Bab 8

1336 Words
--- Pukul 10.25 pagi. Operasi yang berjalan selama lebih dari delapan jam akhirnya memasuki tahap akhir. Mesin jantung-paru eksternal mulai dinonaktifkan secara perlahan, memberi kesempatan jantung baru Lia untuk bekerja sendiri. Paru-paru yang telah ditanam pun mulai menggembung dengan irama teratur, menandakan sistem pernapasan berangsur pulih. Seluruh ruangan operasi dipenuhi keheningan tegang saat Prof. Dietrich memberi aba-aba terakhir. “Periksa tekanan darah, irama sinus, dan perfusi jaringan,” katanya tegas. “Stabil,” jawab seorang perawat. “Denyut jantung 83 bpm. Irama sinus normal. Oksigenasi membaik.” Suara monitor detak jantung terus berbunyi pelan namun teratur. Setiap “beep” terdengar seperti nyanyian kehidupan di telinga Rafael yang memandang dari luar ruang operasi. Air matanya jatuh tanpa suara. Bahu yang biasa menahan dunia kini bergetar—bukan karena ketakutan, tapi karena harapan yang nyaris padam itu kembali menyala. “Dia bertahan,” bisik Rafael. Seorang suster mendekat dan berkata lembut, “Pasien akan dibawa ke ruang pemulihan. Tapi 72 jam ke depan tetap krusial. Infeksi, penolakan organ, atau gangguan pernapasan bisa terjadi sewaktu-waktu.” Rafael mengangguk. “Saya akan tetap di sini. Sampai dia membuka mata.” --- Sementara itu, di ruang bawah tanah rumah sakit, Toni tengah menyelesaikan interogasi cepat terhadap Riko sebelum polisi lokal tiba. Riko terluka, namun masih cukup kuat untuk bicara. “Kenapa Arman mau ganggu operasi ini?” tanya Toni, suaranya dingin. Riko tertawa sinis. “Kau pikir dia peduli sama cewek itu? Ini bukan tentang dia. Ini tentang membuat Rafael lemah. Tentang menjatuhkan singa yang sedang jinak. Lia bukan targetnya… tapi dia senjatanya.” Toni meninju dinding di belakang kepala Riko, nyaris mengenai hidungnya. “Kalau dia menyentuh Lia sekali lagi… aku akan cari dia sampai ke neraka.” Riko hanya menyeringai. “Terlambat. Arman sudah menyusup lebih dalam dari yang kau pikir.” --- Sore itu, Lia mulai sadar. Tubuhnya lemah dan dipenuhi selang serta kabel, tapi matanya terbuka perlahan. Cahaya ruangan menyilaukan, dan pandangan pertamanya adalah… Rafael. Wajahnya. Matanya yang sembab tapi penuh cinta. “Rafael…?” suaranya pelan seperti desau angin. Rafael langsung mendekat, menggenggam tangannya dengan lembut. “Aku di sini. Kau berhasil. Operasi sukses.” Lia tersenyum, kecil dan tipis. “Aku hidup…?” Rafael mengangguk. Air matanya jatuh satu-satu ke tangan Lia. “Ya. Kau hidup. Kau kuat. Kau luar biasa.” Lia mencoba bicara, namun suaranya nyaris tak terdengar. Rafael mendekatkan telinganya ke bibir Lia. “Terima kasih… kamu selamatkan aku…” Hati Rafael meledak. Bukan dengan bangga. Tapi dengan kelegaan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. “Aku janji… kau nggak akan pernah sendirian lagi.” --- Malam itu, Rafael menatap langit Zürich dari balkon kamar rumah sakit. Salju kembali turun, menutupi jejak-jejak peperangan yang baru saja mereka lalui. Namun ia tahu satu hal—ini belum berakhir. Toni mendekat dengan ekspresi tegang. “Riko bilang Arman sudah menyusup ke lebih dari satu rumah sakit di Eropa. Dia punya akses data, bahkan dokumen identitas palsu. Dia tahu jadwal kita. Dia tahu semua tentang Lia.” Rafael mengepalkan tangannya. “Berarti dia belum selesai.” “Dia akan mencoba lagi,” ucap Toni. “Dan lebih berbahaya.” Rafael menatap langit. Salju menari-nari dalam diam. Di dalam dadanya, ada cinta yang baru tumbuh—dan juga ancaman yang mulai menghitamkan langit. “Aku akan lindungi Lia dengan seluruh hidupku… dan jika Arman ingin perang—maka aku akan bawa neraka itu padanya.” --- Di lokasi tersembunyi yang tak diketahui siapa pun, Arman menonton rekaman kamera rumah sakit yang berhasil dia ambil sebelum sistemnya dilumpuhkan. Di layar, wajah Lia muncul… hidup… tersenyum. “Bagus,” gumam Arman. “Karena keindahan itu akan lebih indah… saat dihancurkan perlahan.” Ia menatap foto Rafael dan Lia bersama. Wajahnya tenang… namun matanya penuh rencana. “Selamat, Rafael. Tapi ingat… cinta terlarangmu akan jadi kelemahan terbesarmu.” ------ 72 Jam Setelah Operasi. Udara di kamar rawat intensif masih didominasi aroma alkohol medis, antiseptik, dan suara monitor jantung yang berdetak stabil. Lia telah melewati masa kritis pertama. Tubuhnya mulai menunjukkan respons positif terhadap transplantasi. Dokter menyebutnya sebagai "pemulihan awal yang luar biasa." Namun, tubuhnya tetap lemah. Napasnya pendek. Setiap gerakan terasa berat. Rafael tak pernah beranjak lebih dari dua meter dari sisi ranjang. Ia tidur di sofa kecil, makan di meja samping tempat tidur Lia, dan bahkan bekerja melalui laptop yang diletakkan di sudut ruangan. Pengawalan di sekitar rumah sakit diperketat. Semua akses menuju ruang rawat dijaga orang-orang Toni yang kini berstatus bayangan Rafael. Lia membuka matanya pada hari ketiga, dan kali ini, ia bisa bicara lebih jelas. “Kamu… gak tidur?” tanyanya lirih. Rafael menggeleng. “Nggak penting. Yang penting kamu bisa bicara.” Ia tersenyum. Senyum yang sederhana… tapi cukup untuk menghancurkan seluruh pertahanan yang tersisa dalam d**a Rafael. “Kenapa kamu… sejauh ini… untuk aku?” tanya Lia, memandang matanya. Pertanyaan itu menghantam seperti peluru yang tak bisa dihindari. Rafael terdiam sejenak, lalu berkata, “Karena kamu satu-satunya cahaya yang pernah datang ke hidupku. Semua yang aku sentuh—selalu rusak, hancur. Tapi kamu datang… dan membuat aku ingin berubah.” Lia menatapnya, lemah tapi lembut. “Aku… nggak tahu harus ngomong apa. Aku masih takut… dengan dunia kamu…” “Aku ngerti. Dunia aku gelap. Penuh darah. Tapi aku… bersumpah akan berdiri di antara kamu dan dunia itu.” Lia meneteskan air mata. Ia ingin percaya. Ia mencoba. Tapi di dalam dirinya, ada ketakutan… bahwa cinta seperti ini—tidak seharusnya ada. --- Di tempat lain. Arman duduk di sebuah gereja tua yang telah lama tak dipakai di pinggiran kota Salzburg. Cahaya menyorot dari jendela kaca patri yang retak, menari di lantai berdebu. Ia memegang salib kayu kecil, bukan karena doa… melainkan kenangan. Di belakangnya, seorang wanita datang membawa koper hitam. Wanita itu tinggi, mengenakan jas hitam dan sepatu hak—elegan dan dingin. Ia adalah Veronika, salah satu eksekutor bayaran paling mahal di Eropa Timur. “Kau yakin targetnya cukup berharga untuk dibunuh?” tanya Veronika dengan logat Rusia yang kental. Arman mengangguk. “Bukan dia yang penting. Tapi efek dari kematiannya.” Veronika membuka koper itu, menampilkan serangkaian senjata senyap: jarum racun, pistol bersensor thermal, bahkan granat asap berbau non-lethal. “Nama target?” Arman tersenyum kecil. “Lia.” --- Beberapa Hari Kemudian. Lia dipindahkan dari ruang intensif ke kamar pribadi. Meskipun belum bisa berjalan jauh, dokter mengizinkannya untuk duduk dan berbicara lebih lama. Rafael membawakan bunga, buku, dan sesekali memutar lagu klasik untuk menenangkan suasana. Hubungan mereka, meski belum jelas namanya, mulai membentuk keintiman dalam diam. Namun Toni tak pernah meninggalkan posnya. Setiap jam, ia melakukan patroli, memeriksa kamera, memeriksa latar belakang setiap suster dan dokter yang masuk. Ia tahu… perang belum berakhir. Dan benar saja. Suatu malam, perawat baru datang membawa infus pengganti. Toni langsung curiga. Gerak-geriknya terlalu tenang. Tidak gugup, tapi juga tidak penuh empati. Saat Toni menginterogasi, wanita itu menarik pisau kecil dari dalam saku gaunnya—arahnya langsung ke d**a Toni. Namun Toni sudah siap. Ia menangkap lengan wanita itu, menjatuhkannya ke lantai, dan menindih tubuhnya sambil meneriakkan: “Kontrol! Lockdown kamar 214 sekarang!” Wanita itu tertawa saat diborgol oleh pengawal Rafael. “Aku cuma pembuka jalan…” ucapnya. Dan di saat yang sama… Rafael di dalam kamar menemukan sebuah benda kecil di bawah tempat tidur Lia—sebuah kamera mikro dengan sinyal aktif. Seseorang… telah lebih dulu masuk. --- Lia gemetar di pelukan Rafael. “Aku… aku gak kuat kalau harus hidup dalam ketakutan…” bisiknya. Rafael menggenggam wajahnya. “Kita akan pergi dari sini. Ke tempat di mana mereka gak bisa menyentuh kita. Tapi aku janji satu hal… aku akan melindungi kamu, meski harus membunuh setiap musuh satu per satu.” --- Di layar monitor, Veronika menonton rekaman gagal dari suster palsunya. Ia tidak marah. Hanya mencatat sesuatu. “Mereka mulai pindah. Waktu untuk rencana berikutnya.” Arman muncul di balik bahunya. “Biarkan mereka merasa aman dulu. Lalu kita buat Rafael memilih: wanita itu… atau seluruh kekaisaran narkoba yang dia bangun.” Dan untuk pertama kalinya, Arman tersenyum lebar. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD