

