Bab 28

1431 Words

Menjemput Luka yang Pernah Ditinggalkan Pagi hari di Rumah Lia dipenuhi bau kayu dan aroma sarapan. Tapi pagi ini terasa berbeda. Rafael berpakaian rapi. Kemeja putih lengan panjang yang jarang ia pakai, celana hitam polos, dan sepatu kulit tua yang masih ia simpan sejak sebelum masuk penjara. Toni berdiri di ambang pintu, menyerahkan amplop kecil. “Ini... kalau sesuatu terjadi.” Rafael menatapnya. “Aku nggak akan lari, Ton.” “Aku tahu. Tapi bukan berarti kau harus menghadapi semuanya sendirian.” Rafael menggenggam bahu Toni. Tak banyak kata. Tapi cukup. Karena mereka tahu, kadang keberanian tidak ditunjukkan lewat teriakan—tapi lewat langkah tenang menuju tempat yang pernah kita hancurkan. ** Kampung Ilham Perjalanan ke Cikarang memakan waktu dua jam. Jalanan sempit, gang setenga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD