---
Pagi itu, salju masih turun tipis di atas atap-atap rumah sakit UniversitätsSpital Zürich. Matahari mengintip malu-malu di balik awan kelabu, membuat segalanya tampak muram namun megah. Di lantai tujuh gedung utama rumah sakit, di ruang isolasi bertekanan positif, Lia tengah dipersiapkan untuk operasi terbesar dalam hidupnya—transplantasi jantung dan paru secara simultan.
Wajahnya pucat, tubuhnya lemah, namun senyuman tipis tetap terukir. Seolah, di tengah ketidakpastian antara hidup dan mati, Lia masih memilih untuk percaya.
Di balik kaca pengawas, Rafael berdiri mengenakan pakaian steril lengkap. Matanya tajam memandangi Lia, namun hatinya penuh kegelisahan. Ia tahu, tak hanya tubuh Lia yang berperang hari ini, tapi juga dirinya. Bukan hanya melawan waktu dan kematian, tapi juga melawan bayangan dari masa lalunya yang kini muncul kembali: Arman.
---
Satu hari sebelumnya…
Toni, salah satu tangan kanan Rafael, datang membawa kabar buruk. Di dalam kamar kontrol komunikasi darurat yang dirancang Rafael khusus untuk keperluan penting, layar-layar monitor menampilkan jejak-jejak digital aktivitas mencurigakan. Toni menunjuk grafik yang terus melonjak.
“Dia mencoba menyusup ke jaringan rumah sakit,” kata Toni. “Tim IT Swiss mendeteksinya tadi malam. Seseorang dari luar mencoba mendapatkan akses ke data pasien—terutama data Lia.”
Rafael mendekat, menatap layar. “Dia?”
Toni mengangguk. “Kami cek jejak IP-nya. Berasal dari Jakarta, dan sesuai pola enkripsi Arman. Dia belum menyerang secara langsung… tapi dia sedang mencari celah.”
Rafael menggeleng pelan. “Dia tak tahu siapa yang sedang dia ganggu. Dia pikir ini tentang dendam lama. Tapi kali ini... ini tentang hidup seseorang.”
“Kau mau aku kirim orang untuk cari dia?”
Rafael menatap Toni dengan tatapan penuh amarah terpendam. “Jangan cari. Tangkap. Hidup-hidup. Tapi jika kau harus memilih antara dia dan Lia—kau tahu siapa yang harus selamat.”
---
Sore itu, Rafael menemani Lia di dalam ruang tunggu pra-operasi. Meski tubuh Lia terhubung ke berbagai alat medis, wajahnya tetap menyimpan ketenangan.
“Rafael…” bisik Lia, suaranya berat tapi lembut. “Kalau operasi ini gagal… aku ingin kau tahu satu hal.”
Rafael mendekat, menggenggam tangannya. “Jangan bicara seperti itu. Kau akan selamat.”
Lia tersenyum lemah. “Kau sudah melakukan segalanya. Kau bahkan meninggalkan dunia lamamu… demi aku. Aku tahu betapa sulitnya itu.”
“Aku akan lakukan seribu kali lipat lebih dari ini jika perlu. Dunia bisa membenciku, hukum bisa menghukumku… tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuatku mundur dari ini.”
Lia menatap matanya, lalu berbisik, “Aku mencintaimu, Rafael.”
Untuk pertama kalinya, kata-kata itu terucap. Tanpa keraguan. Tanpa ketakutan. Dan Rafael, pria yang selama ini hidup dalam kekerasan dan kematian, merasa dadanya seakan ditusuk oleh sesuatu yang lebih tajam dari peluru—pengharapan.
---
Di sisi lain dunia, Arman duduk di dalam gudang tua yang dulunya milik Rafael, sekarang ia jadikan markas sementaranya. Di hadapannya, layar laptop menampilkan peta rumah sakit Zürich, denah keamanan, dan koneksi jaringan.
“Lia Rahmadani…” gumam Arman. “Kau akan jadi umpan yang manis.”
Salah satu anak buahnya, Riko, bertanya ragu, “Tapi dia cuma cewek polos, Man. Kalau lo bener-bener serang dia, kita bakal dilacak. Apalagi di Eropa.”
Arman mencibir. “Kau pikir aku ingin membunuhnya? Tidak, Riko. Aku ingin membuat Rafael memilih: menyelamatkan cinta hidupnya, atau menyelamatkan harga dirinya. Kita akan main lebih halus.”
Ia menunjuk layar. “Lia akan jadi pintu masuk. Begitu Rafael terpancing keluar, kita tutup jalannya. Tangkap dia. Dan buat dia lihat dengan matanya sendiri saat satu-satunya cahaya dalam hidupnya… padam.”
---
Kembali di Zürich…
Malam menjelang. Operasi dijadwalkan pukul 03.00 dini hari, waktu terbaik menurut tim medis untuk transplantasi tingkat tinggi seperti ini. Rafael duduk di kapel rumah sakit, tempat yang sama tempat ia bersujud beberapa malam sebelumnya.
Tak ada doa panjang kali ini. Hanya satu kalimat dalam hati:
> “Tuhan, jika Kau izinkan aku mengorbankan seluruh hidupku untuk dia… izinkan dia bertahan.”
Rafael bukan lelaki yang sering memohon. Tapi malam ini, ia tak punya harga diri untuk dipertahankan di hadapan Tuhan. Ia hanya punya cinta.
Dan cinta itu sedang bertarung untuk bertahan hidup.
------
Tepat pukul 02.45 dini hari, koridor di lantai tujuh rumah sakit UniversitätsSpital Zürich lengang, hening, dan steril. Hanya suara sepatu dokter yang sesekali terdengar berderap cepat, memecah kesunyian. Lampu operasi menyala sempurna, dan seluruh tim medis telah berada dalam posisi masing-masing. Seluruh prosedur telah dipersiapkan selama 36 jam penuh—transplantasi jantung dan paru ganda adalah pertaruhan yang langka dan berisiko tinggi.
Lia dibaringkan di atas ranjang operasi dengan perlahan. Tubuhnya sudah dibius total, napasnya dijaga melalui ventilator, sementara selimut termal menutupi tubuh rapuhnya untuk menjaga suhu tetap stabil. Di balik dinding kaca pengamat, Rafael berdiri mengenakan pakaian scrub steril. Matanya tidak berkedip sedikit pun sejak Lia dibawa masuk.
Prof. Dietrich memasuki ruangan. Ahli bedah legendaris itu mengangguk pada Rafael dari balik masker.
“Kami akan mulai sekarang. Operasi ini bisa berlangsung 8 sampai 12 jam. Anda boleh menunggu di sini, tapi kami mohon untuk tidak mendekat ke zona merah,” ucap salah satu perawat kepala.
Rafael tak menjawab. Hanya mengangguk. Dalam hatinya, hanya ada satu kalimat:
> "Bertahanlah, Lia…"
---
Sementara itu, di lorong belakang rumah sakit, Toni berdiri bersama dua agen keamanan rahasia Swiss yang disewa Rafael secara pribadi. Mereka memantau layar CCTV dan jaringan akses dari ruang kendali portabel. Toni menatap monitor yang menunjukkan aktivitas pengunjung rumah sakit.
“Kita punya anomali di zona parkir barat. Dua pria masuk tanpa identitas medis. Mereka bawa tas besar, bukan alat medis,” ujar salah satu agen.
Toni langsung menyambar walkie-talkie. “Unit tiga, arahkan perhatian ke basement barat. Jangan lakukan kontak sampai saya konfirmasi.”
“Ini bukan kebetulan,” gumam Toni. “Arman pasti mulai bergerak.”
Satu layar menampilkan seorang pria bertopi hitam dan jaket tebal, masuk ke dalam lift barang. Wajahnya tidak jelas, namun gerak tubuhnya… Toni tahu persis.
“Itu dia…” bisiknya lirih.
---
Di ruang operasi, Prof. Dietrich memimpin timnya dengan presisi luar biasa. Jantung Lia telah diangkat. Mesin jantung-paru eksternal bekerja menggantikan fungsinya sementara. Tubuh Lia kini sepenuhnya bergantung pada teknologi dan keterampilan manusia.
Donor organ yang dikirim dari rumah sakit mitra di Bern telah tiba dalam kontainer pendingin khusus. Kedua organ vital—jantung dan paru—dipastikan dalam kondisi optimal.
“Kita mulai pemasangan jantung,” ujar Prof. Dietrich.
Para asistennya menjawab serempak, “Jawohl, Herr Professor.”
Setiap detik terasa seperti abad bagi Rafael yang menatap dari balik kaca. Ia tidak bisa membantu apa pun. Ia hanya bisa percaya—pada ilmu, pada keajaiban, dan pada kekuatan cinta.
---
Di luar, Toni mendapat laporan bahwa dua pria bertopi berhasil ditahan oleh petugas keamanan rumah sakit. Mereka adalah kurir biasa—namun paket yang mereka bawa bukan logistik medis seperti yang tertulis. Melainkan: sebuah drone, kamera mikro, dan chip pemancar sinyal.
“Pancingan,” gumam Toni. “Arman hanya ingin kita fokus ke mereka.”
Ia segera menyambar headset-nya. “Semua unit—skenario B! Periksa semua jalur komunikasi internal rumah sakit. Fokus ke akses sinyal eksternal!”
Dan benar saja, dalam waktu lima menit, sinyal dari satu ruang server mendadak melonjak. Toni menerobos masuk ruang server lantai enam. Seorang teknisi rumah sakit tengah disekap dan diikat di pojok ruangan.
Di depan layar, berdiri pria bertubuh tinggi, mengenakan hoodie abu-abu. Wajahnya tidak asing.
Riko. Anak buah Arman.
Tanpa ragu, Toni menerjang.
Mereka bergumul di tengah ruangan, bertarung tanpa senjata api karena protokol rumah sakit melarang penggunaan senjata. Riko mencoba kabur sambil menekan tombol pada perangkat pemancar sinyal. Tapi Toni berhasil menghantam pergelangan tangannya dan menjatuhkan alat itu.
“Lo pikir bisa ngacak-acak tempat ini, hah?” geram Toni sambil menghantam Riko ke dinding.
Riko tertawa dengan darah di bibirnya. “Kita nggak butuh menang sekarang… Kita cuma butuh Rafael lengah.”
Toni langsung menendangnya hingga pingsan.
Ia meraih alat komunikasi dan memberi perintah, “Sinyal telah dinetralisir. Tapi Arman tahu terlalu banyak. Rafael harus dikabari sekarang.”
---
Tapi Rafael tak bergeming.
Ia menerima laporan Toni, namun matanya tetap terpaku ke ruang operasi. Laporan pengamanan hanya jadi suara latar. Ia hanya punya satu fokus:
Lia.
Setelah enam jam, jantung baru Lia telah dipasang. Denyut pertama terdengar dari monitor. Suara detak jantung yang sebelumnya datar, kini mulai berdetak perlahan.
Rafael menahan napas.
“Detak stabil, tekanan darah naik perlahan, saturasi oksigen meningkat…” kata dokter anastesi.
Prof. Dietrich tersenyum di balik masker. “Satu langkah lagi.”
Rafael menggenggam sisi kaca. Tangannya gemetar.
Satu langkah lagi.
---
Namun Arman belum selesai.
Dari kejauhan, melalui koneksi jaringan gelap yang telah ia pasang sejak seminggu lalu, ia membuka kamera tersembunyi yang sempat disusupkan ke dalam fasilitas medis. Meski tidak menjangkau ruang operasi, ia dapat melihat ruang tunggu, lorong, bahkan kamar Lia sebelumnya.
Ia melihat wajah Rafael. Tegang, penuh harap.
Arman menyeringai.
“Jatuh cinta membuatmu lemah, Raf…”
Dan di tangannya kini, Arman memegang dua opsi: menyerang secara langsung… atau menunggu waktu yang lebih tepat untuk menjatuhkan pria paling berbahaya yang pernah hidup dalam bayang-bayang Jakarta.
Ia memilih yang kedua.
“Biar dia menikmati sedikit harapan. Lalu, aku akan merobeknya,” katanya dingin.
---