Bab 10

1412 Words

Dua Minggu Kemudian. Lia perlahan pulih. Meski tubuhnya masih lemah, wajahnya mulai bersinar lagi. Senyuman kecil menghiasi hari-hari Rafael yang sebelumnya dipenuhi darah dan amarah. Mereka menghabiskan waktu dengan membaca, merajut kenangan kecil di kabin kayu yang kini terasa seperti rumah, bukan lagi persembunyian. Setiap pagi, Rafael membuatkan teh herbal untuk Lia. Ia belajar memasak makanan hangat yang tak pernah ia sentuh sebelumnya—sup kaldu, bubur ayam lembut, dan bahkan pancake yang bentuknya lebih mirip batu, tapi Lia tetap tertawa dan memujinya. “Kamu cocok jadi suami,” canda Lia suatu pagi sambil mengelus pipinya. Rafael hanya tersenyum kecil, meski dalam hati ia berkata: Andai waktu lebih panjang, aku ingin jadi itu untukmu. Selamanya. Namun bayangan masa lalu terus men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD