Langit Swiss tak pernah seindah ini bagi Lia.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat padang rumput membentang seperti lukisan yang tak pernah selesai. Pegunungan Alpen berdiri gagah di kejauhan, pucuknya ditaburi salju yang berkilauan diterpa cahaya pagi. Sebuah kabin kayu berdiri di tengah ladang bunga edelweiss. Terlindung dari dunia luar. Damai. Sunyi. Seolah waktu berhenti di tempat ini.
Namun tidak di hati Rafael.
Ia duduk di depan tungku perapian, wajahnya membatu. Tangannya memainkan senjata kecil, bukan karena perlu—tapi karena kebiasaan. Hatinya tahu, kedamaian ini hanya sementara. Dan orang-orang yang memburunya… tidak akan tinggal diam.
Lia muncul dari dapur kecil, mengenakan sweater abu-abu kebesaran yang entah milik siapa, rambutnya diikat longgar, wajahnya masih pucat tapi ada rona kehidupan yang kembali.
“Rafael…” bisiknya pelan, lalu duduk di sampingnya. “Berapa lama kita akan di sini?”
“Selama perlu,” jawabnya, tanpa menatap.
Lia menggenggam tangannya. “Kamu tahu aku gak bisa lari selamanya. Aku bukan kamu.”
Rafael akhirnya menoleh. Pandangan mereka bertemu. Dalam matanya, ada kelelahan. Tapi juga tekad.
“Aku tahu. Tapi aku gak akan biarkan mereka menyakitimu lagi.”
---
Beberapa minggu sebelumnya.
Setelah insiden suster pembunuh, Rafael memutuskan untuk membawa Lia keluar dari radar. Ia mengaktifkan jalur pelarian yang disiapkan Toni sejak bertahun-tahun lalu—sebuah jaringan rumah aman yang tersebar di Eropa, disamarkan sebagai properti legal dan milik perusahaan ekspor-impor.
Toni memalsukan dokumen medis, menciptakan identitas baru untuk Lia: "Anna Meier", penderita paru-paru kronis yang pindah ke Alpen demi udara bersih dan terapi alami. Rafael sendiri menghapus keberadaannya dari sistem kriminal sementara waktu, memutus hubungan dengan dua kartel besar di Praha dan Berlin.
Namun keputusan ini menimbulkan pertentangan.
“Kau benar-benar meninggalkan semuanya hanya demi dia?” tanya Toni dengan nada hampir putus asa.
Rafael menjawab singkat, “Iya.”
“Bos… kita kehilangan 30% wilayah di Balkan. Arman menguasai pelabuhan. Kalau kau pergi lebih lama, dia akan ambil semua yang sudah kita bangun bertahun-tahun!”
Rafael menatap Toni tajam. “Lebih baik aku kehilangan semuanya… daripada kehilangan dia.”
---
Kembali ke kabin.
Lia membaca buku di depan jendela. Cahaya pagi menari di rambutnya. Rafael hanya memandanginya dari jauh, dan di dalam hatinya, ia tahu: untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seperti manusia. Bukan monster. Bukan penguasa. Bukan raja narkoba.
Hanya… pria biasa. Yang sedang mencintai seseorang yang tak seharusnya berada di dunia gelap miliknya.
Namun ketenangan itu mulai retak ketika Toni mengirim pesan dengan kode:
"Langit merah di timur. Kita dibakar perlahan."
Rafael memencet tombol khusus di ponselnya—akses satelit miliknya menunjukkan aktivitas mencurigakan di sekitar danau dekat kabin. Empat drone tak dikenal terbang rendah, dua di antaranya milik militer. Seseorang sedang mencari. Dan itu bukan polisi.
Itu berarti… Arman.
---
Sementara itu di Istanbul.
Arman duduk di dalam vila marmer, memandangi layar besar dengan wajah Rafael terpampang di sana.
“Dia pikir bisa hidup sebagai petani gunung sekarang?” gumamnya sinis.
Di sampingnya, Veronika berdiri dengan laporan terbaru. “Lia mulai menunjukkan gejala komplikasi transplantasi. Ini waktu paling rapuhnya.”
Arman menyipitkan mata. “Bagus. Kirim obat ke rumah sakit terdekat… tapi campur dengan dosis kecil reagen penekan imun.”
Veronika terdiam sejenak. “Kalau dia mati karena itu…”
Arman menatapnya dingin. “Aku tak peduli bagaimana dia mati. Tapi aku ingin Rafael memeluk tubuh dingin itu… dan tahu bahwa semua yang dia lakukan… sia-sia.”
------
Tiga Hari Kemudian.
Lia mulai batuk kembali. Tidak sering, tapi cukup keras untuk membuat Rafael khawatir. Kadang disertai napas tersengal dan sesak di d**a. Gejala ini seharusnya tidak muncul secepat ini pasca-transplantasi, apalagi dengan perawatan seintensif sebelumnya.
Rafael menghubungi dokter pribadi yang ia bayar untuk siaga di Bern, seorang ahli imunologi transplantasi bernama Dr. Lutz.
“Itu bisa jadi reaksi minor. Tapi kalau memburuk, bisa mengindikasikan penolakan graft atau infeksi. Perlu periksa darah dan paru-paru sesegera mungkin,” ujar Dr. Lutz lewat video call.
Lia bersikeras tak ingin kembali ke rumah sakit besar.
“Aku… gak sanggup lagi lihat ruangan putih dan jarum infus,” katanya dengan lirih.
Rafael mengerti, tapi ia juga tahu, jika mereka lengah sedikit saja, Lia bisa kehilangan paru-paru barunya. Dan ia—ia tidak akan membiarkannya terjadi.
---
Sore itu, Rafael turun ke desa kecil di lembah, menyamar sebagai pria lokal yang sedang mengurus “istrinya” yang sakit. Ia membeli obat dari apotek kecil. Salah satu kotak berisi imunosupresan langka yang baru datang dari luar negeri. Obat ini—entah bagaimana—masuk tanpa izin resmi.
Rafael, yang dulunya penguasa perdagangan ilegal, langsung mencium keanehan.
Terlalu mudah. Terlalu cepat. Terlalu pas.
Ia membawa kotak itu kembali ke kabin, dan diam-diam meminta Toni mengujinya secara kimia melalui alat portabel di mobil pengawas. Hasilnya keluar tiga jam kemudian:
“Ada senyawa tambahan. Sejenis alkaloid sintetis. Tidak mematikan, tapi menurunkan daya tahan secara perlahan.”
Rafael membeku.
“Arman… sudah tahu kita di sini.”
---
Malam itu, Rafael duduk sendiri di luar kabin. Salju turun tipis. Ia mengisap rokok tanpa api, hanya untuk menenangkan tangan. Toni muncul dari balik bayangan pepohonan.
“Kalau kau masih ragu untuk kembali ke permainan, kita akan kalah,” kata Toni.
Rafael mendengus. “Aku tidak pernah ragu. Aku hanya… ingin memeluk Lia tanpa harus berpikir siapa yang sedang membidik kami dari balik pepohonan.”
“Kau tak bisa dapat keduanya, Bos. Damai dan balas dendam.”
Rafael menatap kabin dari kejauhan.
“Mungkin… tapi aku bisa buat satu pilihan: lindungi dia dengan caraku… dan hancurkan Arman dengan caramu.”
---
Sementara itu, di kabin...
Lia bangun tengah malam. Tenggorokannya sakit. Tubuhnya panas dingin. Napasnya memburu seperti baru saja berlari puluhan meter. Ia berdiri goyah, berusaha mencapai dapur untuk minum, namun dunia berputar. Gelap. Jatuh.
Suara tubuhnya membentur lantai terdengar sayup di luar.
Rafael berlari masuk.
“Lia!” pekiknya, lalu segera mengangkat tubuh lemas itu ke tempat tidur.
Kulit Lia memucat. Bibirnya membiru.
Rafael mengambil oksigen portable. “Bernapaslah, sayang. Tolong… jangan tinggalkan aku…”
Air mata Rafael jatuh membasahi pipi Lia. Untuk pertama kalinya sejak menjadi raja dunia gelap, ia merasa ketakutan… bukan karena lawan… tapi karena kehilangan satu-satunya hal yang membuat hidupnya punya makna.
---
Pagi berikutnya, dengan bantuan Toni, Rafael membawa Lia diam-diam ke klinik milik kontak lama di Luzern. Klinik itu tersembunyi di balik gedung tua bergaya Victoria—dulu markas cuci uang, sekarang jadi rumah aman yang juga punya fasilitas medis modern.
Dr. Lutz datang langsung dengan timnya.
Setelah serangkaian tes, ia menggeleng. “Ini tidak masuk akal. Obat yang dia minum mengandung senyawa depresan imun. Siapa yang memberinya itu?”
Rafael menunjuk ke kotak obat dari apotek desa.
Dr. Lutz mencabut kacamatanya. “Kalau kau terlambat satu atau dua hari saja, ini bisa jadi fatal.”
Lia dirawat di ruangan isolasi kecil. Infus diganti, sistem imunnya distabilkan. Tapi luka itu—baik fisik maupun emosional—sudah terlanjur terbuka.
---
Malam hari, Lia memanggil Rafael ke samping tempat tidur.
“Aku cape… terus dikejar… terus sembunyi…” suaranya nyaris tak terdengar.
Rafael menggenggam tangannya erat. “Maaf. Aku bawa kamu ke dunia ini.”
Lia menatapnya. “Kalau… aku gak bertahan… kamu janji sesuatu ke aku?”
Rafael menahan napas. “Apa pun.”
“Jangan balik ke dunia gelap itu. Jangan jadi monster lagi… meski cuma aku yang bikin kamu pengen berubah.”
Rafael menunduk. Dadanya sesak.
“Aku gak tahu caranya jadi manusia biasa. Tapi aku janji, aku akan coba.”
Dan saat itu, Lia tersenyum. Bukan karena keadaannya membaik. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia percaya… Rafael bukan cuma pria dari dunia kegelapan. Ia adalah pria yang, meski dihantui masa lalu berdarah, bersedia berjalan ke cahaya… asal ada cinta yang memimpin langkahnya.